cerpen

[cerpen] One Hundred % I Love U part 1, 2, 3

daripada gak ngepost, kayak blog yang kehilangan tuannya, aku mau ngebagiin karyaku.. original buatanku sendiri, ini kisah pendek tentang persahabatan dan cinta..

judulnya one hundred % i love u

PROLOUGE

And…

The sun shines very beautiful…

I hope today never end, my feelings, my heart is beating for you..

I love you..

Seperti debaran jantung, kita tidak akan bisa menghitungnya, begitulah cinta tidak dapat terhitung seberapa keras kita mencobanya…

Hujan ini mengingatkan aku padamu, pertama kali aku mengenalmu, meskipun saat itu cuaca dingin berkatmu hatiku terasa hangat. Sesosok pria yang sangat lembut tersenyum kearahku.

Ya.. sudah 5 tahun berlalu semenjak itu..

Day 1

Sayup-sayup aku mendengar bunyi alunan piano dari ruang musik di sebelah kelas baletku, dan aku selalu tahu siapa orang yang tengah memainkannya. Akupun tersenyum membayangkan wajahnya.

“Erika sedang apa kau???” kata makhluk aneh berkacamata itu, “cepat fokuss..!!” diapun membentakku.

Aku segera menghampirinya dan memulai melihat Minji, murid kesayangannya itu memperagakan tarian baletnya pada kami, cuhh menjijikkan sekali pekikiku dalam hati.

Konsentrasiku buyar saat akupun lebih memilih untuk mendengarkan alunan merdu piano itu lagi. Perlahan-lahan aku hanyut didalamnya.

Bayangannya tersenyum kearahku, semerta-merta berkata. “kenapa?? Kau menyedihkan!.”

“ERIKAAAAA….” lamunanku-pun dibuyarkan oleh makhluk jelek berkacamata itu lagi.

“ia Bu.” sahutku. “maafkan aku, aku akan memperhatikan.”

Dan kelas yang membosankan ini-pun berlanjut, tiada praktek bagi kami semua untuk mengasah kemampuan kami hanya ada teori dan teori, sungguh membosankan. Aku menjerit sekeras-kerasnya didalam hatiku, aku percaya aku bahkan lebih hebat daripada Minji. Kalau saja aku lebih beruntung bisa punya wajah semenarik Minji, wajah yang dikagumi banyak pria. Sedangkan aku, aku tidak lebih dari gadis biasa yang akan dengan mudah dilupakan orang. Aku juga terlalu pengecut, menyimpan perasaan begitu dalam pada seseorang selama 5 tahun tanpa mengatakannya sama sekali, bahkan untuk menyapanya saja aku enggan.

Aku tahu aku tidak semenarik Minji yang cantik, putih, dan berambut panjang. Tapi aku manis juga kok, dengan tinggi 163 cm dan berambut ombak kecoklatan aku udah cukup puas dengan wajah pas-pasanku ini. Tetapi wajah pas-pasan tidak cukup untuk menjadi modal mencintai orang itu, William. Cowok itu dari kelas musik dan memang menjadi idola karena wajahnya yang blasteran dan gaya bicaranya yang bercampur inggris.

Sekolahku ini terbagi menjadi 3 jurusan, jurusan musik, balet, serta jurusan seni. Masing-masing jurusan kadang bisa dijadwalkan didalam satu kelas, seperti kelas bahasa inggris, sejarah, astronomi. Dan aku selalu berharap dapat sekelas dengannya.

******

“akhirnya kelas bubar juga.” pekiku pada Nay dan Eli, mereka tertawa bersamaan. “memangnya lucu?.” tanyaku sambil memanyunkan bibirku pada mereka yang malah menikmati penderitaanku.

“enggak kok, kami cuma tahu aja kamu bakalan bilang kayak gitu, kalo berakhir kayak gini. Kenapa gak sekalian aja kamu ngambil kelas musik biar bisa seharian penuh ketemu sama pangeran pujaanmu itu?.” Kata Eli panjang lebar, tawa merekapun meledak tidak karuan.

“mungkin kamu benar, setidaknya aku gak akan sebosan ini.” Kataku sambil mengambil nafas dalam-dalam.

Merekapun tercengang, “kamu serius mau mengikuti apa yang kamu gak suka demi cowok yang bahkan gak mengenalmu?.” Kali ini ganti Nay yang bertanya padaku.

“ya enggak lah, aku cuma bo’ong lagi.” Sekilas aku melihat wajah lega dari antara mereka. “aku gak mungkin sampe segitunya.” Lalu kami bertigapun tertawa.

