Uncategorized

[Cerpen] One Hundred % I Love You Part 4, 5, dan 6

Day 4

Setelah kejadian yang menimpaku kemarin, hatiku masih terasa sangat sakit. Aku linglung. Akibatnya fatal aku telat bangun, meski tidak ada kelas pagi aku ingat kalau aku mulai pertemuanku dengan William hari ini. Aku pasti telat. Aku bergegas memanggil taksi, dan melihat kearah jam tanganku. Tidak aku tidak akan telat, kalo tidak dia akan menghukumku. Batinku.

Aku berlari sekuat tenaga menuju keruang kecil, tempat sebuah piano tua, aku memperlambat langkahku, nerhenti di pintu. William memainkan piano itu, lagu itu mengubah moodku, aku tersenyum dan bertepuk tangan sesaat setelah William menyelesaikan musiknya.

not bad.” Kataku.

not bad?. Are you kidding?.” Katanya sinis.

Aku hanya tersenyum sinis. “you’re late. So i must give you punishment.” Katanya.

what?? Wait…!!.” kataku shock. “aku gak telat kok.”

“kamu telat. Telat 1 detik.”

“apa? Kamu mau mempermainkanku?.”

“laki-laki itu memegang teguh kata-katanya tau.” Katanya lagi.

“tapi…”

“gak ada tapi-tapian.” Katanya sambil tersenyum licik.

*******

            “48,49,50. Okay, good.” Katanya sambil tersenyum. “kamu gak pernah olahraga ya? Masak hanya segitu oang udah kaya dicopot jantungnya.”

“udah deh, nyebelin banget, aku bales kamu.” Kataku sebal.

“oh iya??.” Tanyanya. “aku gak akan pernah terlambat.”

“oh iya??.” Kataku menirukan gayanya. “aku janji deh bakalan ngebuat kamu ngerasain.”

Hal itu hanya disambut dengan senyuman sinis olehnya, yang membuat aliran darahku semakin menjadi-jadi. Aku ingin sekali menendang wajahnya.

alright,  let’s start.” Katanya. “do you know me?.”

“ah?? Ah yah.”

of course because i’m popular.” Jawabnya sombong.

Cihhh.. pekikku dalam hari.

introduce yourself.” Perintahnya.

“ehhh, panggil aja aku Rika.” Kataku sambil tersenyum.

“Rika.” Ulangnya.

“ya, Erika.” Senyumku.

“baik, kita mulai darimana? Critakan padaku tentang balet.” Katanya langsung tanpa basa-basi.

Jantungku berdebar, aku gak pernah menyangka bisa sedekat ini dengannya. Oh tuhan makasih, pikirku.

******

            “asal kamu tahu balet itu gak bisa dikategorikan sama dance, balet punya seninya sendiri.” Aku melirik Will yang daritadi tidak mengeluarkan suaranya. Dan benar saja, dia tertidur pulas. Menyebalkan aku udah panjang lebar ngejelasinnya tapi dia malah ketiduran, kataku dalam hati. Muncullah ide gilaku buat ngerjain si Will sombong ini. Aku duduk dihadapan piano usang itu dan membukanya. Kutekan notnya langsung dengan ke5 jariku, menyebabkan bunyi bising.

Will terbangun dengan wajah kagetnya. “what are you doing?.” Tanyanya. “this is a piano.” Gerutunya.

and i know that exactly.” Senyumku. “kamu ngajak aku kesini buat belajar tentang balet, tapi kenapa kamu malah tidur.” Kataku kesal sambil mengambil tasku, William hanya memperhatikanku tanpa berkata apapun. “now, i decided to finish this class.” Kataku sambil melambaikan tangan. “bye.”

Aku pergi meninggalkan William, yang tidak mengucapkan sepatah katapun. Aku berjalan menuruni tangga. Melihat kesekitar kelas musik yang bersebelahan dengan kelas balet. William pasti kesal sekali tadi, pikirku sambil cengar-cengir sendiri.

“kenapa kamu tertawa-tertawa sendiri sih? Menakutkan tahu.” Protes Nay yang tiba-tiba sudah ada disebelahku tanpa aku sadari.

“lo sejak kapan kamu..”

“makanya jangan seringan ngelamun.” Aku hanya bisa nyengir. “gimana kelas privatnya?.” Katanya menggodaku. “sukses?.”

“sukses, tapi..” jawabku ragu.

