fanfiction

Fanfiction Vampire Knight Part 3 & 4

We are different

Kelas membosankan untuk Elise akhirnya bubar. Elise mendongak untuk melihat Ken. Kemudian langsung mengejarnya. Ethan memperhatikannya. Ruka menghampiri Ethan yang sedang duduk menatap kepergian Elise. “kenapa?. Aku rasa dia bukan pureblood. Dia terlihat bodoh.” Katanya pada Ethan.
“bodoh?.” Ethan menatap Ruka. “jangan sekali-kali kau mengatakan hal seperti itu lagi dihadapanku.” Katanya meninggalkan Ruka.
Ruka mengejar Ethan. “maafkan aku, aku berkata sembarangan. Apa artinya dia untukmu?.” Tanya Ruka pada Ethan, ia terus mengikuti Ethan.
“dia?. Dia sama sepertiku satu-satunya pureblood dalam rasnya.” Kata Ethan.
“lalu kau merasa seperti dia?. Bahkan kau tahu dia tidak menyadari identitasnya sendiri.” Bentak Ruka.
“Ruka berhentilah atau kau akan terluka.” Kata Ethan melihat Ruka menggigit tangannya.
Ruka menunjukkan apa yang baru saja ia lakukan pada Ethan. Mata Ethan berubah menjadi merah seketika melihat darah yang mengalir dari tangan Ruka. “aku bahkan telah memberikan darahku untukmu, apa bagimu itu masih kurang?. Aku mencintaimu dengan tulus.” Kata Ruka.
Ethan menarik lengan Ruka, ia menjilat darah yang keluar dari tangan Ruka. “tentu saja kau berarti, tapi sayang sekali…” Ethan tidak meneruskan perkataannya ia mendekati Ruka dan menusukkan taringnya keleher Ruka. Ruka terlihat kesakitan tetapi berusaha untuk menahannya.
“aku bahkan rela mati untukmu, Ethan.” Katanya pelan.

***

Elise mengejar Ken. “tunggu Ken, kenapa kau terus menghindariku?. Ken!.” Teriaknya sembari berlari mengikuti langkah panjang Ken. “aku ada banyak pertanyaan untukmu.”
Ken berhenti. “kau dan aku berbeda. Kau dapat memerintahku. Temanmu adalah pria yang duduk disebelahmu tadi, mengerti?.” Katanya sembari berjalan lagi.
Elise tetap mengejarnya. “aku tidak mengerti itu sama sekali.” Langkah Ken terhenti bukan karena Elise tapi karena apa yang barusaja dilihatnya.
“Ruka.” Gumamnnya. Elise terlihat kaget dengan apa yang baru saja ia lihat. Ken membawa Elise pergi dari pemandangan itu. Elise masih sedikit tidak percaya dengan yang baru saja ia lihat. “kau baik-baik saja?.” Tanyanya. Sejenak mata Ken berubah menjadi keemasan, kemudian memudar.
“tadi itu apa?.” Tanya Elise setengah bergidik membayangkan apa yang baru saja ia lihat.
“kau tidak boleh melihat hal seperti itu atau kau juga akan haus.” Kata Ken. “sekarang kau tahukan kami itu apa. Apa kau masih tidak percaya?.” Tanya Ken.
Elise menggeleng. “aku tidak mengerti, kenapa kalian meminum darah orang yang kalian kenal?. Bukankah itu namanya menyakiti orang tersebut?.”
“karena seperti itulah takdir kami.” Kata Ken.
“takdir?.” Kata Elise.
“kenapa tanganmu bergetar?. Apa kau takut?.” Tanya Ken khawatir melihat tangan Elise yang bergetar tidak karuan.
Elise menggeleng. “aku bahkan tidak mengerti apa yang aku rasakan ini.” Jawabnya.
Ken memberikan sebuah botol yang di dalamnya berisi kapsul kepada Elise. “ini untukmu.” Katanya.
Elise enggan menerimanya Ken memaksanya. “kalau kau merasa ada sesuatu yang tersumbat di tenggorokkanmu, kau bisa meminum ini.” Katanya.
Elise memandangnya. “apa ini?.” Tanyanya.
“rasanya memang tidak enak, tapi akan menghilangkan rasa itu.” Kata Ken sembari meninggalkan Elise.
Elise berdiri dan setengah berteriak. “hey, aku tidak membutuhkan ini.” Katanya.
Langkah Ken terhenti. “kau bisa tidak meminumnya, kami tidak diperbolehkan meminum darah. Tapi, untuk pureblood itu suatu pengecualian.” Katanya sembari meninggalkan Elise yang diam menatap botol yang telah dipenuhi kapsul itu.