Kami menyusuri korodor sekolah yang sudah nampak sepi saat sepulang sekolah. “besok aku akan ada kelas bahasa inggris dengannya, seneng deh.” Kataku smbil meringis kegirangan setelah membaca papan jadwal besok.

“ampun deh orang ini, masih aja suka. Gimana sih bisa suka padahal gak pernah ngomong?.” Tanya Nay yang langsung mendapat anggukan dari Eli.

“kamu berdua gak akan pernah tahu gimana rasanya. Saat jantungmu berdebar, itulah saat dimana kamu jatuh cinta.” Kataku sambil cengengesan.

“ia deh, tapi cinta kamu itu gak beralasan banget tahu.” Kata Eli sambil jalan duluan, disusul Nay.

Andai kamu tahu, kataku dalam hati.

Saat sampai didepan gerbang sekolah, kak Riko datang menghampiri kami. Kak Riko adalah tetanggaku, sambil tertawa kami diajak nebeng mobilnya. Dengan senang hati kami naik.

Di mobil kami-pun membahas banyak hal, mulai dari musik, sampai Minji. Maklum cowok mana sih yang tidak terpesona dengan kecantikkannya. Aku memberanikan diri bertanya pada kak Riko apa  yang disukai banyak cowok pada Minji dan kak Rikopun menjawab dengan bijaksana. “kalian gak perlu iri lagi sama dia yang katanya punya kecantikan dari sorga, mereka yang mencintai seseorang karena kecantikan itu bukan cinta yang sebenarnya.”

Exactly, itu poinnya. Aku tersenyum dalam hati merasa puas dengan yang kak Riko sampaikan tadi. Dan tidak terasa aku sudah sampai, setelah mengucapkan terima kasih pada kak Riko, akupun masuk kedalam rumah.

******

Setelah sampai dirumah, aku langsung mandi dan membenamkan diriku kedalam ingatan masa lampau.

Aku berhenti di sebuah cafe yang sudah tutup untuk berteduh dibawah hujan yang lebat, waktu itu aku masih kelas 1 SMP, ya 5 tahun yang lalu. Karena seluruh badanku basah semua, aku menggigil tak karuan. Tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan minuman hangat padaku. “ini, untukmu.” Aku terdiam, “kalo kamu gak mau mati beku, lebih baik kamu ambil dan minum ini!.” Sentaknya terlihat mengkhawatirkanku.

Dengan enggan dan tangan yang masih bergetar aku menerimanya, dan benar saja sekujur tubuhkau terasa hangat terbuai olehnya. Aku meminumnya dan dengan tersenyum berkata. “enak.” Dia menoleh padaku sambil tersenyum. “terimakasih.” Kataku. Kami teridiam menunggu hujan reda, hanya berdua.

Aku terdiam, memandangi diriku didapan cermin, benarkah dia sama sekali gak ingat sama aku?? Apa benar aku terlalu bodoh, karena kau sendiri yang menyimpan cerita itu diam-diam sementara dia gak menganggap itu apa-apa. Kebingunganku menjalar ke sebagian tubuhku. Cinta, hanya membuat pusing dan linglung, yah aku putuskan akan menyapanya.. fighting!!

Day 2

Pagi yang indah. Masih dengan semua kejenuhan ini. Bosannnn..

“apa yang sedang kau pikirkan?.” Sapa kak Riko membuyarkan lamunanku. “sendirian duduk disini seperti orang linglung.” Aku hanya meringis, kak Riko memegang dahiku mencocokkannya dengan suhu dahinya. “ternyata kamu gak gila.” Cengirnya tengil.

“kakak. Gak lucu ah.” Kataku berpura-pura ngambek. “eh aku lupa, kak aku duluan ya. Aku ada kelas bahasa inggris, bye.” Kataku sambil pergi terburu-buru meninggalkan kak Riko yang geleng-geleng melihat tingkahku.

Aku duduk dibangku kedua paling depan, karena bangku paling belakang sudah terisi penuh. Kali ini Eli ataupun Nay tidak ada kelas bahasa inggris, jadi aku harus duduk sendirian. Aku diam sejenak, karena melihat William yang datang bersama teman-temannya sambil bercanda dan sesekali tertawa lebar. Jantungku berdegup semakin kencang, aku akan menyapanya, batinku. Tapi kemauan itu gak sejalan dengan mulutku yang daritadi ku tutup rapat, apalagi waktu dia duduk di bangku depanku. Hal tersebut makin menyayat batinku. Lalu Minji masuk dan meminta ijin untuk duduk disebelahku karena bangku yang lain sudah penuh. “ya silahkan.” Jawabku sambil tersenyum memaksa.