“tapi kenapa?.” Tanya Nay penasaran.

“dia gak ingat deh kayaknya sama aku, tadi dia ngajak aku kenalan.”

“yang penting sekarang kamu bisa lebih deket daripada dulu, daripada cinta tanpa saling menyapa kan lebih baik kayak sekarang.” Kata Nay ada benernya juga.

“ya udah deh aku ada kelas seni lukis, nanti kita ketemu pulang sekolah ya. Bye.” Pamit Nay buru-buru masuk ke kelas.

“eh, bye.” Aku tersenyum.

******

            “jadi beneran nih akan ada kompetisi balet?”

“asik, aku mau ikut dong.”

“wah hadiahnya lumayan.”

“ke LA.”

“mau banget, aku harus menang nih.”

“iya.”

“ada apa?.” Tanyaku penasaran, sedaritadi mendengarkan mereka membicarakan kopetisi.

“ada kompetisi balet, sebulan lagi. Lumayan hadiahnya bisa belajar balet gratis di LA.”

“ooh.” Jawabku singkat.

******

            Waktu berlalu cepat. Aku bingung Minji yang tidak pernah absen, malah tidak masuk kelas. Anak-anak pada pulang selesai kelas bubar. Lagu cry-cry T-ara dari handphone-ku berdering.

hallo?.” Tanyaku membuka pembicaraan.

Dari seberang sana, terdengar suara yang agak bising. “Rik, gak usah nunggu aku deh, aku udah ada di tempat karaoke nih, diajak temen-temen.” Kata Nay.

“oh iya deh, ntar aku pulang ndiri.” Kataku.

“ya udah ati-ati ya.”

“oke deh, bye.” Kataku sambil memutuskan telephone.

Akhirnya aku memutuskan buat menruskan latihanku, aku tidak memperhatiakan William yang sedaritadi melihat kearahku.

not bad.” Katanya.

“copas.” Kataku sambil tersenyum. “ada apa nih?.”

our class haven’t finished.” Jawabnya sambil tersenyum kearahku. “ i decided when it’s finish or no, not you.”

“oh, yah i understant, but..” belum selesai aku bicara sudah dipotong oleh kak Riko yang datang.

“Rik.” Kata kak Riko yang tiba-tiba muncul mrngagetkan kami berdua. “oh sam teman ya?.”

“eh iya kak, ada apa ya?.” Tanyaku bingung.

“tadi Nay nelpon aku nyuruh nganterin kamu pulang.” Jelas kak Riko.

“eh.”

she cannot go home now.” Kata William menjawab ajakan kak Riko.

“apa?.” Tanya kak Riko dan aku bersamaan. “maksutnya?.” Tanya kak Riko lagi.

“eh gini lo kak, nanti aku pulang sendiri aja, aku masih ada urusan sama orang ini.”

“tapi nanti kamu jadinya pulang sendiri dong, kalo terlalu malem gimana?.” Tanya kak Riko khawatir.

she is not a child again, leaves us!.” Kata William dengan seenaknya.

“kak Riko sepertinya agak marah, dia agak tersinggung dengan kata-kata tidak sopannya William.

“ia kak bener, ya sudah deh kakak pulang aja dulu. Gak usah cemasin aku .” kataku mencairkan suasana.

“ya udah deh.” Kata kak Riko mengalah. “kalo butuh apa-apa hubungin aku aja, ntar aku jemput kamu.”

“ia deh.” Kataku menyetujui.

******

            Akhirnya kak Riko meninggalkan kami berdua.

finally.” Kata William. “you looks his face, hahha, funny.” Katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

unpolite.” Kataku marah.

“apa?.” Tawa William langsung reda.

“cepat, mana? Aku mau pulang segera.” Kataku mencoba menahan emosiku yang menggebu-gebu.

“apa kamu suka sam dia.” Tanya William menohokku.

“maksutmu?.” Tanyaku.

he looks very like you, jadi jika kamu suka sama dia juga. Kalian pasti akan menjadi pasangan yang cocok.” Katanya sambil cengar-cengir.

“tahu apa kamu, Cuma ngeliat gitu doang udah lansung mengambil kesimpulan kayak gitu.” Sahutku sambil berlinang air mata. Aku tahu William pasti sekarang sedang bingung karena aku menangisi hal yang sepele. “kamu gak tahu, perasaan itu gak semudah yang terlihat dari mata.” Bentakku, air mataku menetes ga karuan.

