fanfiction

Fanfiction Vampire Knight Part 1 & 2

Black Diamond

This for all fans of Vampire Knight (Matsuri Hino’s), this is like other parts of Vampire Knight’s story. Enjoy this. By: ChiChi_Hsia April 2012  

yuuki and zero

Another Day at Another World

Masa ini baru akan dimulai, masa yang indah. Ada cinta, benci dan ada pengorbanan. Rasa sakit yang dirasakan, mengajarkan aku tentang keberanian. Masa depanku, akan seperti apa?. Seorang pemuda sedang berbicara kepada teman wanitanya di tengah sinar rembulan mereka duduk diatap sebuah rumah. Bulan terlihat sangat terang menyinari mereka. Tiba-tiba gerhana terjadi, bulan yang tadinya menunjukkan cahayanya kini tampak sirna oleh kegelapan. “sudah waktunya.” Katanya pada teman wanitanya, temannya itupun mengangguk. Mereka melompat dari satu atap ke atap rumah lain seperti seorang ninja. Akan tetapi mereka bukanlah seorang ninja. Mereka hanyalah anak SMA. Malam hari ini Elise keluar dari rumahnya dengan tampang lesu dan letih. Ia harus membeli obat untuk ayahnya yang terserang flu. Ini karena dirinya hanya tinggal berdua dengan ayahnya sejak ibu dan ayahnya bercerai. Tetapi layaknya seorang anak yang memiliki orang tua yang masih bersama, begitulah Elise dia tidak kekurangan kasih sayang dari mereka berdua. “huh.. kalau ayah terserang flu dan kemudian menyuruhku untuk membeli obat ditengah malam dingin tanpa terang bulan seperti ini berarti ia mau aku terserang flu juga.” Keluhnya dengan wajah kesal. Dua orang tadi mencari-cari seseorang di suatu tempat, tetapi mereka tidak menemukannya. Mereka hanya menemukan seorang pria separuh baya sedang tertidur di sofa. “tidak ada.” Kata gadis itu sambil menggeleng menatap pada teman prianya. “sepertinya dia sedang tidak ada di rumah.” Katanya lagi. Pria yang sedaritadi memperhatikan foto keluarga di tempat itu mengangguk. “aku mengerti. Dia pasti ada disekitar sini.” “apa ini tidak terlalu berlebihan?. Kalau kita tiba-tiba muncul dihadapannya apa dia tidak akan kaget?.” Tanya gadis itu padanya. “dia mau tidak mau harus kembali. Dia sudah berusia 17 tahun untuk usia seorang manusia.” Katanya. “sudah saatnya dia kembali.” Elise selesai membeli obat dari toko obat dan menguap tanda ia sangat mengantuk. Tiba-tiba saja seorang wanita dan laki-laki muncul dihadapannya. “si..siapa kalian?.” Elise sedikit terkejut dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba turun dari atas. “tidak penting siapa kami, yag terpenting adalah siapa dirimu. Ikutlah bersama kami.” Kata gadis yang berada di hadapan Elise. Elise menggeleng. “aku tidak mengerti maksud kalian?.” Laki-laki itu menghampiri Elise dan menjulurkan tangannya. “ikutlah sebentar bersama kami, kami akan menjelaskannya padamu.” Katanya. “maaf aku tidak mengerti.” Kata Elise yang tiba-tiba berlari menjauhi mereka. Tiba-tiba laki-laki itu sudah muncul didepan Elise dan menghentikan langkah Elise. “putri, kamu tidak bisa lari dari kami.” Katanya lagi. “kumohon jangan membuat aku memaksamu.” “putri?. Memangnya kalian siapa?. Ayahku sedang sakit dan aku harus segera pulang kalau tidak aku akan dimarahi.” Kata Elise lagi. “aku bisa mengurusnya.” Kata perempuan itu. “kau ikutlah bersamanya dulu.” Katanya. “atau jika putri ingin dipaksa.” Katanya lagi dengan nada yang menurut Elise sedikit mengancam. Elise sedikit mengernyit. “baiklah-baiklah, tapi kau akan membawaku kemana?. Dan panggilan itu, namaku Elise” Tanyanya. Laki-laki itu hanya tersenyum dan menjulurkan tangannya lagi, kali ini Elise terpaksa mengikutinya. Sebelumnya laki-laki itu berpesan pada gadis yang sedaritadi menemaninya. “ingatlah untuk cepat pulang, dan… jangan macam-macam dengan manusia kalau kau tidak mau dihukum.” “aku mengerti.” Jawab gadis itu seraya memberikan senyum pada laki-laki itu. Mereka terbang menjadi kelelawar hitam dan menghilang menuju seperti di telan kegelapan gerhana bulan.

