fanfiction

Fanfiction Vampire Knight Part 13 &14

The Best Advices

 

 

“apa yang dikatakan ayahku padamu?.” Tanya Elise oada Ken. Mereka berjalan pulang menuju ke asrama sambil bergandengan tangan.

“apa?.” Tanya Ken berpura-pura tidak mengerti maksud dari pertanyaan Elise padanya.

Elise tersenyum. “apa aku tidak boleh mengetahuinya?. Aku tahu kalian berbincang-bincang lama, pasti mengenai aku.” Tebak Elise.

Ken tertawa mendengarnya. “kau terlalu percaya diri.” Katanya.

“benar kan?.” Tanya Elise pada Ken. “ayo mengaku!.” Tantangnya.

Rogue datang. Mereka melepaskan tangan mereka. “aku sudah menunggumu daritadi, ada yang mau aku bicarakan denganmu Ken.” Katanya.

Elise terdiam. “katakan saja!.” Kata Ken.

Rogue menggeleng. “hanya kita berdua.” Ia menatap Elise memberi tanda pada Ken untuk menyuruhnya pergi.

Ken menatap Elise. “baiklah.” Katanya mengikuti Rogue, ia menoleh pada Elise sembari tersenyum. “pergilah.” Gumamnya. Elise membalas sennyumannya dan berjalan berbalik arah.

Apa yang akan mereka bicarakan?. Gumam Elise dalam hati.

 

***

 

 

“kita harus tentukan tujuan kita.” Rogue mangawali pembicaraan mereka. “kau akan ada dipihaknya apa dipihakku?.” Tanyanya.

“apa yang kau butuhkan?.” Kata Ken balik bertanya.

“benar, aku butuh bukti.” Kata Rogue. Matannya berlinang. “apa kau mau membuktikan kesetiaanmu?.” Tanyanya. “apa kau tidak membenci pureblood?. Dari dalam hatimu, kau pasti membenci mereka. Iya kan?.”

Ken menggangguk. “tapi dia berbeda.” Gumamnya. Rogue menatapnya. “aku akan membuktikannya padamu. Kemarilah!.”

Rogue mendekat pada Ken. “kau tahu kita dan pureblood tidak akan pernah bisa menyatu, orang itu yang telah membunuh ibumu.” Bentak Rogue.

Ken terdiam. “aku tahu, maka dari itu aku ada disini sekarang.”

“kalau begitu kau menyadari apa yang harus kau lakukan?. Ken kau melewati batas terlalu jauh.” Kata Rogue.

“maafkan aku.” Gumamnya. “aku akan kembali pada batasanku.” Katanya. “aku akan menebusnya.”

“bagaimana caranya?.” Tanya Rogue.

“kau boleh meminum darahku, sepertinya kau haus.” Katanya pada Rogue, Rogue mendekat dan meminum darah Ken.

 

***

 

 

“apa semuanya sudah kembali pada tempatnya?.” Tanya Ruka pada Ethan.

Ethan mengangguk tersenyum. “semuanya memang harus kembali pada tempatnya, aku tahu mereka akan melakukan ini, mereka adalah sepasang sampah.”

“tapi aku sedikit terkejut dengan bau darah ini, aku harap Elise tidak kaget dengan hal ini.”

“ini semua adalah bagian dari hidupnya Ruka, ia harus tahu bahwa akulah satu-satunya yang dapat ia percayai.” Katanya menatap Ruka sambil tersenyum. Ruka mengangguk. “dia akan kembali padaku.” Gumamnya sambil meneguk kapsul.

 

***

 

 

Elise terperanjat dalam kamar asramanya. “ini bau darah Ken.” Katanya sambari keluar kamar, ia mengkhuwatirkan apa yang terjadi pada Ken. Ia mencari Ken. Ia berjalan, semakin ia mendekati semakin bau darah Ken tercium olehnya. Ia berhenti menatap tak percaya yang ada dihadapannya. “Ken.” Gumamnya.

Seakan tersadar, Ken mendorong Rogue pelan untuk menghentikannya. Ia memegang lehernya dan berbalik menatap Elise yang sedang melihatnya bersama Rogue. “Elise aku katakan untuk pergi. Kenapa kau masih disini?.” Tanyanya.

“aku.. aku mencium darahmu.” Gumam Elise.

