fanfiction

Fanfiction Vampire Knight Part 11 & 12

Start From Now On

“kau tahu bedanya nyamuk dengan vampire?.” Tanya Ken pada Ethan. Ethan terdiam dan tidak bergeming. Ia tetap membelakangi Ken. “apa kau sedang mengujiku?.” Tanyanya. “lepaskan Elise.” Kata Ken. “untuk apa kau mengatakan hal yang aneh seperti ini?.” Tanya Ethan sambil membalikkan badannya mengahadap Ken. “kau tahu dia tidak menyukaimu.” Kata Ken. Ethan marah dan memandang Ken dipenuhi emosi. “dia bahkan tahu bahwa takdirnya adalah aku.” Elak Ethan. Ken tertawa mengejek. “takdir?. Seorang vampire sepertimu percaya pada hal yang tidak masuk akal seperti itu?.” Ejeknya. Ethan sangat marah dan mencekik leher Ken dengan menatapnya menggunakan mata merahnya. “apa kau bilang?. Aku adalah pureblood dan aku adalah tuanmu.” “itu yang sedang aku pertanyakan.” Kata Ken pada Ethan sabil tersenyum, ken menyingkirkan tangan Ethan dari lehernya. “kalau begitu kau sekarang tahu apa bedanya nyamuk dengan kita?. Nyamuk membutuhkan darah untuk bertahan hidup.” Ken menjauhi Ethan dan mengambil segelas air kemudian memasukkan kapsulnya dan meminumnya. “sedangkan kita membutuhkan darah untuk saling mencintai dan memahami.” Katanya sambil tersenyum sinis pada Ethan. Ia berbalik menghadap Ethan lagi. “kita bubarkan sekolah ini.” Katanya. Ethan tertawa mengolok Ken. “apa yang sedang kau katakan sekarang?.” Tanyanya penuh dengan kemarahan. “setelah permata itu keluar dari tubuhnya akan ada perang vampire, aku akan membawanya pergi dengan permata itu.” Jelas Ken. Ethan semakin tertawa mengejek Ken. “lantas kemana kau akan bersembunyi?.” Tanyanya penasaran. “aku tidak akan pernah sembunyi, aku akan terus mengawasimu.” Lalu ia meninggalkan Ethan yang masih marah setelah merasa tidak dihargai sebagai pureblood. Ruka masuk dan menatap Ken. Ken berhenti sejenak menatap Ruka dan memandangnya. “semoga kau mengerti apa yang dimaksudkan kesetiaan.” Kata Ken pada Ruka. Lalu meninggalkan mereka berdua.

 ***

“putri apa kau baik-baik saja?.” Tanya Rose. Elise mengangguk. “aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.” “apa itu putri?.” Tanyanya pada Elise. “aku ingin kau meminta kepala sekolah untuk mempercepat kunjunganku kedunia manusia, entah bagaimanapun caranya. Aku harus bertemu dengan Gwen.” Katanya. “apa kau bisa melakukannya?.” Tanya Elise. Rose mengangguk. “aku akan melakukannya sebisaku, aku akan membujuk kepala sekolah. Aku akan menuruti perintahmu.” Katanya. “baiklah, sekarang setelah kita pergi kedunia manusia aku akan bersamamu dengan Arnold. Aku ingin kalian menjagaku.” Kata Elise. Rose tersenyum. “tentu, kepercayaan putri adalah suatu kewajiban untukku, aku akan mengatakannya kepada Arnold.” “pergilah.”

***

“sepertinya kau merasa haus?.” Tanya Ruka pada Ethan. “pergilah!.” Bentak Ethan. “aku sedang lelah.” “aku akan memberikan darahku untukmu.” Kata Ruka pada Ethan mencoba untuk membujuknya. “aku bilang pergi!.” Sentak Ethan pada Ruka dengan nada yang lebih tinggi. “Ethan.” “yang aku inginkan sekarang bukan darahmu tapi darahnya.” Katanya. “kalau begitu kau sudah tidak membutuhkanku lagi.” Gumam Ruka sedih terhadap perlakuan Ethan. “maafkan aku, aku mohon pergilah. Aku ingin sendiri.” Jawab Ethan. Ruka pergi meninggalkan Ethan dengan berat hati dan merasa sangat sedih akan perlakuan Ethan terhadapnya. “maaf aku tidak dapat membuatmu bahagia.” Katanya. Meninggalkan Ethan yang terduduk diam sedang memikirkan sesuatu.