“Will.” Katanya memanggil William, sontak aku heran kenapa mereka bisa berteman, William tidak menghiraukannya. “Will, please. Don’t ignore me again!.” Katanya, menambah keingintahuanku tentang apa yang terjadi pada mereka.

please shut up!.” Kata William, dibarengi dengan dimulainya pelajaran.

Rasa curiaku mengalahkan rasa gengsiku. Aku mencoba mencari tahu tentang hubungan mereka. “apa kalian bertengkar?.” Tanyaku baik-baik.

“apa pedulimu?.”jawabnya sinis sambil menoleh padaku.

Aku tersenyum kecut. “eh gak ada.” Jawabku enggan.

“ya udah, jangan nanya-naya lagi!.”

“ia deh.”

William menoleh kearah kami, aku jadi salah tingkah. “keep silent.” Katanya pada kami.

“oh okay, sorry.” Kataku minta maaf, William menoleh pada Minji. “not you, but her.” Katanya kemudian.

“Willi..” rengek Minji.

Aku jadi salah tingkah berada di tengah-tengah mereka, aku jadi tahu kalau mereka baru saja bertengkar, dan William meminta mereka putus. Meskipun aku sempat berbicara dengannya, tapi kenapa hatiku ini terasa sakit?

******

Kelas bubar, Minji masih berusaha meminta maaf dan mengejar William. Aku menyakinkan diriku bahwa mereka tidak akan kembali, aku yakin.

Seusai kelas bahasa inggris aku akan ada kelas balet, aku duduk-duduk di kantinpada jam istirahat. “Rika, madam mencarimu.” Kata Agustin teman satu jurusanku.

“oke triama kasih.” Kataku sambil bergegas menuju ruang madam. Aku berfikir ada apa madam memanggilku, apa karena nilai mata pelajaran inggrisku, atau ada hal lainya.

Sejenak aku enggan mengetuk pintu, aku sedikit khawatir.

what are you doing? Apa kamu gak akan menyingkir dari situ?.” Katanya dari belakangku.

“eh iya maaf, aku akan membuka pintunya.” Kataku sambil menoleh an kaget karena orang itu William. Dia langsung masuk kedalam duluan, meninggalkanku yang masih bingung.

“ohh are you both coming together?.” Kata madam sambil tersenyum. “ohh please sit down.”

Kami berduapun duduk berdampingan, makin lama debaran jantungku semakin menggebu-gebu. Akupun memfokuskan diri untuk mendengarkan ucapan madam.

so, to the point. I need you together to make a story.”

“ha?.” Tanyaku melongo sambil menoleh pada William.

what kind of that story? And why its me, as you know madam, my english isn’t very good.” Kataku panjang lebar.

William diam saja dan aku tahu kalau dia sudah tahu tentang ini. “it’s for our school farewell drama, we need an english story, and you just be a girl who in this story. And william who will makes that story. The story tells about a balerina girl, so you just become an inspiration to William and teach him about ballet.” Kata madam panjang lebar.

“oh, i know if u choose William, because he have a good skill in english, but madam saya juga ga seberapa bagus di balet. Saya bisa merekomendasikan seseorang yang selalu mendapatkan nilai teringgi di kelas.”

Mereka terdiam, madam menoleh pada William yang daritadi tidak bicara sekalipun. “ya udah kalo kamu gak mau.” William dengan kesal meninggalkan kami.

“madam?.” Madam hanya mengangkat kedua tangannya tanda gak mau ikut campur.

Aku mengejar William, “gini kalo kamu mau, kamu bisa ajak Minji. Dia itu lo yang aku ceritakan tadi, apalagi kalian udah saling kenal….” belum selesai aku bicara, William memotong kaliamatku.

so? If someone gives you a change, you can throw away that easily like this, i not understand you, oke if you doesn’t want, but please don’t say other person. Maybe i doesn’t know you, so i cannot say like this to you, sorry.” Katanya sambil meninggalkanku pergi. Aku tanpa kata-kata menahan kepedihan ini.

******

“jadi????.” Tanya Eli dan Nay bebarengan setelah mendengarkan cerita panjang lebarku. “aku tolak lah.”

Tampak raut wajah kecewa dimata mereka. “bodoh, bukankah saat-saat gini malah berarti buat kamu.” Aku masih tidak mengerti ucapan Nay. “kamu bisa mengenal dia, pangeran 5 tahunmu itu lebih lagi, dan peluang untuk mendapatkannya jauh lebih besar daripada hanya berdiam diri menatap kepergiannya.”