“ternyata kau peka juga.” Rogue tersenyum sinis menatap Elise. “ada yang ingin kau sampaikan putri?.” Tanya Rogue.

Elise terdiam, kemudian menggeleng. “aku pikir terjadi apa-apa padamu, makanya aku mencarimu. Tapi..” ia tersenyum lirih kemudian menangis. Elise tersenyum sekaligus menangis. “maaf, aku akan pergi.” Katanya kemudian berlari pergi.

“Elise.” Panggil Ken.

Rogue menahan Ken. “sekarang sudah waktunya kau kembali.” Katanya.

Ken menatap Rogue. “aku akan menemuinya sebentar.” Katanya sembari melepaskan tangan Rogue yang memegangi tangannya. Ken mengejar Elise, Rogue hanya bisa menatap kepergian Ken.

“Elise.” Panggil Ken.

Elise terhenti, ia berbalik berusaha untuk tersenyum. “kita anggap tadi tidak terjadi apa-apa. Aku memaafkanmu.” Katanya.

“aku tidak ingin dimaafkan.” Gumam Ken, ia menatap Elise. “kita berada di jalan berbeda sekarang, kau harus tetap bersama Ethan. Dia akan melindungimu.” Kata Ken kemudian berbalik. “kita berakhir sekarang.” Ia melangkahkan kakinya menjauhi Elise.

“Ken.” Panggil Elise, Ken menghentikan langkahnya. “aku hanya ingin tahu apa yang dikatakan ayahku kepadamu?.”

Ken berbalik. “nasehat, sebuah nasehat yang sangat baik.” Katanya. Mata Ken berlinang. “kau tidap perlu tahu apa itu, sekarang sudah tidak ada gunanya.” Ken pergi meninggalkan Elise yang masih terdiam membisu. Secepat inikah semuanya terjadi?. Tanyanya pada dirinya sendiri.

 

 

 

May 8

 

Elise mendongak menatap langit sunyi, entah sudah berapa lama ia tinggal di daerah terpencil. Semenjak kepergian Ken dengan Rogue 2 bulan yang lalu, sekolah dibubarkan. Kepala sekolah melakukan hal tersebut karena sudah waktunya untuk membubarkannya, ia menganggap sekolah sudah tidak berarti lagi saat itu. Tidak ada lagi yang bisa dilindungi. Sudah tidak akan ada kedamaian lagi setelah ini, perang akan segera berlangsung. Elise penasaran apa yang sedang dilakukan Ken saat ini, ia sangat merindukannya. Hatinya pedih setiap kali ia teringat hal itu, ia hanya bisa mendesah. Setidaknya ia akan melihat Ken saat permata itu keluar dari tubuhnya.

“Elise.” Panggil Ethan membuyarkan lamunannya. “kita harus segera pergi lagi.” Katanya. Benar para vampire terus mengikuti Elise untuk melihat tanda-tanda permata itu akan keluar atau tidak. Seharusnya permata itu sudah keluar dari tubuh Elise, tapi entah mengapa permata itu masih tidak kunjung keluar juga dari tubuhnya.

Elise mengangguk. “ayo.” Katanya. “Ruka?.” Tanya Elise.

“dia akan disini bersama Arnold. Rose akan ikut dengan kita.” Kata Ethan.

“baiklah.” Elise menuruti Ethan. Mereka segera bergegas dan mengemasi barang mereka. Elise menatap Ruka dan menghampirinya. “aku harap aku dapat melihatmu lagi.” Katanya.

Ruka tertawa dibuatnya. “kau pikir aku lemah?.” Tanyanya. “pergilah!.”

Elise pergi. “jaga dirimu.” Katanya. Ruka mengangguk menatap Ethan. “aku akan pastikan kalian akan bertemu lagi.” Kata Elise sambil tersenyum.

Ethan, Rose dan Elise pergi meninggalkan Ruka dan Arnold. “kau siap Ruka?.” Tanya Arnold.

“aku siap mati untuknya.” Kata Ruka menggangguk. “aku selalu menantikan hari terakhirku.” Katanya. Musuh sudah ada didepan mereka. Mereka sudah siap melawan semuanya, namun tetap saja jumlah mereka terlalu banyak.