***

Elise berjalan menuju ke tempat Ethan, ia memperlambat langkahnya. Ia bertemu dengan Ruka. “kebetulan sekali kita bertemu padahal aku ingin sekali mencarimu.” Katanya pada Elise. Elise menoleh pada Ruka. “ada apa?. Apa ada sesuatu yang penting?.” Tanyanya. Ruka menggeleng. “aku hanya ingin mencarimu untuk Ethan.” Katanya sambil berlalu. Elise bingung dengan sikap Ruka yang ditujukan kepadanya. Elise berjalan masuk kedalam ruangan Ethan. “aku ingin berbicara denganmu.” Katanya. Ethan terdiam lalu berjalan mendekati Elise. “ada apa?.” Tanyanya. “apa kau sakit?. Kalau begitu aku akan kembali lagi besok. Istirahatlah.” Kata Elise berbalik badan meninggalkan Ethan. Ethan memeluk Elise dari belakang. “apa kau tahu aku hanya menginginkan darahmu?. Aku haus, sangat haus berikan aku darahmu.” Elise mendorong Ethan menjauhinya, ia menatap Ethan. Elise menggeleng. “tidak, aku tidak mau memberikannya padamu.” Katanya sembari meninggalkan Ethan yang menatapnya penuh amarah. “sebaiknya kau memintanya pada Ruka.” Katanya sebelum akhirnya meninggalkan Ethan. “sekarang kau berani melawanku huh?.” Gumam Ethan sambik menertawakan dirinya sendiri. “peperangan ini dimulai dari sekarang.” Katanya lagi. “kau yang telah membunyikan lonceng perangnya.”

My Lovely Prince

Elise berjalan didampingi Rose dan Arnold. “semua akan berjalan baikkan?.” Tanyanya pada mereka, merekapun mengangguk. “baiklah kalian boleh pergi dulu, aku akan menemui ayahku.” Katanya. Mereka mengangguk mengerti dan pergi meninggalkan Elise. Elise berjalan perlahan mendekati rumah ayahnya. Ia menatap kesekelilingnya. “baru sebulan aku meninggalkan dunia ini, sudah terasa asing bagiku.” Katanya pada dirinya sendiri. Ia melangkah kerumahnya. Elise menatap kunci rumah yang ia pegang. Lalu buru-buru membuka pintu rumahnya. Elise hendak membuka pintu rumahnya ketika ia menyadari ada orang dibelakangnya. “apa aku boleh ikut masuk?.” Tanyanya. Elise terlonjak kaget dan berbalik melihat sosok orang yang ada dibelakangnya itu. “Ken?.” Tanyanya shock. “kenapa kau bisa berada ditempat ini?.” Tanyanya lagi. Ken tersenyum. “bukankah aku yang menjemputmu malam itu, jadi aku tahu tempat ini.” Katanya. Elise terlihat masih belum mencerna kata-kata Ken. Tiba-tiba pintu dibuka. “siapa disana?.” Tanya ayah Elise. “Elise?.” Elise mengangguk mengiyakan lalu berbalik memeluk ayahnya. “ayah apa kabar?.” Tanya Elise yang sangat senang dapat melihat ayahnya. Ayah juga sangat senang melihat Elise baik-baik saja. “ayah baik-baik saja, ayo masuk.” Kata ayah melepas pelukan Elise. “eh, siapa pria dibelakangmu itu?.” Tanyanya pada Elise. “eh.” Jawab Elise singkat. Elise tampak bingung akan menjawab apa. “apa kabar ayah, aku pacar Elise.” Kata Ken memperkenalkan. “apa?.” Tanya ayah dan Elise bebarengan. “kau memanggilku apa tadi?.” Tanya ayah, Elise hanya dapat diam tanpa dapat mengatakan apa-apa. Ken tersenyum. “ayah.” Ulangnya lagi. “dan tadi kau siapa?.” Tanya ayah lagi pada Ken. “aku adalah pacar Elise.” Jawab Ken sembari tersenyum. Elise hanya bisa menghela nafas. “apa itu benar?.” Tanya ayah pada Elise. Elise hanya dapat tersenyum dan hal itu dianggap ia oleh ayahnya. “masuklah.” Ucap ayah pada Elise dan Ken.