***

Elise melangkahkan kakinya dengan enggan menuju ke kamarnya, ia terlihat sangat takut akan bertemu dengan Ruka. Ia perlahan-lahan membuka pintu kamar asramanya. “bau apa ini?.” Tanyanya pelan seakan bertanya pada dirinya sendiri.
“apa kau menciumnya?. Padahal aku sudah mandi.” Kata Ruka yang baru keluar dari kamar. “aku takut membuatmu merengek meminta minum, makanya aku mandi.”
“aku bukan vampire, jadi tidak tahu seperti apa bau darah itu.” Kata Elise.
Ruka hanya tersenyum sinis mendengarnya. “kau harus segera bangun, atau permata hitam itu akan merasuki tubuhmu lebih dalam lagi.” Kata Ruka.
“apa permata hitam?. Apa maksudmu?.” Tanya Ruka.
Ruka hanya tersenyum. “aku?. Aku tidak berkata apa-apa. Aku bahagia sekarang, jadi mungkin aku ngelantur karenanya.” Kenapa dia bisa bahagia padahal disakiti. Kata Elise dalam hati. “kenapa kau sulit mengendalikan hatimu?. Aku bisa mendengarnya, apa kau melihatnya?.” Tanya Ruka.
Elise mengangguk. “hm..”
“bagi vampire bisa merasakan taring vampire yang kau cintai masuk kedalam tubuhmu adalah sesuatu yang harusnya dirayakan.” Katanya sembari tidur. “aku harus segera tidur, tidak ada gunanya mengatakan hal ini padamu. Kau tidak akan mengerti.” Katanya sembari memejakan mata.