***

Elise membuka matanya dan menatap kaget dengan apa yang dilihatnya. “apa ini istana?.” Laki-laki itu menggeleng. “ini sebuah sekolah.” “sekolah?. Sebenarnya kau ini apa?. Apa yang barusan kau lakukan terhadapku?.” Tanya Elise dengan menatapnya aneh. “kau akan tahu kenyataannya bahwa kau sepertiku juga.” Katanya seraya tersenyum pada Elise. “sekolah yang aneh.” Gumam Elise.

***

“dia sudah datang.” Seorang pria separuh baya berkata pada seorang pria yang sedang duduk di sebuah ruangan tua. “aku tahu, aku bisa merasakannya.” Jawabnya. “aromanya.” “pangeran aku harap dengan kedatangannya tidak berdampak buruk bagi Anda.” Katanya. “gadis kecil dan manis seperti dia?. Jangan bercanda.” Katanya itu kemudian mendekati pria tadi itu, pria separuh baya itu bergidik melihat matanya yang merah. “apa kau takut padaku?.” Tanyanya. “sudah berapa lama kau bekerja padaku?.” Tanyanya. “hamba adalah pelayan Anda dari sejak Anda kecil tuan dan saya sedikit tidak suka dengan mata Anda.” Pria muda itu tertawa. “maaf, pergilah.” Katanya, mata merahnya memudar. Pria paruh baya itu akhirnya pergi meninggalkannya. “baiklah pangeran.”

***

“masuklah kedalam.” Perintahnya pada Elise. “tunggu, aku belum mengetahui siapa namamu.” Katanya. “aku harus mengetahuinya.” Elise menjulurkan tangannya. “namaku Elise.” Laki-laki itu tersenyum sembari menerima juluran tangan Elise. “namaku Ken, senang bisa menerima penghormatan darimu.” “penghormatan?.” Elise masih bingung dengan semua yang terjadi. “aku harap mimpi tidak masuk akalku ini segera berakhir.” Katanya sembari masuk kedalam suatu ruangan. Ken hanya bisa tersenyum mendengar ucapan dari Elise. Elise masuk dengan gelisah. “kemarilah!.” Kata seorang wanita cantik yang terlihat berumur 30 tahunan dan sengat ramah, ia mengenakan kacamata, rambut lurus coklatnya dibiarkan terurai. Elise menurutinya. “aku tahu kau pasti bingung. Sudah lama sekali aku tak melihatmu.” “apa kau mengenaliku?.” Tanya Elise. Orang itu mengangguk. “aku kepala sekolah disini. Panggil saja aku kepala sekolah seperti anak-anak lain memanggilku.” Katanya seraya tersenyum. “ini seperti tidak masuk akal untukku.” Kata Elise. “bolehkah aku bangun sekarang?.” Tanyanya. Kepala sekolah tersenyum. “kenapa kau pikir ini mimpi?.” “kau pikir dimana ini?.” “ini duniamu yang sesungguhnya.” Katanya. “mulai besok putri akan mulai bersekolah bersama mereka yang sama dengan putri.” “aku belum mengerti.” “apa kau tidak tahu kalau kau ini adalah seorang vampire?.” Tanyanya. “apa?. Vampire?.” Tanya Elise tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. “putri, kau bukan manusia, kau sama seperti kami.” “lalu ayahku, ibuku, adikku, sudah cukupkan untuk membuktikannya. Aku mohon jangan bercanda.” Kata Elise sambil memaksakan diri untuk tersenyum. “dan lagi aku tidak minum darah.” Katanya. Kepala sekolah tersenyum. “beradaptasilah, mulai besok kau harus mulai masuk sekolah.” “tapi..” “sudah ada yang akan membereskan urusanmu di dunia manusia putri, jadi jangan khawatir.” “tapi aku masih punya banyak pertanyaan.” Katanya. “maka kamu harus mencari jawabannya sendiri.” Kata kepala sekolah pada Elise.

