fanfiction

Fanfiction Vampire Knight Part 5 & 6

Brave and Wise

 

 

 

Ditengah malam yang sunyi dan gelap, saat itu sedang terjadi gerhana bulan, seorang wanita memacu kudanya dengan kencang, ia melakukannya sekuat tenaga. Darah segar mengalir dari tubuhnya, semakin lama penglihatannya semakin kabur. Ia tetap berusaha untuk terus sadar. Beberapa orang pria sedang mengejarnya dengan menunggangi kuda juga. Bau  darahnya dapat tercium oleh sekelompok pria tadi. Wanita itu tetap berusaha sadar namun sayang ia terjatuh dari kudanya, semakin lama ia merasa semakin lemah. Pria-pria yang mengejarnya turun dari kudanya mendekati wanita itu. “berikan padaku!.” Sentaknya. “atau kau akan mati disini!.” Kata salah satu dari mereka.

            “kau akan dihukum karena menindas pureblood, dan membunuh suamiku.” Kata wanita tadi geram.

            Mereka tertawa. “kalau kau tidak mau memberikannya aku akan membunuhmu juga.” Serunya.

            “bunuh aku tapi aku jamin kalian tidak akan mendapatkannya.” Kata wanita itu meninggikan suaranya.

            Pria-pria tadi terus mengejek dan menertawainya. “kau sudah tidak berguna, cari permata hitam itu!.” Perintahnya pada mereka.

            “dia tidak memilikinya tuan.” Kata salah satu orang.

            “apa maksudmu?.” Bentaknya. “cari sampai dapat!.”

            Wanita itu tersenyum. “kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya karena permata itu tidak ada padaku dan aku akan menghentikan perang vampire ini. Kalian darah campuran tidak berhak berkuasa, karena kalian tidak akan pernah mendapatkan apa yang kalian inginkan.” Katanya.

            Pria-pria tadi marah dan geram mendengar apa yang wanita itu ucapkan. “habisi darahnya. Bunuh dia!.” Katanya pada teman-temannya. “pureblood akan hancur, tidak akan ada lagi yang akan mengejek kita.” Serunya. “kami akan menemukan permata itu cepat atau lambat.” Katanya.

            Wanita itu menunjukkan mata merahnya. “kau akan mengingat mata ini. Mata pureblood.” Serunya. Mereka membunuhnya dan menghisap darahnya sampai habis. Setidaknya pertempuran antar sesama vampire telah berakhir sejak 7 tahun yang lalu sejak hilangnya permata hitam dari dunia vampire. Kini permata itu telah bangkit dan peperangan baru saja akan di mulai kembali.

***

Elise terjaga dari tidur lelapnya. “apa kau tidur nyenyak?.” Tanya Ethan sambil membelai rambut Elise.

Elise mengangguk. “permata itu?.” Tanyanya. “ibuku dan semuanya?. Pureblood?.” Tanyanya bingung.

“apa kau tahu kenapa aku membenci Ken?.” Tanyanya pada Elise.

Elise menggeleng. “kenapa?. Apa hubungannya dengan ken?.” Elise menatap Ethan dengan bingung.

“apa kamu masih belum mengerti?.” Tanya Ethan, Elise tetap diam kemudian seperti sedang memikirkan sesuatu. “7 tahun yang lalu terjadi peperangan antara pureblood dengan darah campuran.” Kata Ethan mengawali ceritanya.

“perang?.”

Ethan mengangguk. “pureblood yang selalu dihormati dan selalu menjadi yang teratas selalu disanjung, sedangkan darah campuran yang berasal dari setengah manusia mendapatkan hinaan dikalangan vampire. Mereka harus menjadikan keturunan mereka sebagai vampire biasa dengan cara menjadi pengikut setia pureblood. Suatu ketika mereka melakukan pemberontakan pada pureblood, mereka membantai pureblood yang tersisa sedikit dan mereka mengincar permata hitam yang dimiliki oleh pureblood anggota kerajaan, agar mereka bisa menguasai vampire.” Katanya menjelaskan. “kau sudah mengerti?.”