“kenapa? Why are you crying?.” Tanya William masih bingung.

“besok aku akan melanjutkan kelasnya, aku mau pulang aja. Besok aku akan menerima hukumannya.” Kataku sambil mengemasi barang-barangku.

William bingung, tidak tahu harus berbuat apa. “yah, bye.” Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

******

            “what am i doing?.” William bertanya pada dirinya sendiri. “kata-kataku pasti terlalu kasar tadi. Menyakiti orang yang dia sukai. Ya ampun, aku menyesal sekali.” Wiliam berjalan menuju gerbang sekolah, langkah kakinya terhenti. Ia menoleh melihat bayangannya di cermin. Mendongak keatas. Pikirannya melambung jauh ke masa lalu.

Seorang gadis kecil menggigil kedinginan ditengah lebatnya hujan, William kecil memutuskan membelikannya minuman hangat, gadis kecil itu menerimanya. Saat hujan sudah reda, William kecil melangkahkan kakinya meninggalkan gadis itu. Tapi ternyata dia tidak benar-benar meninggalkannya, ia mengikuti gadis itu sampai kerumahnya.

“aku memang tidak tahu apa-apa tentang cinta, tapi satu yang aku tahu perasaan ini….”

******

            Erika terisak sesampainya dirumah, ia langsung masuk kedalam kamarnya tanpa menyadari kalau ayahnya sedang memperhatikannya daritadi.

stupid.” Kata Rika mengatai William. “kamu tahu apa tentang cinta, seseorang yang mencintai kamu selama 5 tahun saja kamu gak tahu.” Aku terus mengomel. “i hate you.” Aku langsung teringat tangisanku didepannya, aku jadi merasa malu. “huhhh.. aku harus meminta maaf padanya besok atas sikapku tadi itu.

 

Day 5

“gak karuan deh perasaanku hari ini.” Kataku pada Nay dan Eli. “aku merasa bersalah sama mereka berdua. Yang satu karena menolaknya yang udah tulus mau nganter aku pulang, satunya lagi gara-gara nangis didepannya. Adakah yang punya ide?.”

Mereka berdua setuju aku harus meminta maaf pada keduanya.

“ah mereka…” keluhku sambil jalan menuju kekelas 3, kelas kak Riko. Beruntung karena aku tidak usah lama-lama mencarinya, karena kami bertemu di tengah jalan.

“eh Rika, apa yang sedang kamu kerjain di kelas 3?.” Tanyanya dengan senyuman yang menurutku sangat manis.

“aku nyariin kakak.” Jawabku.

“untuk apa nyariin aku? Kamu kangen sama aku ya?.” Jailnya.

“enggak kok, akuu kesini Cuma mau minta maaf pada kakak saja atas kejadian kemaren.”

“minta maaf? Buat apa? Aku gak merasa kamu gak berbuat keselahan kok, jadi kamu gak perlu minta maaf.” Katanya masih sambil tersenyum.

“maksutku aku minta maaf aas namanya.” Kataku malu-malu.

Kak Riko malah tertawa. “kalo dia yang berbuat kesalahan seharusnya ya dia dong yang minta maaf.”

“dia akan segera minta maaf kok kak atas ketidaksopanannya kemaren.” Kataku ragu.

“baiklah, aku tunggu.” Kata kak Riko seraya pergi meninggalkanku.

Aku melihatnya sambil bergumam dalam hati, bodoh sekali aku mengatakan sesuatu yang mustahil. Mana mungkin dia mau minta maaf pada kak Riko.

******

            “kamu gak cemasin aku?.” Tanya Minji pada William yang sedaritadi sibuk membaca not-nya.

what for?.” Tanya William dengan acuh.

“aku sakit William, dan kamu malah bersikap ketus padaku.”

“bukankah aku ini bukan pacarmu lagi. So, i don’t care about you.” Kata William menatap Minji, sambil memegang wajahnya.

sorry.” Kata Minji.

“buat apa?.” Tanya William yang kemudian melepaskan tangannya dari pipi Minji, Minji meraih kembali tangan itu.

“kamu tahukan.” Kata Minji.

“ya, aku gak suka dengan penghianatan, kamu udah ngehianatin aku, and i will forget you.” Kata William.

“aku mohon jangan, aku sangat butuh kamu Will.”

William terlihat masih sangat memperdulikan Minji. Ia dengan enggan berkata. “game over.”