New Day at Vampire Academy

Ayah terjaga dengan obat flu di sebelah ranjangnya. “kenapa dia tidak membangungkanku?. Anak itu.” Gumamnya. “Elise dimana kau?.” Teriak ayah, sadar bahwa tidak ada yang menjawab panggilannya, ayah akhirnya mencari Elise. Ayah mencari Elise di setiap sudut ruangan rumahnya. “dimana anak nakal itu?.” Tanyanya. “Elise.” Ayah mulai terlihat khawatir, ia terhenti melihat sebuah amplop bertuliskan ‘untuk ayah’.

Dari Elise, Ayah maaf tadi pagi aku harus pergi mendadak dan aku akan segera kembali 1 bulan lagi. Aku harus pulang kerumah ibu. Bye-bye ayah, aku menyayangimu. Aku akan menghubungimu lagi nanti. “anak itu, kenapa dia harus pergi mendadak.” Gumamnya lagi sambil melihat amplop surat dari Elise.

***

Elise keluar ruangan dengan tampang lesu, Ken masih menunggunya. “eh kamu masih menungguku?.” Tanyanya. “apa ini sudah pagi?.” Ken mengangguk. “tunggu dulu, bagamana dengan ayahku?.” “ayahmu?. Dia bukan ayahmu.” Kata Ken. “apa maksudmu?.” Tanya Elise tidak mengerti. “aku antar kau ke kamarmu.” Kata Ken tidak menjawab pertanyaan Elise. “eh tapi jawab dulu.” Kata Elise. “aku sudah membereskannya putri.” Jawab gadis yang ditemui Elise semalam tadi bersama dengan Ken. “kamu?.” Tanya Elise. Gadis itu tersenyum. “jangan khuwatirkan ayahmu selama sebulan ini, kamu bisa menemuinya sebulan lagi asal kamu menuruti perintah kepala sekolah untuk sekolah disini. Kalau kamu mau selamat.” Kata gadis itu, Elise mengernyit lagi mendengar ancaman gadis itu. Ken menyikut gadis itu. “jangan bercanda seperti itu.” Gadis itu hanya tertawa lebar. “kau takut aku dihukum karena mengancam seorang putri yang bahkan tidak tahu identitasnya?.” Tanyanya pada Ken, Elise hanya mendengarkan mereka tanpa mengerti maksud dari pembicaraan mereka. “kau ini.” Kata Ken. Masih dengan tawanya yang lebar. Ia memperkenalkan diri. “mungkin kita bisa menjadi teman. Namaku Gwen.” Katanya pada Elise. Elise tersenyum. “aku sudah tahu namamu.” Kata Gwen sembari meninggalkan mereka. “jangan didengarkan, dia memang suka mengancam.” Kata Ken. “aku tidak percaya ini sekolah vampire.” Kata Elise pada Ken. Ken menoleh. “kenapa?.” “kalian seperti pemakan makanan dibandingkan penghisap darah.” Kata Elise. Kali ini Ken yang tertawa lebar, sekali lagi Elise mengernyit. “kami memang bukan penghisap darah, kami punya rahasia.” Katanya, sembari meninggalkan Elise. “sedang apa kau, ayo!.” Ajaknya.