“lalu apa hubungannya dengan Ken?.” Tanya Elise.

Ethan menatap Elise. “kau tahu untuk mempertahankan ras pureblood ayah-ibumu dan ayah-ibuku sepakat untuk melindungi kita dengan nyawa mereka, mereka ingin kita satu-satunya pureblood yang tersisa untuk mempertahankan ras kita. Apa kau pikir itu mudah?.” Tanyanya. “sekolah ini dibangun untuk mencegah hal tersebut terulang, yang ada sekarang adalah perang dalam selimut. Mereka akan mengincarmu sebagai temanmu. Ken adalah darah campuran.” Katanya.

Mata Elise terbelalak dengan pernyataan Ethan. “benarkah hanya tersisa kita?.” Tanyanya lagi. “dan Ken..” gumamnya lirih.

“tidak, masih ada pureblood di luar sana, tapi kita tidak bisa mengetahuinya. Untuk Ken kau harus menghindarinya untukku.” Kata Ethan seraya tersenyum. “kau mengerti?.” Tanyanya.

Elise mengangguk. “ia.” Katanya.

Ethan tersenyum. “bagus.” Katanya sambil memeluk Elise. “saat ini kau tahukan bahwa kau adalah takdirku?.”

“ya.” Jawab Elise singkat.

“kalau begitu kau harus mendengarkan apa kata-kataku.”

“ya.” Jawab Elise lagi.

***

“pureblood?.” Tanya Gwen pada Ken. “ayolah Ken kau tidak boleh takut padanya hanya karena dia adalah pureblood.”

“aku tidak pernah bilang kalau aku takut padanya.” Kata Ken.

“kau mengatakan seperti itu, itu tandanya kau takut pada mereka.”

“bahkan kau sendiri takut pada mereka.” Cerca Ken.

Gwen menoleh. “entahlah naluri vampireku sangat takut padanya jika sudah melihat matanya yang berbeda dari vampire lain.” Katanya. “tapi kau harus melindungi Elise dari Ethan itu, kau tahukan bahwa dia sangat berbahaya?.” Tanya Gwen pada Ken yang sedang terdiam. “apa yang sedang kau pikirkan?.” Tanyanya lagi.

“aku harap kau menjaganya dan melindunginya. Tapi aku berpikir bukankah mereka cocok, mereka sama-sama pureblood.”

“mereka memang cocok.” Kata Gwen mengangguk. “seorang putri dan seorang pangeran. Terlebih Elise sudah bangkit kembali, aku rasa semuanya berjalan terlalu cepat. Meskipun begitu permata hitam itu..”

“berhentilah menyebutkan namanya. Aku tidak menyukainya. Permata itu membawa kehancuran beberapa tahun yang lalu.” Katanya. “aku sangat menginginkannya.” Katanya.

“apa kau akan merebutnya?.” Tanya Gwen. “tapi bagaimana caranya?.” Tanyanya.

“entahlah akan aku pikirkan.” Jawabnya.

“aku berharap kita bisa mendapatkannya sebelum orang lain.” Kata Gwen. “kalau sampai jatuh ketangan orang lain aku tidak bisa memikirkan bagaimana akhirnya.” Katanya.

Ken mengangguk. “aku mengerti. Aku pergi dulu.” Katanya sembari meninggalkan Gwen.

***

Elise keluar dari ruangan gelap tempat Ethan dan dia berbicara. Sepertinya naluri vampirenya sudah kembali sepenuhnya. Ia berjalan menyusuri lorong sekolah dengan langkah kecil. Ia terhenti melihat Ruka.

“selamat kau telah kembali.” Kata Ruka.

Elise terdiam memandang Ruka. “terimakasih, sesaat ini terasa tidak nyata. Semua ini.” Mata Elise mulai berkaca-kaca.