 

***

 

 

Elise, Ethan dan Rose menunggang kuda sekencang mungkin. Tiba-tiba dari arah berlainan muncul 3 sosok yang juga menunggangi kuda. Mereka memutar haluan. Rose terhenti. “biar aku yang lakukan.” Katanya pada Ethan.

Ethan-pun berbalik. “Elise cepat pergi.” Suruhnya. Elise manatap mereka. “permata itu jauh lebih penting.” Teriak Ethan.

Elise mengangguk dan berbalik arah meninggalkan mereka. Sesaat ia menatap kebelakang, lalu memantapkan hatinya. Salah satu dari 3 orang tadi masih mengejar Elise. Elise tak dapat melakukan sesuatu, ia hanya dapat memacu kudanya lebih kencang. Orang itu tepat dibelakang Elise dan mencoba memanahnya. Elise menghindar dengan cepat. Ia memacu kudanya semakin cepat. Ia merasakan dadanya sesak, ia tahu permata itu akan keluar dari tubuhnya sekarang. Orang itu memanah Elise tapi panahnya meleset dan mengenai lengan Elise, Elise tidak menghiraukan lukanya. Tiba-tiba ia terpental dari kudanya yang terkena panah tepat di kaki belakang, permata itu keluar dari tubuhnya memancarkan cahaya yang sangat dasyat. Samar-samar ditengah ketidaksadarannya ia mendengar percakapan.

“permata itu berhasil diambil.”

“dia pasti sudah jauh.”

“percuma kalau kita mengejarnya.”

“orang itu salah satu dari kita.”

“kita hanya bisa bernegosiasi dengan mereka.”

“baiklah aku akan kesana.”

“bagaimana dengannya?, kita tidak bisa meninggalkannya-kan?.”

“bawa dia!.”

 

***

 

 

“emmm..” Elise tersadar, ia merasakan nyeri di sebagian besar badannya. “arghh…” gumamnya mulai tersadar sepenuhnya. “dimana aku?.” Tanyanya. “tempat apa ini?.” Tanyanya lagi. Ia melihat kesekelilingnya ia sadar kalau tidak ada orang disitu.

Tiba-tiba seorang laki-laki berbadan tinggi dan berkulit kecoklatan masuk. “apa kau baik-baik saja?.” Tanyanya sambil tersenyum memandang Elise.

Elise bingung menatapnya. “siapa kau?.” Tanyanya.

Pria itu tersenyum. “aku orang yang menolongmu. Kalau aku tidak ada mungkin kau tidak akan mendapatkan luka panah disitu, tapi disini.” Ia menunjuk kepalanya.

Seorang gadis masuk. “jangan bercanda dengannya. Pergilah!.” Suruhnya. Pria itu tersenyum jail meninggalkan tempat itu.

“Gwen?.” Tanya Elise menatap gadis itu.

Gadis itu mengangguk mengiyakan. “benar, aku Gwen.” Katanya.

“aku senang dapat melihatmu lagi.” Kata Elise matanya berbinar.

Gwen mendekati Elise. “dengarkan aku baik-baik putri sekarang aku sedang tidak berada di pihakmu, tapi aku mau mengatakan bahwa mereka berhasil mengambil permata hitam itu.” Katanya pada Elise.

Elise terdiam. “aku tahu.” Gumamnya lirih.

“sekarang sebaiknya kau beristirahat saja disini, kami akan merampas permata itu sebelum jatuh ketangan yang lain.” Katanya pergi meninggalkan Elise.

“Gwen, kau masih yang aku kenalkan?.” Tanyanya.

“jangan cengeng putri.” Lalu gwen menutup pintu. Elise terdiam menatap ruangan itu, besar dan dingin.

 

***

 

 

Gwen terhenti di depan kamar Elise ia merasa kasihan dengan Elise, ia tahu betapa Elise pasti kesepian. Ia mau berbalik, seseorang mencegahnya. “kau tahu kau sedang tidak berada di pihaknya, jadi jangan mengasihaninya.” Katanya.

Suara itu terdengar sangat berat. “aku tahu, aku mungkin hanya ingin memberinya semangat.” Katanya.

“maafkan aku Gwen, tapi kau tidak bisa melakukannya.” Pria itu lantas pergi meninggalkan Gwen.

“bagaimana rasanya tidak dapat melindungi orang yang kau cintai?. Apakah kau tidak ingin berada disampingnya dia pasti sangat menderita sekarang.” Kata Gwen.

