fanfiction

Fanfiction Vampire Knight Part 17, 18 & 19 (Last Part)

Sweet Memories

Di tempat lain. Ken menatap langit, langit sangat gelap, tiada bintang dan bulan. Malam ini adalah malam yang sangat berat baginya. Ia merasakan kekuatan yang begitu dasyat di dalam tubuhnya. Ia tertunduk merasakan tolakan dalam tubuhnya. Kau pengecut, kenapa kau tidak menjadikannya sebagai milikmu?. Ken tersadar itu adalah suara dari mereka yang bergabung di dalam tubuhnya menjadi suatu kekuatan yang begitu besar yang sangat sulit ia kendalikan. Apa kau merasakannya?. Ada seseorang yang datang?. Bergegaslah!. Kesempatan tidak datang dua kali. Bisikan-bisikan itu mulai mengendalikannya. Cepat lakukan!.

“Ken?.” Panggil Ruan beberapa kali. Ken tersadar ia terengah-engah, ia sulit bernafas. “apa kau baik-baik saja?.” Tanyaya lagi.

Ken tidak kunjung menjawab. Ia seperti hilang kesadaran sesaat. “dimana aku?.” Tanyanya.

“kau?.” Tanya Ruan bingung. “mereka pasti telah mengendalikanmu.” Katanya.

“aku harus merebut permata hitam itu.” Kata Ken pada Ruan.

“apa maksudmu?.” Tanyanya bingung. “apa kau mau membunuh ayah Rogue?.” Tanyanya lagi.

Ken mengangguk. “aku harus melakukannya. Jangan halangi aku!.” Katanya sembari berdiri.

“Ken.” Panggil Ruan. “aku akan membantumu.” Katanya.

Ken bingung. “kenapa?.” Tanyanya pada Ruan.

“karena mungkin itu juga yang diinginkan adikku.”

“bagaimana kalau aku tidak menghancurkannya?.” Tanyanya.

“tetap saja kau harus melakukannya, seorang yang kuat harus melindunginya. Seperti berabad-abad yang lalu permata hitam itu dilindungi oleh keluarga kerajaan pureblood dan tetap pada tempatnya. Meskipun lambat laun mereka kehilangan kepercayaan dan menindas darah campuran.” Jelas Ruan.

Ken mengangguk. “kau hanya perlu menghalangi Rogue bertemu dengan ayahnya.” Katanya sembari meninggalkan Ruan. Ruan mengangguk mengerti dan bergegas.

 

***

 

 

Ken menatap kesekelilingnya. Ia teringat masa lalunya. Matanya berlinang ia memegang dadanya. “ayah, aku sudah memilih jalanku.” Gumamnya.

 

9 tahun yang lalu…

            Ken kecil berlari. Ibunya memanggilnya. “Ken.” Tapi Ken bersembunyi. Seorang laki-laki yang seusianya berdiri di sampingnya.

Ken menoleh. Anak kecil itu tersenyum padannya. “apa kau sedang lari dari ibumu?.” Tanyanya.

Ken mengisyaratkannya untuk diam. “sssttt.. nanti ibuku menemukanku.” Katanya.

“kenapa kau mau kabur darinya?.” Tanyanya.

“karena aku akan bersama dengan ayahku, ibuku bilang akan membawaku pergi darinya sehingga dia tidak bisa menemukanku.”

“aku juga ingin kabur dari mereka.” Anak itu menunjuk ayah dan ibunya yang sedang berbincang dengan ibu Ken. “mungkin kita bisa menjadi teman, namaku Ethan.” Katanya sembari tersenyum.

Ken mengangguk dan menjulurkan tangannya. “namaku Ken. Memangnya siapa mereka?.” Tanyaya.

“mereka orang jahat, aku tidak menyukai mereka.” Kata Ethan

            Ken memandangnya, kemudian memandang ibunya. Pria itu menusuk ibunya berkali-kali. Ken terkejut ia berlari menghampiri ibunya. “ibu.” Panggilnya, tapi ibunya tidak berkutik.