******

            Aku melangkahkan kakinya menuju ke kelas musik dengan membawa segelas cappucino hangat. “apa kamu ngelihat William?.” Tanyaku pada anak jurusan musik.

“dia ada di ruang piano.” Katanya.

“terimakasih.” Sahutku sambil tersenyum. Aku bergegas menuju ke ruang piano, masih memikirkan kata-kata yang pas buat minta maaf padanya. Kenapa ada di ruang piano, katanya mau belajar di ruang latihan?. Tanyaku pada diriku sendiri.

Aku sampai di ruang piano, langkahku terhenti. Aku tidak sengaja melepaskan genggaman cappucino-ku yang aku beli untuk William. Aku meliahat mereka berciuman. Aku shock. Masih dalam keadaan linglung, aku mencoba menghibur diriku sendiri dan diam-diam pergi meninggalkan tempat itu.

******

            William mendorong Minji dengan paksa, ia melihat Erika. “pergilah, you have a class, right?.” Tanyanya pada Minji sambil tersenyum manis.

yes, i have a class. Call me.” Kata Minji sambil tersenyum. Ia bergegas pergi meninggalkan William.

William melihat cappucino yang tumpah tadi dan memungut gelasnya. “cappucino. Interesting.” Gumamnya tanpa ekspresi.

******

            Aku mengikuti kelas astonomi dengan perasaan yang campur aduk. Dan selama 2 jam pelajaran hanya ada ragaku disana. Jiwaku menghilang entah kemana.

Pelajaran yang membosankan. Aku keluar dan mendengar suara histeris anak-anak yang baru keluar dari kelas, ada apa? Pikirku. Aku segera keluar. Pantas saja mereka histeris, mereka melihat William. William mendekatiku. “kau mencariku?.” Kataku. “aku gak akan telat kok.” Tambahku.

not about that, i worry, you don’t come because yesterday...” katanya.

“aku tidak ingkar janji.” Kataku sekali lagi menegaskan.

good, so you must remmember your promise.” Katanya mengingatkanku. Aku mengangguk. “but, today don’t worry. Aku gak akan memberi kamu hukuman itu. Karena kita akan belajar di luar.” Lalu William mengajakku pergi.

“aku hanya mau tanya sesuatu.” Kataku di dalam mobil William.

“tanya apa?.”

“kalo kamu punya Minji, kenapa masih butuh bantuan aku?. Itu gak akan efisien, lebih baik kamu fokus belajar pada salah satunya.”

“kamu nanya pertanyaan itu terus.” Keluhnya.

“karena kamu belum ngejawabnya.” Kataku.

“sudah jangan tanyakan lagi, kita sudah sampai.”

Kami berdua turun dari mobil. “tempat apa ini?.” Tanayaku penasaran.

this is a real home.”

“kakak.”

“kak Will.”

“kakak.”

Anak kecil mengerubungi kami. “siapa kakak yang satunya lagi.”tanyanya pada William sambil menunjukku. “kamu mau belajar baletkan? Kakak ini balerina, mau ngajarin kalian balet.” Kata William sambil menggendong anak itu, sontak aku kaget. Tapi teriakan anak-anak itu rasanya sedikit bisa ngilangin bebanku setelah kejadian tadi. Aku tersenyum.

Mereka semua mengerubungiku, memintaku menunjukkan keahlianku. Aku bercerita panjang lebar tentang balet, dari awal aku belajar sampai sekarang. William memperhatikanku dari jauh.

Akhirnya aku menunjukkan gaya baletku pada mereka, mereka satu persatu mengikutiku. Aku senang, dan menoleh pada William. Sesekali kami bertukar senyum.

Karena hari sudah malam, aku damn William memutuskan untuk pulang. Mereka mengantar kepergian kami.

Dimobil kami berbincang-bincang. “are you happy?

Aku tersenyum senang. “ya, i’m very happy.” Kataku menoleh pada William. “sejak kapan kau mengenal mereka.” Tanyaku.

“sejak ayah dan ibuku meninggal, bibiku yang khawatir aku kesepian membawaku ke panti asuhan.’ Katanya.

sorry for hear that.” Kataku menyesal.

“gak apa-apa kok, lagipula itu sudah lama kejadiannya.” Katanya. “kamu lapar?.” Tanyanya padaku.

“eh, iya sedikit.” Aku menganggukkan kepalaku.

