fanfiction

Fanfiction Vampire Knight Part 9 & 10

I Will Waiting For You

Ken kembali ke penginapan, ia membuka pintu kamar tempat Elise berada. Ia menatap Elise yang sedang tidur di ranjang. Ia mendekati Elise hendak membangunkannya, langkahnya terhenti. “apa kau senang?.” Sebuah memori lama kembali dalam ingatannya.

“ibu kita akan kemana?.” Tanya Ken kecil pada ibunya.

            “kita harus pergi, kita harus menjauhi ayahmu.” Katanya.

            “ada apa dengan ayah?.” Tanya Ken kecil dengan bingung. Ibu tidak menjawab pertanyaan Ken, ia hanya membelai kepala Ken. “Kita harus kembali.” Ajak Ken. “ibu aku juga seorang vampire.” Katanya.

            Ibu Ken berbalik. “apa?.” Tanyanya.

            “ibu ayah selalu memberikanku darah saat aku haus, ia selalu bilang tidak boleh memberitahumu tentang hal itu.”

            Ibunya hanya dapat menatap Ken tidak percaya. Ken berlari meninggalkan ibunya. “Ken.” Panggil ibunya.

            Ken kecil terus berlari, ia melihat seorang anak perempuan kecil bahagia dengan ayahnya sedang bermain bersama. Ia menatap anak kperempuan itu. Ia merasa sedikit iri denganya jadi ia terus mengikutinya.

***

“Ken, kau sudah kembali?.” Tanya Elise yang baru bangun membuyarkan lamunan Ken.

Ken mengangguk pelan. “ayo kita kembali kesekolah.” Katanya.

“aku tidak ingin terlahir seperti ini, bisakah kalian hanya menjadikanku manusia seperti dulu saja?.” Tanya Elise pada Ken.

Ken menatap Elise. “mengapa?.” Tanyanya.

“aku bahkan takut pada diriku sendiri.” Jawab Elise sambil menangis.

Ken mendekati Elise dan duduk dihadapannya. “apa kau mimpi buruk?.” Tanyanya, ia membelai kepala Elise lalu memeluknya. “tidak apa-apa, kau akan terbiasa.” Katanya. Ia merasakan lidah Elise membasahi lehernya. Ia sadar apa yang akan dilakukan Elise, tapi ia membiarkannya. Elise menggigit leher Ken. Ken merasakan taring Elise memasuki lehernya. Ia mendekap Elise semakin erat. Kemudian mendorongnya perlahan.

“maaf.” Kata Elise sembari membersihkan darah Ken yang tersisa di mulutnya. “aku haus.” Katanya.

“aku tahu.” Kata Ken sembari memegang lehernya. “berdirilah, kita harus segera kembali.” Katanya sambil berdiri.

“Ken.” Panggil Elise pelan. “aku merindukanmu.” Katanya. “darah ini, aku tidak akan pernah puas sebelum aku meminum darah ini, darah yang pertama kali aku minum saat aku masih kecil.” Kata Elise. Elise berdiri dan menghampiri Ken. Ia mencium pipi Ken. Ken tidak bergeming. “terimakasih lagi.” Katanya pada Ken sambil tersenyum.

Seakan mengingat masa lalu, Ken menarik Elise kedalam pelukanya. “kalau begitu jangan lepaskan aku.” Katanya. Elise terbelalak dengan apa yang baru saja di dengarnya. “apa kau mau menungguku?.” Tanya Ken.

“apa?.” Tanya Elise refleks.

Ken mendorong tubuh Elise. “lupakan, aku asal bicara.” Katanya meninggalkan Elise.

“aku akan.. akan menunggu.” Gumam Elise. Ken terhenti sejenak, lalu berjalan keluar kamar.

***

Elise berjalan di koridor sekolah bersama dengan Ken, mereka kembali saat hari sudah mulai gelap. Elise menatap Ken dengan sedih. Mereka disambut dengan hangat oleh kepala sekolah. Mereka menberikan hasil yang telah mereka dapat kepada kepala sekolah. “selamat tugas kalian sudah selesai, terutama untuk putri.”

Elise tersenyum. “aku tidak melakukan apa-apa.” Katanya.