Aku tersadar, benar, pikirku. Betapa tololnya aku. “tapi, apa namanya bukan memanfaatkan, padahal aku tahu kalo aku gak seberapa bagus dalam balet.”

“kamu ini memang benar-benar bodoh ya.” Kata Eli yang gantian mengataiku bodoh. “mau memanfaatkan kesempatan, atau apa kek namanya, asal bisa mendapatkan dia kenapa enggak sih?.”

Saran ini mendapat anggukan dari aku dan Nay. “kalo gitu kamu besok harus minta maaf padanya dan bilang kamu mau menerima tawaran itu.”

“baiklah.” Senyumku. “eh kita terlambat nih kalo gak segera bergegas.” Pekikku sambil melihat jam tangan, kami buru-buru masuk kelas selanjutnya.

******

Kesempatan itu sepertinya benar-benar memihak padaku, pikirku, hari ini adalah hari yang paling indah dalam hidupku. 5 tahun berharap bisa berbicara dengannya dan akhirnya aku berbicara dengannya hari ini.

Maybe i doesn’t know you

Kata-katanya terngiang dalam benakku, dia tidak mengenaliku? Sungguh?. Padahal aku selalu mengingat kejadian itu. Jadi, menurutnya itu hanya kejadian biasa. Aku merasa sedikit kasihan pada diriku sendiri. Aku tersenyum ketir. Adakah seseorang yang mencintaiku?

Aku tidak bisa tidur memikirkan kata-kata yang tepat untuk meminta maaf pada William. Entahlah, semoga keajaiban besok yang menuntun lidahku.

Day 3

Pagi-pagi sekali aku melangkahkan kakiku menuju ke kelas seni musik. Aku berhenti sejenak memperhatikan Minji berbicara begiru serius didepan kelas seni musik. Aku berpikir mungkin William sudah memberikan kesempatan itu pada Minji. Aku berbali tepat saat William memanggilku. Aku menoleh dan tersenyum.

do you want to meet me?.”

Aku hanya bisa cengar-cengir. “eh gak kok kebetulan aja aku lewat.”

are you serious?.”

“yeah.” Kataku. Sambil melangkahkan kakiku menjauhi William. bodohhhhh

are you stupid or idiot.” Kata dari William menusukku. Aku menoleh memandangnya, berpura-pura gak mengerti apa-apa. “say it. Just say.”

“enggak, aku gak ingin mengatakan apa-apa kok padamu.” Kataku.

“bodoh, kamu pikir aku milih Minji sebagai penggantimu?.”

“apa? Jadi kamu gak berpikir untuk menggantikan aku dengan Minji?.” Tanyaku, Williampun mengangguk.

“aku pikir…” kataku.

so?.’tanyanya.

“emmm. Aku mau minta maaf atas kejadian kemaren. Aku mau menerima tawaran itu.”

good. Kamu bener, gak semua orang diberikan kesempatan gede kayak gini.” Dia kemudian tersenyum, akupun membalas senyumannya.”so, latiannya dimulai besok, ingat ya jangan telat, ato akan ada hukuman baut yang melanggar.”

“apa? Dimulai besok???? Cepet banget??.” Kataku heran.

don’t say anything, just do that!.” Katanya dengan dingin, kemudian langsung masuk ke kelasnya, meninggalkan aku.

Setelah aku sedikit mengenalnya, aku baru tahu kalo dia itu orangnya agak menyebalkan, bukan agak tapi sangat menyebalkan. Mau menang sendiri.

******

“aku senang.” Teriakku sambil memeluk Nay dan Eli dari belakang.

“beneran toh, kamu sih. Masak mau menyerah sebelum berperang??.” Kata Eli menyambut pelukanku. “aku turut senang deh.” Katanya lagi sambil tersenyum.

“gimana?.” Gantian sekarang Nay yang menanyaiku.

“gimana apanya?.” Tanyaku bingung.

“kamu ini oon banget sih.” Kata Nay. “sifatnya, karismanya, ato apalah.”

Aku nyengir. “hehehe.. karisma 10, attitude 0.” Kataku membuat mereka melongo. “benar-benar manusia dingin dan mau ngatur-ngatur sendiri, you kow?.” Kataku sambil diikuti manyunan mereka. “tapi tenang aja, dia tetep my adorable princeku, ah aku harus banyak belajar bahasa inggris nih.” Kataku sambil ngibrit. Meninggalkan mereka berdua yang masih melongo, menatap dengan diam kepergiaku.

“dasar aneh.”