Ruka tersenyum. “apa kau menginginkan menjadi manusia saja seperti dulu?.” Tanyanya penuh maksud.

Elise menggeleng. “saat ini kupikir ini akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya, aku mengenal seperti apa monster yang ada di dalam diriku ini. Ruka apa kau bersedia berada disampingku?.” Tanyanya.

Ruka menggeleng “aku adalah pengikut setia Ethan kau harus mencari sendiri pengikutmu.” Katanya lalu pergi meninggalkan Ethan.

“kenapa kau sangat menyukai Ethan?.” Tanya Elise.

Langkah kaki Ruka terhenti, ia menjawab pertanyaan Elise tanpa menoleh padanya. “karena dia berbeda, dia kadang bisa sangat jahat dan kadang dia bisa berubah sangat baik. Aku selalu menyukainya sejak kecil. Aku sudah menyukainya sejak aku memutuskan menjadi pengikutnya.” Katanya.

Elise terdiam memikirkan kata-kata Ruka. “tapi dia adalah takdirku..” katanya pelan.

“aku akan tetap mencintainya dengan tulus.” Ruka berjalan kembali menuju ke ruangan Ethan.

Elise mulai beranjak dari tempatnya menjauhi ruangan Ethan. Ia kembali ke kamarnya. Ia masuk kedalam ruangannya dan menemui Gwen. “Elise?.” Tanyanya. “kau masih Elise kan?.” Gwen tersenyum jail memperhatikan Elise.

Elise menghampirinya, ia mengangguk. “tentu, aku tidak berubah.” Katanya.

Gwen menggeleng. “kau berubah banyak.” Katanya. “kau memiliki sebuah dendam disana tidak seperti Elise yang aku temui pertama kali.” Serunya.

Elise terdiam. “aku lelah.” Katanya sembari menidurkan dirinya kedalam tempat tidurnya. “aku akan tidur sebentar.”

“tanyakan jika kau ingin menanyakan sesuatu kepadaku.” Kata Gwen.

Elise terdiam. “itu.. suatu hari nanti akan kutanyakan padamu.” Jawabnya kemudian memejamkan matanya.

“Ken bukanlah orang yang patut untuk kau benci.” Kata Gwen, seakan berpura-pura tidak mendengarkannya Elise tetap terdiam. “aku harap kau mengerti itu.” Kata Gwen kemudian beranjak keluar dari kamar. Sebelum menutup pintu kamar ia berpesan. “jadilah berani dan bijaksana karena kamu berbeda dari kami. Kau seorang pureblood yang tersisa.” Katanya menutup pintu.

The Side of The Black Diamond

 

 

 

“sungguhkan apa yang kau katakan padaku kemarin?.” Tanya Elise pada Rose dan Arnold. Mereka mengangguk. “baiklah mulai sekarang kalian akan menemaniku.”

“tentu dengan senang hati putri.” Kata Rose, Arnold mengangguk mengiyakan.

“terimakasih.” Kata Elise seraya tersenyum, senyumnya menghilang melihat kedatangan Ken. “aku harap salah satu dari kalian dapat mengawasinya untukku.” Katanya.

“biarkan aku saja yang mengawasinya untukmu.” Kata Arnold. “aku mengenalnya sangat baik.”

“terimakasih sekali lagi.” Kata Elise seakan memaksakan tersenyum,

Ethan datang dan duduk disamping Elise. “bagaimana perasaanmu?.” Tanyanya.

Elise tersenyum. “aku merasa sangat baik dan dapat menyesuaikan diriku dengan cepat. Terimakasih.”

“kau tidak perlu mengatakannya, daripada mengatakan hal tersebut sebaikanya kau tidak melanggar perintahku itu aku akan menjadi lebih senang.” Katanya seraya tersenyum pada Elise.

“mengenai Ruka..”

“Ruka?. Ada apa?.” Tanyanya.