“kamu suka makanan apa?.”

Aku senang bisa mengenalmu…

            Terimakasih,

            Terimakasih buat cinta yang kamu ajarkan..

            I will never forget that…

Day 6

how about the scenario?.” Tanya madam pada kami berdua.

good. I promise you, madam for not being late.” Jawab William.

okay. I will wait for that.” Katanya tersenyum sambil memperbolehkan kita untuk segera mengikuti kelas bahasa inggris.

Aku dan William masuk kedalam kelas. Minji menyapa William, William-pun membalas sapaanya serta duduk disebelahnya. Mereka terlihat seperti pasangan serasi. Sekarang mereka sudah tidak menutup-nutupi lagi hubungan mereka karena sudah banyak yang tahu juga.

“mereka terlihat sangat akur. Apa kamu enggak cemburu?.” Tanya Eli yang hari ini sekelas denganku.

“aku suka dan aku cemburu padanya, tapi aku gak marah.” Sahutku.

“kamu harus marah dan berusaha merebutnya.” Kata Eli menyemangatiku, tapi percuma. Mentalku sudah lembek.

“toh cinta gak harus memiliki.” Jawabku lemas.

“tapi kamu udah cinta sama dia…” omongan Eli terputus karena kelas bahas inggris dimulai, ia berbisik. “nanti kita lanjukan lagi ya.” Aku mengangguk.

******

            “gimana kalau nanti kita pergi ke cafe seberang?.” Tanya Minji pada William.

“Minji, you know if i have a class after this.” Kata William menoleh pada Minji.

“kalo tahu begini kenapa kamu gak minta aku aja yang ngajarin kamu tentang segala yang berhubungan dengan balet?.” Kata Minji marah pada William.

are you angry?.” Tanya William khawatir.

yes, of course.”

so what do you want?.” Tanya William sekali lagi.

“jika kamu suka sama aku, artinya kamu ganti dia sama aku.”

you know if it’s impossible.” Kata William mencoba menenangkan Minji yang masih marah, kata-kata William malah membuat Minji makin marah.

are you kidding, if you choose her, it’s mean you don’t love me.” Kata Minji sedikit meninggikan suaranya.

“Minji, please. It’s not a comedy.”

oke up to you.” William hanya bisa terdiam, seakan-akan belum mengerti jalan pikiran Minji.

******

            “so, kalo balet itu menggabungkan dengan perasaan. Setiap gerakannya melambangkan perasaan banyak orang. Ada emosi didalam gerakannya.” Kata Erika menjelaskan panjang lebar pada William. William hanya menganaggukan kepalanya tanpa berkomentar apapun. “gimana? Mau langsung aku praktekan aja?.”

“no.. gak usah deh, aku lagi gak konsen. Keta akhiri aja ya pertemuan kita hari ini?.” Sarannya.

“eh, iya terserah.” Kataku bingung.

“ya sudah. Bye.” Panmitnya beranjak pergi.

Entah kenapa perasaanku ini membuatku memegang tangannya.

what’s up?. Something wrong?.” Tanyanya sambil berbalik.

don’t go!.” Pekikku. Pikir apa sih aku ini, kenapa bisa mengeluarkan kata-kata seperti ini?.

William tersenyum. “ada yang membuatmu takut?.” Tanyanya sambil tertawa. “unusual.” Senyumnya sambil menggodaku.

“kamu gak berpikir.” Aku menurunkan tanganku yang sedari tadi memegang lengannya. “untuk menggantikan aku kan?.”

“apa maksutmu.” Wajahnya berubah menjadi serius.

“maaf, tapi aku sudah menikmatinya. Aku takkut…”

“takut digantikan?.” Tanya William padaku yang tiba-tiba menghentikan kata-kataku.

Aku mengangguk. Bukan, bukan itu, ini semua karena aku takut tidak bisa melihatmu jika kita tidak ada pertemuan seperti ini.

don’t worry.” Katanya sambil tersenyum padaku.

i’m sorry.” Kataku.

William kembali menaruh tasnya yang tadi sudah dibawanya. Ia duduk di depan piano tua itu lagi, lalu memainkan lagu yang asing ditelingaku. Cukup membuatku terpesona. Hatiku terasa ringan. Mungkin aku sudah kelewatan mengatakan hal tadi, benar saja aku takut sekali, bukan aku akui aku memang cemburu.