            Ethan kecil menatap Ken. “jangan!.” Kata Ethan pada ayahnya yang sudah siap menebaskan pedang pada Ken juga.

            “minggirlah!.” Suruh ayahnya.

            “jangan, kumohon dia masih kecil. Dia tidak mengerti apa-apa?.”

            Ayahnya akhirnya mengurungkan niatnya dan menggendong Ethan pergi dari Ken yang terisak sangat keras. “kenapa kau membunuh ibuku?.” Tanyanya.

            Ayah Ethan terhenti sejenak. “tidak ada maksud apa-apa hanya saja aku benci manusia yang menikah dengan vampire.” Katanya sambil tersenyum sinis pada Ken. Ethan kecil menatap Ken. Ken juga menatapnya dengan benci. Ken menguburkan ibunya sendiri. Ia memutuskan untuk tidak memberitahukan pada ayahnya. Ia diasuh oleh ayah Rogue dan tidak pernah bertemu dengan ayahnya.

 

3 bulan yang lalu…

            “untuk apa kau memanggilku?.” Tanya Ken pada Ethan.

            “apa kau masih ingat pembunuh ibumu?.” Tanyanya.

            Ken terlonjak mendengarnya. “untuk apa kau menanyakannya padaku?.” Tanyanya pada Ethan.

            Ethan berdiri menghampiri Ken. “kau ingat nama anak kecil yang kau temui sebelum ibumu meninggal?.” Tanyanya.

            “Ethan.” Ken seperti sadar akan seseuatu. “kau?.” Tanyanya.

            “apa kau baru sadar?.” Tanyanya.

            Ken menggempalkan tangannya. “aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pencarianku, karena aku rasa itu percuma.” Katanya.

            “sekarang kau sudah menemukanku, kau tidak mau mencari ayahku?.”

            “jadi benar dia ayahmu?.” Tanya Ken dipenuhi emosi.

            Ethan mengangguk. “kau tidak perlu mencarinya, jika kau ingin balas dendam kau bunuh saja aku. Ayahku sidah berada di dalam sini.” Ethan menunjuk dadanya.

            “kau membunuhnya?.” Tanyanya.

            “benar, karena kau tahu bahwa aku membencinya.”

            Ken tersenyum. “orang seperti apa kalian?.” Katanya sambil menatap Ethan. “sangat menarik.”

 

Ken masuk kedalam kamar Gwen dan Elise. “Gwen.” Panggilnya. Tapi ia tidak mendapati Gwen disana. Ken mencari keluar kamar. Ia bertemu dengan Rogue.

            “kau mencari Gwen?.” Tanyanya pada Ken.

            Ken mengangguk mengiyakan. “apa kau melihatnya?.” Tanya Ken.

            Rogue menggeleng. Ken hendak mencari kembali. “kau tidak usah mencarinya lagi, ia sudah pergi dari asrama dan sudah berhenti.”

            “apa?.” Tanya Ken kaget mendengar penjelasan dari Rogue.

            “tadi aku melihatnya keluar dari gedung sekolah. Sepertinya dia terlihat sangat ketakutan.” Kata Rogue lagi. “aku pikir memang seharusnya dia pergi.” Katanya lagi.

            Ken mengangguk mengerti. “aku tahu.”

“kau keruangan Ethan untuk membicarakan apa?.” Tanya Rogue.

            “entahlah dia memanggilku, kemudian menyuruhku pergi. Aku akan pergi ke night class.” Kata Ken, Rogue mengikutinya.

            “pasti ada sesuatu kan?.” Tanya Rogue. Ken tidak menjawab pertanyaan Rogue, dia hanya berjalan dengan pandangan kosong seperti sedang memikirkan sesuatu tapi tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.

 

Ken menatap pintu yang terbuat dari kayu itu, ia mengetuk pintunya. Terasa dingin. Ia mengetuk lagi karena tidak terdengar jawaban dari dalam. Akhirnya pintu dibuka. “ada apa Ken?.” Tanya ayah Rogue.