***

Elise berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan para vampire. Ia berusaha untuk memejamkan matanya. “aku harus bertahan setidaknya untuk sebulan kedepan. Iya bulan depan aku bisa bertemu dengan ayah.” Gumamnya. “kenapa bau ini terus merasukiku. Tenggorokkanku terasa mulai panas.” Elise menatap botol pemberian Ken dan ia teringat akan apa yang dikatakan olehnya. Ia akan mencobanya kemudian mengurungkan niatnya. “aku kan bukan salah satu dari mereka, aku hanya merasa sakit tenggorokan saja.” Katanya. “lebih baik aku keluar mencari udara segar.
Elise keluar dari kamarnya. Ia melihat Gwen. “sssttt..” perintah Gwen. Elise mengangguk. “sedang apa kau?.” Tanyanya pada Elise.
“kau sendiri sedang apa?.” Tanya Elise.
“aku tidak bisa tidur.” Keluhnya. “kenapa kau keluar bukankah tidak boleh?.” Kata Gwen.
“kau sendiri?.” Ulang Elise.
“aku sedang menyelinap.” Katanya sambil tertawa cengil. Gwen menatap botol kapsul yang sedang dipegang Elise. “darimana kau mendapatkannya?.” Tanya Gwen.
“Ken.” Katanya.
“apa kau haus?.” Tanya Gwen.
Elise menggeleng. “mana mungkin.” Katanya.
Gwen hanya tertawa. “kau, sampai kapan kau menyangkal dirimu sendiri?.” Gwen terdiam.
“ada apa?.” Tanya Elise sembari melihat apa yang dilihat oleh Gwen.
Ethan datang dan tersenyum. “pergilah aku tidak akan melaporkanmu kali ini.” Kata Ethan.
Gwen mengganguk dan pergi. “baiklah, aku harap kau memegang janjimu.” Katanya.
Ethan mengangguk. “tentu aku tidak pernah berbohong.” Katanya.
“Elise kembalilah kekamarmu juga!.” Kata Gwen pada Elise, Elise mengangguk menyetujuinya.
“tidak, aku akan bicara dengannya terlebih dahulu.” Kata Ethan pada Gwen, Elise kaget sekaligus takut pada Ethan.
“tidak, biarkan dia kembali juga.” Kata Gwen. Elise mengangguk.
“kau pikir kau siapa?.” Tanya Ethan meninggikan suaranya. Elise kaget akan apa yang terjadi.
“kau.” Gwen menunjukkan gigi taringnya.
“pergilah!.” Bentak Ethan, matanya berubah menjadi merah darah.
Gwen seakan sadar. “maafkan aku, aku kan segera pergi, maaf.” Katanya.
Gwen meninggalkan Ethan dan Elise berdua. “kenapa?. Kau takut padaku?.” Tanya Ethan yang melihat Elise daritadi terdiam.
Elise menggeleng. Kemudian mengangguk. Ethan tersenyum. “kau masih seperti terakhir kali aku melihatmu.” Katanya sambil membelai rambut Elise.
Elise mendongak. “apa maksudmu?.” Tanyanya pada Ethan.
“jangan bergaul dengan mereka. Kita ini berbeda.” Kata Ethan.
“yang aku tahu aku dan kau yang berbeda, kau monster dan aku manusia.” Kata Elise seraya membentak Ethan.
“kenapa kau membentakku?. Apa kau marah padaku?.” Tanya Ethan pada Elise.
Elise menggeleng. “untuk apa?.” Ethan tertawa. “apa itu lucu?.” Tanyanya sekali lagi kepada Ethan.
“aku menyukaimu.” Katanya.
Elise kaget dan seakan sedikit terbuai, ia tahu kalau Ethan itu tampan, tapi ia sadar Ethan adalah vampire. “menjijikkan.” Katanya sembari menjauhi Ethan.
“berikan padaku!.” Perintah Ethan pada Elise.
Elise terlihat bingung. “apa?.” Tanyanya.
“yang sedang kau pegang, kau tidak membutuhkannya.” Kata Ethan merebutnya dari Eise.
“kau benar, aku manusia tidak membutuhkan makanan vampire.” Kata Elise sembari meninggalkan Ethan.
Ethan menatap punggung Elise yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Aku mohon jangan menyangkal jatidirimu atau kau akan semakin terluka jika mengetahui kita berbeda dari manusia dan kita berbeda dari mereka, kita pureblood terakhir dalam ras kita. Kata Ethan. “kau tidak perlu mengupingkan?. Keluarlah!.”
Ken keluar dari persembunyiannya. “kenapa kau mengambilnya?.” Tanya Ken.
Ethan tersenyum mengejek dan berkata tanpa menoleh padanya. “untuk seorang vampire pecundang, kau tidak berhak bertanya padaku.” Katanya.
“aku memang pecundang, tapi gadis itu. Bukankah dia memiliki black diamond. Kemudian apa yang sedang kau rencanakan?.” Tanya Ken sedikit membentak. “aku bertanya padamu.”
“kau macam vampire yang menghabisi bangsamu. Setengah pureblood bukankah itu sangat menggelikan?.” Tanyanya.
“kau.” Bentak Ken penuh dengan emosi. “kau tidak berhak berkata seperti itu pada ras-ku!.”
“kau sangat pemberani.” Ejek Ethan. “pergilah kali ini aku tidak akan mengungkit masalah ini lagi.” Kata Ethan sembari berpaling. “aku jelas muak melihatmu, darah didalam tubuhmu yang bercampur. Menjijikkan.” Ejeknya. Ken menggempalkan tangannya, ia menahan emosinya. “kau tidak perlu semarah ini, aku tahu bahwa kau tidak bersalah terlahir sebagai sesuatu yang rendah.” Katanya lagi sembari meninggalkan Ken.

I Want Your Blood..!!!