******

            “dia tetap kasar, enak aja menyuruhku membelikannya cappucino hangat. Menyebalkan, tahu gitu tadi aku gak usah  melarangnya pergi. Aku harus sampai jam segini bertemu dengannya.” Gerutuku pada diriku sendiri.

Aku harus peri ke cafe seberang hanya untuk membelikan William cappucino hangat. Dia memang kasar, tapi terkadang berubah jadi sangat menawan. Apalagi jika dia sedang memainkan piano, dia bisa berubah menjadi lembut. Aku tidak pernah berpikir bisa sedekat itu dengannya.

Aku masuk keruan piano mencari-cari William tapi tidak menemukannya. “kemana perginya orang itu?.” Tanyaku pada diriku sendiri, mencoba memcari tahu keberadaannya.

Aku menemukannya sedang duduk di lantai, disudut ruangan sambil memejamkan mata. “ya ampun pemalas sekali, baru ditinggal sebentar aja udah tertidur pulas.”

Aku menaruh cappucino hangat itu di sebelahnya. Semakin dekat aku melihat wajahnya, aku semakin terpesona. Aku mengagumi wajah rupawannya. Oh God, please help me!. Jeritku dalam hati.

Tidak tersadar aku mengecup bibirnya. Aku tersontak dengan apa yang aku lakukan. Aku menyesal karena telah melakukannya. Aku mundur beberapa langkah membuatku menabrak piano. William terbangun karena suara yang aku timbulkan.

Aku masih menutupi bibirku. “kapan kamu datang?.” Tanya William yang melihatku. “baru datang udah ganggu aku tidur.” William melirikku yang masih menutup mulut, lalu mengambil cappucino disebelahnya. “apa kamu membuat kesalahan?.” Aku kaget. “kamu kenapa?.”

Aku tersadar beberapa saat dan mengambil tasku, lalu lari meninggalkan William. “aku pergi dulu.”

“hey, wait!.” Teriak William yang sangat jelas kudengar. William pasti berpikir-pikir kenapa aku.

******

            Tepat jam 7 malam, aku menaiki sebuah taksi menuju toko buku tempat mamaku bekerja dengan jantung yang berdebar. “apa yang tadi aku lakukan, itu sangat memalukan.” Kataku pelan sambil mengatai diriku bodoh.

Seperti biasa, aku hanya bisa melihat ibuku dari kejauhan. “ibu, entah mengapa suasana hatiku sedang sangat baik hari ini, aku tidak menyangka aku melakukannya. Entah kenapa jantungku terus berdebar. Aku sepertinya sakit jantung bu.” Mataku mulai berlinang. “entah kenapa aku mulai merindukanmu.” Kata-kata dari mulutku mulai tersedat, aku tersenyum. “sepertinya aku memang benar-benar akan mati jika jantungku terus berdebar kencang seperti ini.”

******

            “dasar aneh.” Kata William pada dirinya sendiri, sambil mengemasi barang-barangnya. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba handphone-nya berdering. “hallo?.”

“aku ingin bertemu.” Kata Minji di telepon.

“aku baru selesai, and i’m tired.” William mencoba memberi alasan.

“kalo kamu gak dateng, kita udahan.” Telepon diputus.

William mencoba mempercepat langkahnya dan bergegas mengendarai mobilnya menuju tempat Minji. William mendapati Minji sedang duduk-duduk menunggu William. William menghampirinya sambil tersenyum manis. “what happen?.”

“kamu udah memikirkannya?.” Kata Minji sinis.

“Minji, please!.”

“jadi kamu gak mau?.’ Minji tersenyum datar.

i love you, but not like this.” Ungkap William.

so?.” Tanya Minji sambil berlinang air mata. “just for that girl?.” Tangis Minji sambil tersenyum getir.

i choose you but i can’t do it.” Jelas William.

sorry, kita putus aja.” Tegas Minji pada William.

“Minji, kita bukan anak kecil lagi yang gara-gara hal sepele harus bertengkar.” William mencoaba menenangkan Minji.

Tapi Minji tetap bersikeras pada pendiriannya. “kita gak bisa meneruskannya.” Minji pergi meninggalkan William yang masih terlihat terpukul dengan apa yang baru saja diucapkan Minji. Kamu selalu aja melakukan apa yang kau sukai, kata William melihat kepergian Minji.

2 thoughts on “[Cerpen] One Hundred % I Love You Part 4, 5, dan 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s