***

“tidurlah, nanti malam kita akan ada kelas.” Kata Ken. Elise hanya menatap Ken. “ini pagi.” Kata Elise. “kau harus menyesuaikan. Kau lupa kami vampire.” Kata Ken. “tapi aku bukan vampire.” Sangkal Elise. Sekali lagi Ken tertawa. “kau sungguh lucu.” Katanya sambil mencubit pipi Elise. Elise melihat senyum Ken dengan terpesona. “putri kau harus tidur, bukankah tadi kau masih belum tidur, masuklah!.” Kata Ken sembari meninggalkan Elise. Elise menatap ruangan itu, ia merinding menatap ruangan itu. Suasana dingin menyelimutinya padahal ia tahu bahwa ini pagi akan tetapi tidak ada cahaya matahari yang menyinari istana ini. Akhirnya Elise memberanikan diri membuka pintu kamarnya. Gelap hanya itu yang ada difikirannya. Ia masuk dan menyalakan lampunya yang remang-remang. Aku pikir mereka salah orang. Pikir Elise. “vampire tidak pernah salah.” Kata seorang gadis yang tiba-tiba muncul dibelakang Elise membuatnya kaget. “si…siapa kau?.” Tanya Elise gugup. Ia bisa membaca pikiran Elise. “aku teman sekamarmu. Namaku Ruka. Kau ini seorang pureblood rupanya. Seorang putri tunggal. Menarik.” “apa?.” Tanya Elise tak mengerti. “tapi sayang ia kelihatan tolol.” Kata Ruka. “apa katamu?. Kelihatan tolol?.” Tanya Elise. “aku mau tidur dan ingat jangan berisik!.” Perintah Ruka pada Elise. Elise menatap tempat tidurnya yang bersebelahan dengan tempat tidur Ruka. Tempat tidur yang dipenuhi oleh renda-renda menambah suasana aneh baginya. Elise memaksakan dirinya untuk memejamkan matanya tapi sekeras apapun ia mencoba ia tetap tidak bisa terlelap. Ia hanya sedikit khawatir dengan segala yang menimpanya. Ini serasa seperti mimpi yang sangat buruk.

***

“pangeran kenapa Anda belum tidur?.” “aku membayangkan seperti apa wajahnya.” “pangeran, sebaiknya Anda tidur. Nanti malam akan ada kelas pertama.” “aku tahu, apa aku harus menyapanya dengan senyuman?.” “itu terserah Anda.” “ini sangat menarik, gadis itu sangat menarik.” “itu benar pangeran. Dia gadis yang menarik.” “pergilah, aku akan segera tidur.” “baiklah.”

***

“ini seragammu.” Kata Gwen yang tiba-tiba datang ke kamar Elise. “pakailah, kepala sekolah yang menyuruhku untuk memberikannya padamu.” Katanya ketus. Elise menerimanya dengan enggan. “Gwen kau terlihat akrab dengannya.” Kata Ruka. “memangnya kenapa?.” Tanya Gwen . “kau seperti penjilat yang tidak tahu diri.” Kata Ruka. “kau?.” Gwen seperti terbawa emosi tapi akhirnya bisa mengontrolnya. “aku tahu, lebih baik menjadi penjilat-kan daripadi menjadi wanita yang selalu mengikuti pria yang jelas-jelas tidak menyukainya.” “apa katamu?.” Tanya Ruka marah. Elise hanya bisa memperhatikan pertengkaran mulut ini. Ia menatap mata Ruka yang berubah menjadi keemasan. “kau hanya bisa menggertak dengan matamu itu, apa mau kau mengakuinya?.” Tanya Gwen. Ruka terdiam, mata merahnya terlihat memudar. “ayo Elise, ganti bajumu. Aku akan mengantarkanmu. Aku tunggu kau di luar.” Katanya. Elise hanya mengangguk mengiyakan dan menurutinya. Elise sudah selesai berganti baju dan Gwen mengantarkannya menuju ke kelas barunya. “ini kelasmu.” Katanya. “kelasku?. Lalu dimana kelasmmu?.” Tanya Elise pada Gwen. Gwen tersenyum. “kau dan aku berbeda kelas. Aku B dan kau A.” Jelas Gwen. “kenapa?.” Tanya Elise. “itu menunjukkan tingkatan di kelas sosial vampire.” Kata gwen. “lalu kenapa aku kelas A?.” Tanya Elise lagi. “aku bahkan seorang manusia.” Gwen hanya tersenyum. “masuklah, aku harus pergi.” Katanya. Elise terdiam di depan kelas. Ia melirik kedalam, di lihatnya anak-anak yang suatu hari akan menjadi temannya. Mereka terlihat aneh. Katanya dalam hati. Seorang gadis menatapnya. “apa katamu?.” Teriaknya. “eh. Aku?.” Tunjuk Elise pada dirinya sambil masuk kedalam kelas, teriakan gadis itu menggema. Semua siswa yang ada di dalam kelas memperhatikan Elise. “iya, kau bilang kami aneh?.” Tanyanya. “aku tidak mengatakannya.” Kata Elise tersenyum. Ruka yang ada disana tersenyum. “kau tidak bisa dengar, ia tidak mengatakannya. Tapi itu kata hatinya.” Kata Ruka membela Elise, Elise hanya tersenyum pahit. “kau tidak bisa mengontrol kata-kata bodohmu itu.” Kata Ruka pada Elise. Elise membesarkan matanya menatap Ruka yang sering menghinanya. “kau harus menghormatinya, karena dia adalah pureblood.” Anak-anak yang sedaritadi memeperhatikannya serasa menghindari bertatapan mata dengan Elise. Gadis tadi menghampirinya. “putri, maafkan atas kelancanganku tadi.” “eh.” Kata Elise sedikit merasa tidak karuan. Hanya anggukan dan senyuman kecil yang dapat dilakukannya. Ia menatap kesekelilingnya, berharap mendapatkan bantuan. Ia mencari dan akhiranya ia menemukan Ken. Ia menghampiri Ken. “bolehkah aku duduk disampingmu?.” Ken menggeleng. “apa?. Kenapa? Kupikir kita berteman.” Kata Elise. “kita tidak mungkin bisa berteman.” Kata Ken singkat.