“aku ingin mengatakan sesuatu.”

“masuklah!.” Ayah Rogue menyuruh Ken masuk dan pintu ditutup.

 

***

 

 

Rogue berjalan perlahan menuju ke ruangan ayahnya. “Rogue.” Panggil Ruan dari belakang. Ruan tersenyum pada Rogue. “sepertinya kau sedang bahagia?.” Tanyanya.

Rogue mengangguk dan tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya itu. “benar.”

“ada apa?.” Tanya Ruan.

“ayahku memutuskan untuk segera mempercepat pernikahanku.” Katanya masih sambil tersenyum.

Ruan mengangguk. “aku mengerti. Selamat.” Katanya sambil menjulurkan tangan kanannya pada Rogue.

Rogue menerimanya. “aku dengar adikmu bersama dengan Elise?.” tanyanya. “mereka sudah tidak dapat melakukan apapun lagi.” Katanya.

“aku tahu makanya aku tidak mencarinya.”

Rogue mendengus curiga. “aku bertanya-tanya bagaimana mereka dapat melarikan diri. Apa kau yang membantu mereka saat itu?.” Tanya Rogue.

Ruan kaget mendengarnya. “apa?.” Tanyanya sontak.

Rogue tertawa. “aku hanya bercanda. Itu sudah tidak penting bagiku.” Katanya sembari meninggalkan Ruan. Ruan mendengus kesal dengan apa yang baru saja Rogue katakan. Ia tersadar bahwa ia harus menahan Rogue.

“tunggu!.” Rogue menoleh pada Ruan lagi, langkahnya terhenti.

“ada apa lagi?.” Tanyanya kesal.

 

***

 

 

Elise terbangun, ia mendengar suara langkah kaki dari jauh. Semakin lama langkah itu semakin dekat. Ia mengambil pedangnya. Ia mendekati Gwen. “Gwen.” Panggilnya pelan, Gwen tersadar dari tidurnya.

Gwen memandang Elise. “ada apa putri?.” Tanyanya.

“ada yang datang.” Katanya.

Gwen langsung waspada dan mengambil pedangnya juga. Mereka waspada. Semakin lama langkah itu semakin dekat dan benar saja ada seseorang yang mendekati mereka.

Gwen dan Elise langsung mengangkat pedang mereka. “siapa kau?.” Tanya Gwen.

Elise menatap orang itu. “kepala sekolah?.” Katanya kaget dengan sosok yang ada dihadapannya.

Kepala sekolah mengangguk. “benar, aku kepala sekolah. Senang bertemu dengan kalian dan mengetahui kalau kalian masih hidup.” Katanya sambil tersenyum.

 

***

 

 

“apa yang mau kau bicarakan?.” Tanya ayah Rogue yang memberikan segelas darah merah segar pada Ken.

Ken menerimanya lalu meneguknya. “rasanya tidak enak. Aku ingin meminum darah gadis itu.” Kata Ken.

Ayah Rogue tertawa. “kenapa kau tidak minta langsung saja padanya?. Dia akan memberikannya padamu.” Katanya.

Ken menatap dirinya di cermin yang ada di tempat itu. “mungkin Anda salah paham.”       Ayah Rogue menoleh pada Ken dan menatap Ken dengan bingung. “apa maksudmu?.” Tanyanya.

“orang itu bukan anakmu, aku mencintai gadis lain.” Aku Ken.

Ayah Rogue kembali tertawa. “cobalah untuk menyukainya, dia sangat menyukaimu.” Katanya.

Ken menaruh gelasnya yang masih berisi sisa darah, ia menggeleng. “maaf aku tidak bisa.” Katanya, ayah Rogue marah dibuatnya. Ken mengeluarkan pedangnya. Ia mengangkatnya kemuka ayah Rogue.

Ayah Rogue kaget bukan main. “apa maumu?.” Tanyanya.