“tidak, tidak usah kau pikirkan.” Jawab Elise enggan.

Kelas dimulai dan kepala sekolah masuk bersama dengan seorang gadis cantik. “anak-anak akan ada satu lagi siswa baru disekolah ini.” Katanya, anak-anak mulai berkasak-kusuk.

Gadis itu tersenyum. “hai, namaku Rogue aku seorang darah campuran.” Katanya memperkenalkan diri.

Elise terdiam, ia memandang Rogue. “kenapa dia sangat percaya diri?.” Gumamnya pelan.

“karena dia punya teman.” Jawab Ethan yang mendengar pertanyaan dari Elise.

Elise menoleh pada Ken yang tidak bergeming sedikitpun seperti tidak menyadari kedatangan Rogue. “dia..”

“bolehkah aku memilih tempat duduk kepala sekolah?.” Tanyanya. Kepala sekolah mengiyakan.

“asal di bangku yang kosong.” Jawab kepala sekolah.

Rogue memilih duduk disamping bangku Ethan yang terlihat kosong. “begini lebih baik kan, apa disini selalu kosong?.” Tanyanya.

“kenapa kau kemari?.” Tanya Ken yang sedaritadi terdiam.

“aku hanya ingin menebus hutang masa lalu.” Jawabnya.

“aku bisa menebaknya.” Kata Ken seraya tersenyum.

Elise menatap mereka meskipun tidak dapat mendengar pembicaraan yang mereka lakukan. “jangan khuwatir, bertambah satu lagi tidak akan merubah apapun.” Kata Ethan padanya.

***

Kelas usai, Elise menunggu Ken. “aku ingin bicara.” Katanya.

“tidak ada yang harus kita bicarakan.” Sentak Ken. Ia berjalan meninggalkan Elise.

“ini perintah.” Katanya.

Ken terhenti, ia tersenyum menanggapi perkataan Elise. “bahkan sekarang kau menggunakannya untuk memerintahku putri?.” Tanyanya memandang Elise.

“aku tidak bisa kalau tidak menggunakan kekuasaanku, itu percuma. Hanya satu hal yang ingin aku tanyakan padamu. Saat itu sebelum ibuku membawaku pergi kaukah orangnya?.” Tanya Elise pada Ken.

Ken terdiam seperti sedang membayangkan sesuatu. “kalau itu aku apa akan merubah sesuatu?.” Tanyanya.

Elise mengangguk. “pasti akan ada hal yang berubah.” Jawabnya.

“tidak putri, tidak akan ada yang berubah. Semuanya akan tetap kembali pada tempatnya.” Katanya.

“Ken, aku tahu ada sesuatu dibalik permata hitam itu. Dan ibuku waktu itu sama sekali tidak membencimu, ia malah berterimakasih kepadamu. Aku yakin ada sesuatu yang mau ia lindungi. Tapi akau tidak tahu itu apa.” Jawabnya.

“kalau begitu kau harus mencari tahu sendiri apa itu, maaf aku tidak bisa membantumu karena kita tidak bisa menjadi teman.” Jawabnya seraya meninggalkan Elise.

“dulu aku belum sempat mengucapkannya, aku akan mengucapkan terimakasih.” Teriak Elise. “terimakasih.” Gumamnya. “aku yakin ada ingatan yang masih belum aku ingat tentang kejadian waktu itu. Aku yakin.”

***

“sepertinya dia sudah mengingat semuanya, apa pangeran yakin?.”

“aku sudah memastikannya aku akan melindunginya semantara ini. Gadis yang bernama Rogue itu terlihat beberapa kali muncul belakangan ini.” Gumam Ethan pada pelayangnya.

“pangeran tidak bisakah kau meminta kepala sekolah untuk mengeluarkan mereka?.” Tanyanya.

Ethan menggeleng. “itu diluar kehendakku, dia itu vampire dan bebas memilih untuk belajar ditempat ini. Sekarang hanya satu yang dapat kita lakukan sebelum hari keseratus Elise bangkit adalah mengawasi darah campuran itu.” Katanya.