Kepala sekolah menatap Ken seakan meminta penjelasan. “biarkan putri tidak ikut kelas hari ini, ia butuh istirahat.” Kata Ken kepada kepala sekolah sembari meninggalkan ruangan.

Elise menatap kepergian Ken. “baiklah putri kau bisa beristirahat dan tidak mengikuti night class.”

Elise menggeleng. “tidak, aku tidak apa-apa kepala sekolah.” Katanya. Sembari pamit dan kembali ke asrama.

Kepala sekolah menatap Elise. “yang kau lihat ini adalah awal.” Gumamnya.

***

Elise mengejar Ken. Tapi Ken sudah kembali ke kamarnya. Ia berjalan menuju kamarnya. Elise berjalan perlahan menuju kamar asramanya. Ia membuka pintu kamarnya itu. “kau sudah kembali?.” Tanya Gwen yang sedang tidur.

Elise mengangguk. “benar, aku akan segera berangkat ke night class.” Katanya. “kau tidak siap-siap?.” Tanyanya pada Gwen.

Gwen terdiam sejenak lalu menutupi wajahnya dengan selimut. “aku masih tidak enak badan.” Katanya.

Elise mendekati Gwen. “coba aku lihat.” Pintanya.

Gwen enggan, ia tidak bergeming. “pergilah.” Katanya pada Elise.

Elise menggeleng. “aku tidak akan pergi sebelum melihat keadaanmu. Gwen ini perintah.”

Gwen masih terdiam. Elise menarik selimutnya dan terlonjak kaget dengan luka di leher Gwen. “aku baik-baik saja.”

Masih dengan ekspresi kaget. “siapa yang melakukan ini padamu?.” Tanya Elise mengkhuwatirkan keadaan Gwen.

Gwen terdiam. Elise memaksanya. “Ethan.” Katanya pelan.

Elise berdiri. “keterlaluan, aku akan menemuinya.” Elise meninggalkan Gwen.

“Elise.” Panggi Gwen, tapi ia tidak mengindahkan panggilan Gwen. Elise berjalan menuju ruangan Ethan dengan perasaan berkecamuk.

***

Elise berjalan dengan marah menuju keruangan Ethan. “apa yang sebenarnya ia lakukan?.” Tanya Elise pada dirinya sendiri. Elise memperlambat langkahnya. Ia bertemu dengan Ken yang baru keluar dari ruangan Ethan. Elise tersenyum padanya, tapi Ken tidak menggubrisnya. “Ken.” Panggilnya.

Ken menghentikan langkahnya. “ada apa?.” Tanyanya tanpa berbalik.

Elise menatap punggung Ken. “Gwen sakit.” Katanya. “sepertinya keadaannya parah.” Gumamnya pada Ken.

Ken terkejut, ia berbalik. “aku akan menemuinya.” Katanya, lalu iapun meninggalkan Elise. Elise beranjak dari tempatnya menuju ke kamar Ethan.

***

“kenapa kau melakukannya?.” Sentak Elise pada Ethan.

“aku hanya ingin memberinya pelajaran. Ia tidak akan melupakan rasa sakitnya dan tidak akan berani membohongiku lagi.” Singgahnya.

“tidakkk..!!!.” bentak Elise marah. “aku tidak mengijinkanmu untuk menyakiti temanku.”

Ethan menatap Elise. “aku berusaha melindungimu.” Kata Ethan.

“melindungiku?. Beginikah caramu melindungiku?.” Tanya Elise dengan bergetar. “kau tahu kau seperti monster.” Katanya.

Elise meninggalkan Ethan, Ethan memeluk Elise dari belakang. Elise terisak. “baiklah maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi. Kemudian, turuti permintaanku.”

Elise menoleh pada Ethan. “aku selalu menurutimu.” Katanya pada Ethan. Air matanya sudah tidak dapat ia tampung.

Ethan menggeleng. “tidak ada satu yang tidak berjalan sesuai dengan rencanaku.” Ethan memegang pundak Elise. “kau menyukai laki-laki itu.”

Elise terbelalak. “tidak.” Sanggahnya pelan.

“kau tidak bisa membohongiku.”

“benar aku menyukainya.” Teriak Elise. Ethan menampar     Elise. Elise terlonjak kaget dengan apa yang baru saja Ethan lakukan terhadapnya.