“aku akan membunuhmu.” Kata Ken sembari mendekati ayah Rogue yang sigap mengambil pedang yang diletakkan di sampingnya.

“maafkan aku.” Kata Ken menebas ayah Rogue, pedangnya tidak cukup kuat menahan pedang Ken. Dengan sekali tebasan ia langsung terjatuh. Ia menatap Ken yang berlumuran darahnya. Ken menunduk. “terimakasih, ayah.” Katanya. “meskipun kau bukanlah ayah kandungku, tapi aku mencintaimu.” Gumamnya. Permata hitam itu keluar dari tubuhnya, ken mengambilnya. Ayah Rogue menatap Ken lagi, akhirnya ia memejamkan matanya untuk selamanya.

 

 

 

 

End of The Day

Ken keluar dari kamar ayah Rogue ditangan kanannya ia memegang pedang yang masih berlumuran darah, di tangan kirinya ia menggenggam permata hitam yang ia rebut dari ayah Rogue. Ia mendengar teriakan Rogue dari jauh menuju kearahnya.

“lepaskan aku!.” Bentak Rogue pada Ruan. Rogue menatap Ken yang dipenuhi darah, Rogue sudah mengerti apa yang terjadi karena yang ia cium adalah bau darah dari ayahnya. Ken memberi isyarat pada Ruan untuk melepaskan tangan Rogue, Ruan melepaskannya. Rogue menatap Ken, matanya berlinang. “katakan kalau itu salah!.” Kata Rogue pada Ken dipenuhi kemarahan. “kenapa kau diam saja!.” Bentaknya.

Ken menunjukkan permata hitam ditangannya. “dengan satu kali tebasan aku mendapatkannya.” Katanya. Ruan menatap Ken.

Rogue menggeleng, ia menampar Ken. “inikah yang kau namakan balas budi?.” Tanyanya.

Ken melangkah menjahui Rogue. “ayo kita pergi!.” Ajaknya pada Ruan.

Rogue menangis histeris, ia terjatuh kelantai. Rogue memegangi kaki Ken. “tidak. Jangan tinggalkan aku!.” Katanya. “aku akan memaafkanmu.”

Ken melepaskan tangan Rogue. “aku pembunuh, lebih tepatnya pembunuh ayahmu.” Kata Ken.

Rogue menggeleng ia menatap Ken. “aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa membencimu.”

Ken menghela nafas. “maaf.” Katanya sembari meninggalkan Rogue. Ruan menatap Rogue sebentar, lalu mengikuti Ken.

“kalau begitu bunuh juga aku!.” Teriakan Rogue masih terdengar oleh mereka berdua.

Ruan menoleh kebelakang. “jangan menoleh dan bimbang.” Kata Ken pelan, lalu mempercepat langkahnya.

***

 

 

Elise terdiam. “apa kata Anda tadi itu benar?.” Tanya Gwen lagi pada kepala sekolah entah untuk ke-yang berapa kalinya.

Kepala sekolah mengangguk. “aku khuwatir rencanamu tidak bisa berjalan semestinya putri.” Kata kepala sekolah sambil menatap Elise yang sedaritadi terdiam.

Elise menggeleng. “tidak, hal inilah yang diinginkan ibuku, aku yang akan melakukannya.” Katanya.

Gwen angkat bicara. “tidak putri, kau tidak dapat mengorbankan dirimu sendiri untuk menghentikan semua ini. Ini bukan tanggung-jawamu.”

“tapi aku hanya ingin supaya pengorbanan ibuku tidak sia-sia.” Elise menatap Gwen. “kita harus mendapatkan permata hitam itu dahulu.” Elise berdiri.

“aku akan ikut dengan kalian.” Kata kepala sekolah.

“mau kemana?.” Tanya Ruan yang tiba-tiba datang. Elise, kepala sekolah dan Gwen menoleh. Gwen tersenyum menatap kakaknya.

Ken muncul, ia menatap Elise. “permata itu ada disini sekarang.” Katanya pada Elise.