***

Kepala sekolah masuk. Semua siswa kelas A menjadi tenang. Ken menyuruh Elise pergi ke kepala sekolah. “kalian tentu tahu bahwa ada siswa baru yang akan ada di kelas ini. Perkenalkan namamu.” Perintah kepala sekolah kepada Elise. “namaku Elise.” Kata Elise, mereka semua memandangnya. “dia adalah salah satu penerus pureblood.” Kata kepala sekolah menjelaskan. “aku harap kalian tahu dimana tempat kalian.” Mereka semua mengangguk mengerti. “tapi aku bukan seorang vampire.” Sela Elise, semua siswa disana kaget dan tertawa mendengarnya. “kenapa kalian tertawa aku seorang manusia?.” Kata Elise sekali lagi. Seorang pria masuk. “vampire yang tidak tahu akan jati dirinya adalah vampire yang paling menjijikan di dunia.” Kata pria itu. Mereka yang tadinya ramai menjadi diam seketika dengan kehadirannya. “siapa kau?.” Tanya Elise. Laki-laki itu hanya tersenyum. “aku mirip sepertimu, tapi kita berasal dari keluarga yang berbeda.” Katanya sembari duduk. “biarkan dia duduk disebelahku kepala sekolah.” Kepala sekolah tersenyum. “baiklah pangeran jika itu keinginanmu.” Katanya. “pindahlah.” Perintah pria itu pada Ruka, Ruka tidak terima tetapi akhirnya menuruti perintahnya. “duduklah, namaku Ethan.” Katanya . Elise duduk. “apa peduliku?.” Kata Elise sewot. Ethan tersenyum. “kau seoarang manusiakan?.” Tanyanya. Elise tercengang, ia mengangguk. “seperti apa kehidupanmu disana?.” Tanyanya. “aku bahagia, sebelum aku datang ketempat aneh ini.” Ethan hanya bisa tertawa. “kenapa kau tertawa.” “kau akan menyadari nanti kalau kau berbeda dengan mereka, banyak reaksi yang akan kau dapatkan. Pertama kau akan merasa bangga menjadi seperti kami atau kau malah jijik akan dirimu sendiri.” Elise seperti tidak dapat mengerti hal yang barusan diutarakan oleh Ethan. “aku tidak paham.” “kau akan paham nanti.” “paham?. Kenapa semua orang mengatakan seperti itu?.” Kata Elise mendesah. Ia mengikuti pelajaran disana.

to be continued… 

 

Note:
Beri komentar yah, jangan copas. Kalau mau menampilkan di blog Anda silakan beri link hidup, capek tahu buatnya.. hufff.. ini buat yang mengerti, jadi kalau kalian mau bangga sama blog kalian jangan ngambil milik orang lain, aku bangga sama tulisanku meskipun tidak terlalu bagus karena ini orisinil. Aku prihatin sama banyak orang yang malah tidak mengerti apa itu hak cipta, dari pengalaman yang pernah aku baca bahkan para author memutuskan untuk tidak melanjutkan karya mereka karena karya mereka di tampilkan tanpa seijin atau malah di diakui oleh orang lain. Yang rugi malah para pembaca sendiri. Aku sebagai pembaca dan juga penulis baru merasa kecewa, tapi aku percaya kepada kalian para pembaca.

 

2 thoughts on “Fanfiction Vampire Knight Part 1 & 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s