***

Elise dan Ken duduk-duduk diruang tamu. “kenapa kau seperti ini?.” Tanya Elise padanya. “apa?.” Tanya Ken sembari memakan kue kering yang ada di meja tamu. “kenapa kau mengatakan kalau aku adalah pacarmu?.” Tanya Elise lagi. “apa kita bukan?.” Tanya Ken pada Elise yang membuat Elise tambah bingung menjawabnya. Ken mendekati Elise dan membisikkan sesuatu ditelinga Elise. “apa kau malu?.” Tanyanya. Elise semakin salah tingkah dibuatnya. “apa?.” Ken jelas-jelas menikmati permainannya, beberapa kali ia tampak tersenyum melihat tingkah Elise. “berhenti bergurau.” Kata Elise sembari mendorong Ken untuk menjauh darinya. “ayah, sini biar aku bantu bawakan.” Kata Elise melihat ayahnya membawa minumam untuk mereka. Mereka bertiga duduk di ruang tamu. “ayah bagaimana keadaan ayah?.” Tanya Elise memulai pembicaraan. “kau masih berani bertanya seperti itu setelah meninggalkan ayahmu sendiri tanpa pamit.” Kata ayah acuh. “ayah.” Rayu Elise. “ayah aku mendapatkan beasisiwa belajar di Paris, impianku akan terwujud.” Kata Elise sambil tersenyum memcari alasan. “apa di Paris?. Apa kau ingin pergi dan meninggalkan ayah sendiri?.” Tanyanya pada Elise. “apa ayah tidak senang mendengarnya?. Ini kan impianku yah.” Kata Elise. Ken hanya mendengarkan pembicaraan antara anak dan ayah itu. “ayah tentu senang.” Kata ayah. Elise tersenyum lalu memeluk ayahnya. “baiklah, itu artinya ayah mengijinkanku pergi kesana.” Ayah mengangguk dengan terpaksa. “kapan kau akan kesana?. Apa ibumu sudah tahu?.” Tanyanya. “besok aku akan berangkat, aku akan mengirim surat untuk ibu karena aku tidak sempat mengatakannya.” “apa?. Secepat itu?.” Tanya ayah kaget. Ken menatap Elise, ia tahu kalau Elise terlihat sedih mengatakan hal ini. Elise mengangguk. “maafkan aku secara mendadak ayah, aku akan sering pulang.” Katanya sambil berkaca-kaca. Ayah menghela nafas. “baiklah, kau sudah besar dan dewasa. Kau harus menentukan hidupmu sendiri.” Elise menangis dan semakin erat memeluk ayahnya. “maafkan aku ayah aku harus meninggalkan ayah sendiri disini.” “kau ini kenapa cengeng sekali, kau masih bisa melihat ayahkan. Yang penting itu adalah impianmu dimasa depan nanti.” Kata ayah menasehati. “sudah, sekarang ceritakan siapa pria ini?.” Kata ayah pada Elise. “halo paman, kami baru berpacaran.” Sapa Ken pada ayah. “apa kau mencintainya?.” Tanya ayah pada Ken, Elise jadi kikuk dibuatnya. Ken mengangguk. “aku akan melindunginya.” Katanya sembari tersenyum pada Elise. Elise menundukkan kepalanya. “baguslah, aku tahu Elise pertama kalinya membawa pria kemari.” Kata ayah. “ayah.” Elise malu mendengar hal itu. “sudahlah, ayo kita makan.” Ajak Elise.

***

Elise menyiapkan hidangan di meja makan, ayah dan Ken sedang ngobrol. “aku jadi ingin tahu apa yang mereka bicarakan.” Gumam Elise. “makanannya sudah siap.” Teriak Elise. Ayah dan Ken menuju meja makan dan duduk berhadapan, Elise duduk disebelah ayah. “makanlah ayah.” Kata Elise. “tamu dulu.” Kata ayah menyilakan Ken untuk makan dahulu. Ken mengangguk. “baiklah.” Katanya sembari mengambil lauk dan makan dahulu. Elise manatap Ken. Saat pandangan mereka beradu, rasanya seperti ada angin sejuk yang mengalir dihati Elise. “enak, silakan ayah.” Kata Ken sembari tersenyum. Ayah mulai memakannya. “masakan Elise memang lezat, aku pasti akan merindukannya nanti.” Elise terdiam menatap ayah. “aku janji aku akan sering-sering mengunjungi ayah.” Elise terdiam seperti sedang ingin menangis, tapi ia menahannya.