******

Aku memasuki kelas balet, terasa susana yang aneh. Apa hanya perasaanku saja ya?. Neni, Felery, dan Anggi datang menemuiku, mengajakku berbicara diruang ganti. Aku dengan senang hati mengikuti mereka. Aku merasa tidak ada yang aneh, setelah mereka tiba-tiba mengunci pintunya.

“ada apa?.” Tanyaku memulai pembicaraan.

“jangan sok gak tau deh.” Kata Felery yang maju mendekatiku.

“maksutnya?.” Tanyaku masih bingung.

“kamu ini, kamu seharusnya sadar diri dong sama posisimu itu kamu yang dipilih sama madam. Kamu seharusnya nolak bukan malah kesenengan dan ngelunjak kayak gini.” Katanya lagi.

“trus mau kamu apa?. Aku yang dipilih, terserah dong aku mau nerima ato mau nolak.” Kataku nantang.

“oh jadi kamu nantang gitu?.” Sekarang giliran Anggi yang tanya.

“engga kok, aku cuman mau tegesin aja….”

Belum selesai aku bicara Anggi memotongnya. “seharusnya kamu sadar yang sesungguhnya dipilih madam adalah Minji, tapi karena dia ada masalah dengan William makanya William nolak.”

“kata-katamu gak sopan banget.” Kataku melototin Anggi.

Anggi menamparku. “kamu yng gak sopan.”

“kamu.” Kataku penuh dengan emosi. Terdengar ketukan dari luar, Neni yang sedaritadi menjaga pintu membukakan pintu itu. Minji yang cantik itu masuk.

“kalian ini apa-apaan sih.” Katanya. “udahlah, kalian harus minta maaf padanya.”

“tapi Minji, diakan.” Kata Lely.

“udah deh, bubar, jangan lakukan ini terhadapnya lagi.”

Mereka semua pergi meninggalkan aku berdua saja bersama Minji.

“makasih ya.” Kataku dengan tulus.

“makasih? Gak salah seharusnya kamu minta maaf karena udah merampas apa yang aku inginkan, suatu saat itu akan kembali pada pemiliknya.” Katanya lalu pergi meninggalkanku.

Ternyata dia sama aja kayak mereka.

******

Rasa sakit atas hinaan dari mereka, lebih sakit daripada tamparan Anggi. Air mataku mulai menggenang. Memangnya kenapa kalo aku yang dipilih, bukan Minji?. Menyebalkan.

“kamu belum pulang? Ada kelas tambahan ya?.” Kata kak Riko yang menuju kearahku.

Spontan aku merubah mimik wajahku menjadi ceria, “eh kakak juga belum pulang?. Enggak kok ini aku juga mau pulang.”

“ada apa? Apa kamu sakit?.” Tanyanya terlihat mengkhawatirkanku.

Aku menggeleng. “aku sehat banget kok kak.” Kataku sambil tersenyum.

“mau aku antar pulang?.” Tanyanya.

“eh enggak usah deh kak, aku mau mapir ke toko buku dulu. Aku permisi.” Pamitku seraya meninggalkan kak Riko.

******

Hari yang benar-benar melelahkan. Di taksi tak terasa aiir mataku menetes, aku tidak kuat. Aku gak boleh memberitahukan hal ini pada Nay dan Eli, nanti malah membuat mereka khawatir. Pikirku, sambil mengurungkan niatku menelpon salah satu dari mereka.

Cuaca sedang tidak baik, hujan rintik-rintik mewarnai hari kelabu ini, suara kendaraan yang lalu lalang terdengar sayup-sayup. Hari ini aku memberanikan diri melihar dari kaca luar sebuah toko buku, hanya untuk melihat wanita paruh baya dengan tersenyum melayani pelanggan. Tangisku semakin menjadi-jadi. Hidupku seperti mau berhenti saja disini. Ini pertama kalinya aku merindukan ibuku. “ibu.” Isakku. “aku lelah.”

Ibuku meninggalkan aku dan ayahku demi menikah dengan pria kaya. Aku sangat membencinya. Ibu berfikir dengan menikahi pria kaya itu ibu bisa hidup bahagia, lihatlah apa yang sekarang ia dapatkan, hanya keriput dan keringat yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagian sama sekali. Pria kaya yang dinikahi ibuku meninggal dunia setahun setelah mereka menikah, hal ini membuat perusahaannya bangkrut. Ibukku harus membiayai anak-anak yang bukan darah dagingnya sama sekali.

Miris. Tangisku reda, sambil tersenyum aku pergi meninggalkan toko buku tersebut. Aku akan datang lagi akhir pekan, kataku dalam hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s