Elise menatap Ken lalu menghampirinya. “siapa kau?.” Tanyanya.

Ken tersenyum. “aku Ken, orang yang kau sukai.” Jawabnya singkat.

Elise memeluk Ken. “terimakasih sudah datang menjemputku.” Katanya pada Ken. Gwen tersenyum melihatnya, begitu juga Ruan dan kepala sekolah juga merasa senang.

 

***

 

 

Mereka menatap permata hitam yang ditempatkan dihadapan mereka. “kita harus melakukannya dengan cepat.” Kata Ruan. “kita tahu pada darah campuran dan pureblood sendang menuju kemari.” Tambahnya.

Gwen mengangguk. “kita akan melakukannya putri?.” Tanyanya.

Elise mengangguk, ia mengambil pedangnya. Ia menghela nafas lalu mengambil permata hitam itu. Ia menatap satu persatu dari mereka lalu tersenyum. Ken memandangnnya, kemudian memegang tangannya. Ken melarang Elise melakukannya. “biar aku saja.” Kata Ken.

Elise menggeleng. “tidak, aku akan melakukannya.” Katanya mantap.

Ken tersenyum. “jika kau menghilang banyak orang yang akan sedih.” Ken menatap Elise, Elise menangis. “tapi jika aku yang melakukannya, tidak akan ada yang menangis.” Ken menatap Ruan, Gwen dan kepala sekolah. “dan aku akan senang menebus dosaku.” Katanya lalu memandang Elise.

Elise menatap Ken. “tapi..”

“kau pikir aku bisa hidup setelah semua yang aku lakukan, terlebih tanpamu.” Gumamnya. Elise menyerah, ia menyerahkannya pada Ken. Mereka mundur, sedikit menjauh dari Ken. Tangis Elise semakin pecah. Ken tersenyum menatap Elise. “jangan menangis!.” Pintanya. Elise terus menatap Ken. Ken menusukkan pedang itu ke permata hitam. Terlihat cahaya yang sangat terang dari situ. Elise sempat melihat Ken, sampai ia tersadar. Cahaya itu terlalu terang hingga membuatnya tidak sadarkan diri.

 

 

 

New Beginning

 

Di dalam kehidupan ini hanya ada satu pilihan yang disediakan untuk manusia, kematian. Bahkan di dunia vampire-pun juga mengenalnya. Aku penasaran seperti apa kehidupan kita setelah kematian. Apakah akan lebih indah daripada kehidupan kita saat ini. Ahhh.. bagiku itu tidaklah penting, yang terpenting adalah seberapa baik kehidupan kita di dunia ini. Bahkan orang seperti Ethan-pun bisa memikirkan orang lain. Semua orang terlahir dengan kebaikan, hanya saja pilihan yang membuat kita menjadi seseorang yang jahat. Aku percaya mereka yang telah mengalami kematian akan menjadi kenangan indah diahati mereka yang masih hidup, seberapapun jahatnya orang itu. Itulah bagaimana kita mengenang mereka. Mereka tidaklah pergi, tapi mereka selalu ada disini… dihati kita…

 

“halo?. Iya Ayah, aku mengerti aku tidak akan pulang larut malam. Aku hanya jalan-jalan sebentar ke supermarket bersama teman-teman.” Elise mengangkat handphone-nya, ia masih menggunakan seragam SMA-nya.

“Ini gara-gara kau kembali dan tidak meneruskan studimu di Paris.” Kata ayah Elise dari telephone.

“aku tahu, aku tidak jadi meneruskannya karena aku merindukan ayah terus. Sudahlah jangan mengungkit hal itu lagi ini sudah 2 bulan ayah.” Kata Elise merengek.

“kau ini.”

“Elise ayo cepat!.” Panggil salah satu teman Elise.

“iya.” Jawab Elise. “sudah dulu yah Yah, aku sudah dipanggil nih. Dah ayah.” Katanya sambil segera menutup handphone-nya.