“sekarang kau akan melupakannya. Aku akan memaafkanmu.” Kata Ethan membiarkan Elise pergi.

Tubuh Elise bergetar tidak karuan. “aku akan melakukan semua yang kau pinta asal jangan menyuruhku untuk melupakannya. Itu sudah terlambat.” Kata Elise menghadap Ethan seperti tanpa rasa takut.

“kau menantangku?.” Tanya Ethan menghampiri Elise dan menggigitnya.

“ahhh..” teriak Elise menahan sakitnya taring yang menusuk keleher Ethan. Rasanya sangat sakit, tidak seperti yang ia rasakan saat pertama kali Ethan menghisap darahnya, ini jauh lebih sakit. Elise meronta-ronta mencoba mendorong Ethan, tapi hal itu tidak membuahkan hasil sama sekali untuknya.

“lepaskan dia.” Teriak Ruka pada Ethan.

Ethan tersadar dan memegang wajah Elise, Elise menepisnya. Ia berlari keluar dari ruangan Ethan, Elise sempat menoleh pada Ruka. “maaf.” Gumam Ethan. Ruka menatap Ethan, ia tidak berbicara sepatah katapun.

Another Vampire

Ken masuk kedalam kamar Gwen dan Elise. “Gwen.” Panggilnya. Tapi ia tidak mendapati Gwen disana. Ken mencari keluar kamar. Ia bertemu dengan Rogue.

“kau mencari Gwen?.” Tanyanya pada Ken.

Ken mengangguk mengiyakan. “apa kau melihatnya?.” Tanya Ken.

Rogue menggeleng. Ken hendak mencari kembali. “kau tidak usah mencarinya lagi, ia sudah pergi dari asrama dan sudah berhenti.”

“apa?.” Tanya Ken kaget mendengar penjelasan dari Rogue.

“tadi aku melihatnya keluar dari gedung sekolah. Sepertinya dia terlihat sangat ketakutan.” Kata Rogue lagi. “aku pikir memang seharusnya dia pergi.” Katanya lagi.

Ken mengangguk mengerti. “aku tahu.”

“kau keruangan Ethan untuk membicarakan apa?.” Tanya Rogue.

“entahlah dia memanggilku, kemudian menyuruhku pergi. Aku akan pergi ke night class.” Kata Ken, Rogue mengikutinya.

“pasti ada sesuatu kan?.” Tanya Rogue. Ken tidak menjawab pertanyaan Rogue, dia hanya berjalan dengan pandangan kosong seperti sedang memikirkan sesuatu tapi tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.

***

Elise menangis didalam kamar mandi. Ia merasakan sakit yang luar biasa pada lehernya. “apa dia mau membunuhku juga?.” Tanya Elise pada dirinya sendiri di cermin. “dia sudah tidak seperti Ethan yang dulu aku kenal.” Elise memegang luka pada lehernya. Luka itu seperti terbakar, ia membasuhnya dengan air dan membersihkan darahnya sendiri. “rasa apa ini?. Apa seperti ini rasa yang Gwen rasakan?.” Tanyanya. “Gwen.”

Ruka masuk dan melihat Elise. “apa terasa sangat sakit?.” Tanyanya. Ia memberikan obat pada Elise untuk dioleskan pada luka dilehernya.

“Gwen.” Gumamnya.

“apa kau tidak tahu beberapa saat yang lalu ia sudah pergi.” Kata Ruka menjelaskan tentang kepergian Gwen pada Elise.

“apa?.” Tanya Elise tampak shock dan akan segera keluar. “aku harus mencegahnnya.”

Ruka meraih tangan kanan Elise. “kupikir ini yang terbaik untuknya. Ia tidak akan sanggup menatap Ethan lagi setelah kejadian waktu itu.” Kata Ruka.

Elise terduduk lemas di kamar mandi. “apa aku harus pergi juga?.” Tanyanya.

“kalau kau pergi, duniamu dan dunia ini akan hancur.” Ruka mencoba menasehati Elise. “kuharap hanya karena hal seperti ini kau tidak berpikiran bodoh dan terus berada pada tempatmu.”