“seseorang harus bertahan hidup, bukan semua. Harus ada darah yang tumpah, kalau tidak dunia ini tidak akan pernah aman lagi. Bawa dia keruanganku, aku akan menanyainya.” Katanya sembari meninggalkan Gwen yang terisak.

“keluarlah, aku tahu kau menguping daritadi.” Katanya.

Pria tadi muncul dari balik tembok. “apa hubungan ketua dengan gadis itu?.” Tanyanya.

“itu bukan urusanmu.” Kata Gwen.

Menarik. Gumam pria tadi sambil tersenyum.

***

 

 

Elise diseret menuju keruangan kecil disitu ada Gwen sedang berdiri, Elise masih tampak sangat kesakitan. Ia terjatuh beberapa kali dan hilang kesadaran. Elise didudukan di sebuah kursi. “bangunkan dia!.” Ia disiram menggunakan air dingin. Elise terjaga. Ia kaget melihat sosok yang hampir tidak dikenalinya karena penuh dengan bekas luka.

“siapa namamu?.” Tanyanya.

“Ken?.” Tanya Elise.

“aku bertanya siapa namamu.” Ulang Ken. Gwen dan pria tadi menatap dari jauh. Gwen tidak tega ia meninggalkan ruangan dan berpapasan dengan Rogue.

“bisakah kau menghentikannya?.” Tanya Gwen meninggalkan Rogue yang berjalan mendekati tempat Elise dan Ken.

“Ken?.” Tanya Elise sekali lagi seolah tidak percaya dengan sosok yang ada dihadapannya, yang sangat ia rindukan.

“aku tanya siapa namamu!.” Bentak Ken.

Elise tersadar. “Elise.” Jawabnya pelan. Rogue menatap Elise dari jauh.

“apa rencanamu?.” Tanya Ken lagi.

“apa maksudmu?.” Tanya Elise.

“pureblood, apa yang sedang kalian rencanakan?.”

Elise tersenyum lirih. “rencana?. Apa?.” Katanya. Elise manatap Ken. “sekarang aku sadar kita ada dipihak yang berbeda.” Gumamnya.

“aku tahu kalian sempat mengadakan pertemuan, apa yang kalian bicarakan?.” Tanya Ken lagi.

“kita sudah berbeda.” Kata Elise lagi.

Ken hilang kesabaran dan menendang bangku Elise. “aku tanya sekali lagi apa yang kalian rencanakan?.” Tanyanya dengan nada yang semakin meninggi.

“aku tetap menyukaimu.”

“kau.” Ken hendak memukul Elise.

“hentikan!.” Teriak Rogue. “dia tidak akan pernah mengatakannya, jadikan dia sandera. Ethan akan segera datang, ia pasti akan menyelamatkannya.” Katanya.

Ken mengangguk. “Ruan, bawa dia pergi!.” Ruan, pria tadi yang menolong Elise. Ia membawa Elise pergi dari tempat itu, Elise menatap Ken. Sesaat pandangan mereka beradu.

Rogue memeluk Ken. “apa kau tidak merasakan sesuatu?.” Tanyanya.

Ken melepaskan pelukan Rogue. “aku sedang tidak ingin membicarakannya.” Katanya meninggalkan Rogue. Rogue menatap Ken.

“aku harap kau sudah melupakannya.” Katanya. Ken mendengarnya tapi ia berpura-pura tidak mendengarnya. Ia memang tidak ingin mendengarnya.

 

to be contiuned…

 

Note:
Beri komentar yah, jangan copas. Kalau mau menampilkan di blog Anda silakan beri link hidup, capek tahu buatnya.. hufff.. ini buat yang mengerti, jadi kalau kalian mau bangga sama blog kalian jangan ngambil milik orang lain, aku bangga sama tulisanku meskipun tidak terlalu bagus karena ini orisinil. Aku prihatin sama banyak orang yang malah tidak mengerti apa itu hak cipta, dari pengalaman yang pernah aku baca bahkan para author memutuskan untuk tidak melanjutkan karya mereka karena karya mereka di tampilkan tanpa seijin atau malah di diakui oleh orang lain. Yang rugi malah para pembaca sendiri. Aku sebagai pembaca dan juga penulis baru merasa kecewa, tapi aku percaya kepada kalian para pembaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s