Elise berlari menuju ke arah teman-temannya dengan tersenyum. “lama sekali sih?.’ Tanya mereka.

“maaf-maaf.” Kata Elise sambil sesekali menunduk. Ia tersadar teman-temannya sedang memperhatikan sesuatu di seberang. “ada apa sih?.” Tanyanya.

Mereka menunjuk kearah seorang pria. “lihat dia adalah murid pindahan.” Katanya sambil cengengesan.

Elise tidak dapat melihat wajahnya. “ahhh.. mana?.” Tanyanya.

“itu, dia tampan sekali loh.” Kata mereka.

Elise teringat Ken. Ia menggeleng. “bagiku hanya ada satu orang yang paling tampan sedunia.” Katanya.

“cie..” goda mereka. “siapa?.” Tanyanya. Elise hanya tersenyum malu.

 

***

 

 

“kenapa dia memutuskan untuk kembali?.” Tanya Ruan pada Gwen. “bukankah sangat berat bagi seorang vampire untuk tetap tinggal di dunia manusia?.” Tambahnya.

Gwen menggeleng. “kau masih tidak mengerti?.” Tanyanya. “ia berbeda dari kita.”

Ruan menatap Gwen. “sekarang di dunia vampire sudah tentram akibat tidak adanya permata hitam itu, tapi luka akan selalu membekas di hati.” Katanya.

Gwen tertawa mendengar kata kakaknya itu. “sudahlah, ayo cepat kumpulkan!. Nanti kepala sekolah marah.” Katanya sembari meninggalkan Ruan. Ruan mengikutinya dari belakang, ia juga bersekolah di vampire academy sekarang.

 

***

 

Ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah awal dari segalanya. Semuanya memang berakhir saat Ken menghancurkan permata itu, tapi itu adalah akhir dari perang ini. Hidupku dan hidup semua orang masih berjalan. Aku penasaran kemana perginya orang yang telah tiada. Mungkin suatu saat aku bisa bertemu dengannya. Ken, aku tidak akan pernah melupakanmu. Hidupku menjadi indah dengan adanya semua ini.

 

Elise membeli air mineral, ia menegukanya sekali. Ia memegang lehernya. “aku haus.” Gumamnya. Ia mencoba mengambil kapsul yang ada di dalam kantongnya, tapi sangat sulit untuk mengeluarkannya. Kapsul itu terjatuh dan menggelinding dibawah kakinya. Ia terkejut dan segera mengejarnya.

Ia terhenti, seseorang mengambilnya. “apa ini milikmu?.” Tanyanya. Suaranya berat, seperti terdengar sangat ia kenal.

“itu-kan, murid pindahan yang tampan itu?.” Teriak salah orang dari kejauhan.

Elise mendongakkan kepalanya dan mengambilnya. Ia mengangguk. “benar, terimakasih.” Katanya sambil tersenyum pada pria itu. Ia menatap wajah pria itu lama, orang itu sangat mirip dengan orang yang ia kenal. “Ken?.” Gumamnya.

Pria tadi tesenyum pada Elise. Elise menatapnya terpesona, ia juga tersenyum padanya.

 

***

 

 

“ibu, apa kau senang?.” Tanya Elise kecil pada ibunya.

            Ibunya menerima bunga matahari itu dari Elise, ia mengangguk sambil menggendong Elise. “tentu, ibu selalu bangga padamu.”

            “benarakah?.” Tanya Elise kecil lagi.

            Ibu Elise mangangguk lagi. “kau melakukannya dengan baik.” Katanya sambil mendekap Elise kecil dengan penuh kebahagiaan. “kau akan tumbuh dengan baik, menjadi orang yang hebat.” Gumamnya.

10.05.12

End…

5 thoughts on “Fanfiction Vampire Knight Part 17, 18 & 19 (Last Part)

  1. Ga bisa brkata” lagi kerennnn
    maff author komen.a part prtma n akhr doang …
    Tpi serius crta.a tu menarik n bhsa.a mudah dmngeri😀

    o ya lam knal author …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s