***

“masakanmu benar-benar lezat.” Puji Ken yang berjalan berdampingan dengan Elise meninggalkan rumah ayah. Elise terdiam. “bukankah darah lebih nikmat?.” Tanya Elise pada Ken sambil berlinang air mata. Ken menggeleng. “makananmu lebih enak.” Kata Ken tersenyum sembari mengacungkan jempolnya menghibur Elise. Air mata Elise tumpah, ia sudah tidak tahan lagi. Elise memeluk Ken. “ayahku adalah ayah terbaik di dunia. Aku takut meninggalkannya sendiri, ia sedang sakit-sakitan.” Kata Elise. Ken mengerti dan memeluk erat Elise. “ia pasti akan baik-baik saja.” Ken menatap Elise. “bagaimana aku bisa menghiburmu?.” Tanyanya. Elise terdiam dan menatap Ken. Ken mencium bibir Elise, Elise menerimanya. Mereka berciuman dibawah sinar rembulan. “aku mancintaimu.” Gumam Ken. Elise manatapnya. “terimakasih, aku juga.” Elise tersenyum lalu mameluk Ken lagi. “terimakasih banyak.” Katanya lagi. Ken tersenyum. “jangan sedih lagi. Ayahmu akan baik-baik saja, ia orang yang kuat.” Katanya membelai kepala Elise.

***

“benar dia orang yang kuat.” Terdengar dari kejauhan suara wanita yang tidak asing lagi, ia mendekat pada Ken dan Elise. Wanita itu memakai jubah dan menutupi seluruh tubuhnya serta kepalanya. Ia membuka tutup kepalanya itu. “putri.” Katanya sembari tersenyum. “Elise, Ken.” Panggilnya. Elise dan Ken senang dengan apa yang mereka lihat. “Gwen.” Kata Elise sembari berlari memeluk Gwen. “aku tahu kau pasti akan datang.” Elise sangat bahagia dengan kedatangan Gwen. “aku menepati janjiku putri.” Kata Gwen seraya tersenyum. Ken tersenyum melihat kedua sahabat itu bertemu, ia melambaikan tangan pada Gwen. “hai.” Sapanya pada Gwen. “aku senang kalian bersama.” Kata Gwen. “bukan bersama Ethan.” Sesaat tampak sorot kesedihan dalam mata Gwen. “maafkan aku, saat itu aku tidak ada disampingmu.” Gumam Elise. Gwen menggeleng. “ini bukan salahmu, ayo kita cari tempat untuk berbicara.” Ajak Gwen pada Elise dan Ken. Mereka mencari tempat untuk berbincang-bincang.

***

“kupikir kalian berdua harus segera keluar dari sekolah sebelum malam saat permata itu keluar, sekolah bukanlah tempat yang aman lagi sekarang.” Kata Gwen menjelaskan pada Ethan. “mungkin akan ada kehancuran kaum darah campuran atau sebaliknya. Setidaknya itu yang aku tahu.” “jadi kau memutuskan keluar dari sekolah untuk mencari informasi?.” Tanya Ken. Gwen mengangguk. “banyak desa-desus yang bermunculan di antara masyarakat, ada yang ingin sejarah kembali terulang. Mereka ingin pemerintahan diatur oleh para vampire pureblood dan sebagian lagi ingin mereka bisa hidup bebas tanpa ada yang berkuasa dan tertindas.” Elise menatap pada Gwen. “apa itu artinya mereka ingin vampire pureblood dihancurkan?.” Tanyanya. Gwen mengangguk. “maka dari itu, kita akan tahu musuh kita saat permata itu keluar dari tubuhmu putri.” Kata Gwen menghela nafas. “mungkin sekarang mereka masih mengawasi kita dari jauh.” Ken menatap Elise. “jangan takut, jika waktunya tiba mereka akan menunjukkan diri mereka dengan sendirinya.” Katanya. Elise mengangguk. “aku tidak akan takut selama ada kalian.” Elise tersenyum lalu meneguk minuman hangatnya.

to be continued..

 

Note:
Beri komentar yah, jangan copas. Kalau mau menampilkan di blog Anda silakan beri link hidup, capek tahu buatnya.. hufff.. ini buat yang mengerti, jadi kalau kalian mau bangga sama blog kalian jangan ngambil milik orang lain, aku bangga sama tulisanku meskipun tidak terlalu bagus karena ini orisinil. Aku prihatin sama banyak orang yang malah tidak mengerti apa itu hak cipta, dari pengalaman yang pernah aku baca bahkan para author memutuskan untuk tidak melanjutkan karya mereka karena karya mereka di tampilkan tanpa seijin atau malah di diakui oleh orang lain. Yang rugi malah para pembaca sendiri. Aku sebagai pembaca dan juga penulis baru merasa kecewa, tapi aku percaya kepada kalian para pembaca.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s