Pengawal itu mengangguk. “benar. Aku mengerti tuan.” Jawabnya.

***

Elise duduk termenung. Rogue menghampirinya. “aku hanya ingin melihat putri kita yang telah lama menghilang dengan permata hitamnya.” Katanya. Elise mendongak menatap Rogue. “ternyata putri sangatlah cantik.”

Elise berdiri. “aku senang bisa mengenalmu, Rogue.” Katanya.

Rogue tersenyum. “aku berharap putri dapat mengingat namaku.” Katanya. “darah pureblood juga mengalir di tubuhku.” Katanya.

“aku bisa merasakannya. Tapi jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin untuk kita.”

“misalnya apa?. Berteman?.” Tanyanya sinis.

“benar.” Elise mengangguk.

Rogue tertawa terbahak. “kupikir kau telah salah mengerti putri, demi untuk bisa mendapatkan permata hitam itu aku tidak akan sudi berteman denganmu.” Katanya. “kuharap kau bisa mengerti putri.”

Elise terbelalak. “apa kau sedang menyatakan perang padaku?.” Tanyanya.

“hari keseratus setelah kau dan permata itu bangkit, aku akan menunggunya. Permata itu aku ingin sekali melihat seperti apa wujudnya, saat permata itu keluar dari tubuhmu.” Katanya.

“aku pastikan kau tidak akan bisa mendapatkannya.” Kata Elise percaya diri. Rogue hanya tersenyum menanggapinya. Ia beranjak pergi.

***

Elise berjalan pelan menyusuri lorong sekolahnya. Ia mendesah. “kenapa aku rindu dengan rumah. Ayah, apakah dia sehat?. Aku sangat khawatir pada ibu dan adik.” Katanya. “aku benar-benar merindukan mereka.”

Gwen menghampiri Elise dan mengagetkannya. “kenapa kau mengkhawatirkan mereka?. Padahal kau tahu mereka bukanlah orang tuamu yang sesungguhnya.” Katanya.

Elise mengangguk. “meskipun begitu mereka telah memberikanku banyak sekali kebahagiaan, tanpa mereka entah seperti apa aku selama 7 tahun hidup di tempat asing menyamar menjadi manusia biasa.” Katanya termenung.

“aku mengerti seperti apa rasanya, aku dulu tidak bisa membayangkan ada vampire yang jatuh cinta pada manusia.” Katanya. “tapi sekarang aku sudah mengerti.”

“aku tahu sekarang.” Kata Elise. “manusia aku sangat mengenal mereka, aku hanya sedang berpikir apa yang sedang ibuku lindungi.”

Gwen menatap Elise. “sudahlah jangan kau pikirkan dan untuk orang tua manusiamu, aku pastikan kau bisa menemui mereka sebulan lagi sesuai dengan janjiku saat liburan.” Katanya mendahului Elise. Elise menatap Gwen dengan pandangan kosong, ia hanya bisa mendesah sekali lagi.

 to be contiuned….

 

Note:
Beri komentar yah, jangan copas. Kalau mau menampilkan di blog Anda silakan beri link hidup, capek tahu buatnya.. hufff.. ini buat yang mengerti, jadi kalau kalian mau bangga sama blog kalian jangan ngambil milik orang lain, aku bangga sama tulisanku meskipun tidak terlalu bagus karena ini orisinil. Aku prihatin sama banyak orang yang malah tidak mengerti apa itu hak cipta, dari pengalaman yang pernah aku baca bahkan para author memutuskan untuk tidak melanjutkan karya mereka karena karya mereka di tampilkan tanpa seijin atau malah di diakui oleh orang lain. Yang rugi malah para pembaca sendiri. Aku sebagai pembaca dan juga penulis baru merasa kecewa, tapi aku percaya kepada kalian para pembaca.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s