“dia sudah berjanji akan mengantarkanku untuk mengunjungi ayahku.” Kata Elise sambil menangis.

“kau tidak boleh cengeng putri.” Ruka meninggalkan Elise yang masih terduduk di kamar mandi sambil menangis.

***

Elise berjalan menuju ke asramanya, ia memutuskan untuk tidak mengikuti night class. Ia membuka pintu kamarnya. Ia kaget saat mendapati Ken ada di dalam kamarnya. “sedang apa kau disini?.” Tanya Elise. “kau tidak mengikuti night class?.” Tanyanya lagi.

“sepertinya dia sangat ketakutan sampai-sampai tidak membawa barang-barangnya.” Kata Ken sembari melewati Elise. “aku akan pergi sekarang.”

Elise memegang tangan Ken. “aku akan memberikannya untukmu.” Gumamnya.

Ken menghadap Elise. “memberikan apa?.” Tanyanya.

“permata hitam itu akan aku berikan kepadamu.” Katanya pada Ken. Elise terisak. “dan aku akan segera pergi dari tempat mengerikan ini.”

Ken menatap Elise lalu membelai rambutnya, ia melihat luka di leher Elise dan mengecupnya. Elise kaget dengan apa yang baru saja dilakukan Ken padanya, ia menatap Ken. Ken mengusap kepalanya dengan lembut. Elise memejamkan matanya. Ken menggendongnya dan mendudukkannya di tempat tidur. Ken berjongkok dihadapan Elise. “tidak apa-apa, tahanlah sebentar lagi. Aku akan menemanimu.” Katanya dengan lembut pada Elise sambil tersenyum.

Elise meneteskan airmatanya dan memeluk Ken. “bawa aku pergi.” Kata Elise mempererat pelukannya.

“setelah semuanya kembali pada tempatnya, aku berjanji akan membawamu pergi dari tempat ini.” Kata Ken pada Elise.

***

Ken menunggu Elise tertidur. Ia mengusap kepala Elise degan lembut dan memandangnya. “segalanya sudah direnggut darimu, maafkan aku.” Gumamnya pelan. Ken menatap wajah Elise lama kemudian memutuskan untuk meninggalkannya. Elise meraih tangan Ken. Ken menatap Elise yang terbangun. “apa aku membangunkanmu?.” Tanyanya.

Elise tersenyum menatap Ken. “bisakah kau ada disini sebentar?. Gwen selalu menemaniku saat aku tidak dapat tertidur.” Katanya pada Ken.

Ken kembali duduk, ia menggeleng, lalu mengecup dahi Elise. “tidurlah, semuanya akan baik-baik saja setelah kau tidur nyenyak.” Katanya. “kau harus terbiasa seperti ini.” Lalu beranjak meninggalkan Elise.

Elise menatap punggung Ken. Ken berbalik sebentar lalu membuka pintu kamar. “aku kesepian, sangat kesepian.” Kata Elise dengan berlinang air mata.

“kau harus kuat, sampai permata itu keluar dari tubuhmu.” Kata Ken sembari menutup pintu kamar Elise. Elise terdiam sejenak, menyadari apa yang baru saja Ken katakan padanya bahwa Ken tidak akan selalu ada menemaninya. Ia menyadari bahwa Ken berbeda dengan Ethan, tidak dapat disatukan. Satu lagi vampir yang berbeda, mereka tidak dapat ditebak.

 to be continued…

 

Note:
Beri komentar yah, jangan copas. Kalau mau menampilkan di blog Anda silakan beri link hidup, capek tahu buatnya.. hufff.. ini buat yang mengerti, jadi kalau kalian mau bangga sama blog kalian jangan ngambil milik orang lain, aku bangga sama tulisanku meskipun tidak terlalu bagus karena ini orisinil. Aku prihatin sama banyak orang yang malah tidak mengerti apa itu hak cipta, dari pengalaman yang pernah aku baca bahkan para author memutuskan untuk tidak melanjutkan karya mereka karena karya mereka di tampilkan tanpa seijin atau malah di diakui oleh orang lain. Yang rugi malah para pembaca sendiri. Aku sebagai pembaca dan juga penulis baru merasa kecewa, tapi aku percaya kepada kalian para pembaca.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s