Elise mencoba untuk tidur. Tetapi tidak dapat ia lakukan. Kata-kata Ethan, Ken, Ruka, dan Gwen datang silih berganti di telinganya. Ia menarik nafas kesal. Belum lagi dengan rasa panas di kerongkongannya yang menyesakkannya. “ini tidak mau hilang meskipun aku minum banyak air putih.” Gumamnya. Entah mengapa kejadian tadi yang dilihatnya kembali terulang dalam ingatannya, ia menoleh pada Ruka yang sedang tertidur lelap. “aku muak dengan rasa ini!.” Gerutunya.
Elise akhirnya tertidur juga meski hanya sebentar. “bangun, kau akan telat!.” Teriak Gwen.
Elise terjaga. “Gwen kenapa kau bisa ada dikamar ini?.” Tanyanya.
“mulai sekarang aku akan sekamar denganmu.” Kata Gwen.
Seakan tidak percaya dengan kalimat yang baru saja diucapkan Gwen padanya, Elise mengusap matanya. “benarkah?.”
Gwen mengangguk. “aku serius.”
“kenapa?.” Tanya Elise yang masih belum begitu percaya pada berita tersebut.
“Ruka meminta dipindahkan dengan alasan yang kurang jelas dan kepala sekolah sangat senang kemudian dia menyetujuinya.”
“berarti itu benar?.” Tanya Elise dengan gembira seakan baru percaya akan kata-kat Gwen. Gwen mengangguk. “syukurlah aku tidak sekamar dengan Ruka, aku merasa sedikit takut dengan sifatnya.”
Gwen tertawa mengejek. “kau aneh, kau pureblood seharusnya tidak takut pada siapapun.” Kata Gwen.
“jangan membahasnya lagi, lagipula aku sedang tidak ingin mengungkitnya, aku tidak ingin menjadi seorang vampire. Dan aku bukan vampire.”
Gwen tertawa. “baiklah-baiklah. Cepat siap-siap kita harus ke night class.”

***

Gwen bersama Elise melangkahkan kakinya menuju ke kelas. “sepertinya kau kurang sehat?.” Tanya Gwen yang khuwatir melihat wajah pucat Elise.
“aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit tidak enak badan.” Jawab Elise.
“kau tahu, kau seharusnya menuruti kata-kata Ken. Dimana tabletnya?.” Tanya Gwen memandang Elise.
“aku tidak membutuhkannya, lagipula tablet itu sekarang ada di tangan Ethan.” Jawabnya.
“kutebak pasti dia merebutnya darimu?.” Tanya Gwen.
Elise mengangguk. “darimana kau bisa tahu?.” Tanyanya penasaran.
“sifatnya aneh, kami dilarang menyebutkan nama ras-nya. Kau dan dia sama.” Kata Gwen. “hindari dia. Ini untukmu.” Gwen menyodorkan sebuah tablet untuk Elise.
“tapi aku..”
“jangan bilang kau tidak membutuhkannya, kau akan tahu seperti apa menyiksanya rasa hausmu itu.” Kata Gwen sembari meninggalkan Elise di depan kelasnya.
Elise masuk ke dalam ruang kelasnya. “ini dia putri kita.” Kata seorang pria. “namaku Arnold. Aku akan setia padamu.” Elise menoleh, ia mencari Ken. Tapi tidak di dapatinya.
“aku juga akan setia padamu putri, aku Rose akan setia menemanimu.” Katanya. “jadikan aku pengikutmu.”
“bicara apa kalian?.” Tanya Elise. “aku, aku mau keluar.” Bentaknya. Elise keluar dari ruang kelasnya. Ia berjalan menjauhi kelasnya. “kenapa rasa ini makin menjadi-jadi?.” Gumamnya.
Seorang pria separuh baya muncul dihadapannya dan mengagetkannya. “putri, pangeran sedang mencari Anda. Ikutlah denganku.” Katanya mengisyaratkan agar Elise mengikutinya. Elise yang awalnya enggan akhirnya mengikutinya juga. Mereka sampai disebuah tempat yang sangat besar. “masuklah, pangeran sedang menunggu Anda di dalam.” Katanya lagi.
Elise menurutinya dan ia masuk kedalam ruangan itu, serasa sangat asing baginya. “kau sudah datang?.” Tanya Ethan pada Elise.
“kenapa kau memanggilku?.” Tanyanya.
“kemarilah, mendekat!.” Perintah Ethan. Elise hanya diam di tempat. Ethan tersenyum. “baiklah biarkan aku yang menghampirimu.”
Ethan mendekati Elise. “jangan mendekat!.” Kata Else. Ethan menghentikan langkahnya.
“aku akan membantumu menghilangkan rasa yang menyiksamu.” Kata Ethan. “aku akan membangunkanmu, kau harus percaya padaku.” Ethan berjalan mendekati Elise lagi.
Kali ini elise hanya diam. “kau akan menghilangkannya?.” Tanyanya.
Ethan memandang Elise dan mengangguk. “benar.” Ethan membelai rambut Elise, kemudian ia membelai lehernya. “maafkan aku, ini akan terasa menyakitkan untuk pertama kali.” Katanya.
Elise mengangguk. “lakukanlah!.” Perintahnya.
Ethan tersenyum, kemudian ia menggigit leher Elise. Taringnya merasuki tubuh Elise. Elise sedikit menjerit, ia merasakan sakit disekujur tubuhnya. Ia bisa menghirup bau dari darahnya sendiri. Ia meronta tenggorokannya semakin panas. Ethan terhenti melihat Elise. “apa kau ingin minum?.” Tanyanya.
Elise mengangguk. “aku haus, sangat haus, aku ingin darahmu.” Katanya.
“tapi kau tidak punya taring.” Kata Ethan. Ethan mencium Elise, Elise kaget dengan apa yang Ethan lakukan terhadapnya, tiba-tiba rasa hausnya hilang seketika. Ia merasa sangat bersemangat. Sebuah memori terjadi dalam ingatannya.

***

“maafkan kami Elise, seorang pureblood harus tetap hidup untuk meneruskan keberlangsungan ras kita.” Kata ibu Elise yang sedang menggendongnya. Ia meletakkan Elise kecil yang saat itu masih berusia 10 tahun di depan sebuah rumah.
“ibu.. kau mau kemana?.” Tanyanya sambil terisak.
“ibu akan pergi dan kau akan terus hidup.” Ibu Elise mengeluarkan sebuar permata hitam dan memasukkannya ke dalam tubuh Elise. “dengan ini kau tidak akan mengingat apapun lagi sampai usiamu 17 tahun.” Katanya. Kemudian ia meninggalkan Elise yang kebingungan karena tidak bisa mengingat sesuatu.
Seoarang wanita keluar dari rumah itu, ia sedang menggendong bayi. Elise menangis memanggil ibunya. “ibu.. ibu..”
Wanita itu menghampirinya. “dimana ibumu?.” Tanyanya. Elise tetap menangis dan memeluk wanita yang di kira sebagai ibunya itu.

***

Darah segarnya mengalir dari mulutnya. Elise tersedak, ia seakan telah kembali dari masa lalunya. “aku?.” Tanyanya lirih. “aku seorang vampire?.” Katanya lagi.
Ethan tersenyum mengangguk, kemudian memeluknya. “aku senang kau sudah kembali.” Elise melihat kesekelilingnya. Ia menggigit leher Ethan dengan taringnya. “seharusnya itu yang kau lakukan dari dulu.” Gumam Ethan sambil membelai Elise.

***

Ken yang sedaritadi sedang berjalan menuju ke kelasnya terhenti. Ia bergumam. “kau membangunkannya terlalu cepat.” Katanya. Ia menoleh ke arah belakang. “akan terjadi perang setelah ini.” Katanya, ia berbalik dan meneruskan jalannya.
Sementara di tempat lain. “permata itu telah bangkit, Rogue ini saatnya.” Katanya.
Seorang wanita muda yang cantik keluar dari balik ruangan. “aku mengerti ayah.” Jawabnnya sambil tersenyum. “akan kulakukan semampuku.” Katanya.

to be contiuned… 

 

Note:
Beri komentar yah, jangan copas. Kalau mau menampilkan di blog Anda silakan beri link hidup, capek tahu buatnya.. hufff.. ini buat yang mengerti, jadi kalau kalian mau bangga sama blog kalian jangan ngambil milik orang lain, aku bangga sama tulisanku meskipun tidak terlalu bagus karena ini orisinil. Aku prihatin sama banyak orang yang malah tidak mengerti apa itu hak cipta, dari pengalaman yang pernah aku baca bahkan para author memutuskan untuk tidak melanjutkan karya mereka karena karya mereka di tampilkan tanpa seijin atau malah di diakui oleh orang lain. Yang rugi malah para pembaca sendiri. Aku sebagai pembaca dan juga penulis baru merasa kecewa, tapi aku percaya kepada kalian para pembaca.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s