cerpen

[Cerpen] One Hundred % I Love You Part 11, 12, 13, 14, dan 15

Day 11

 

Saat aku membuka mataku dengan sangat berat, yang kulihat pertama kali adalah senyum kebahagiaan ayahku. Ayahku berkata bahwa dia sangat senang aku siuman, kemudian meninggalkanku untuk memanggil dokter.

are you allright?.” William menanyakan keadaanku, aku kaget William ikut menjagaku. Aku hanya bisa menggeleng.

thanks.” Ucapku parau.

“aku sangat khawatir padamu.” Ia tersenyum kembali. “congrats.” Katanya lagi.

Aku hanya bisa memberikan senyumanku padanya. “just luck.” Jawabku singkat.

lucky?.” William sedikit menunduk seperti memikirkan sesuatu, ia menatapku. “ini semua karena usahamu.” Katanya. “hasil atas semua jerih payahmu.” Ia kembali menatapku, tatapannya seperti menghisapku. Aku merasa masuk ke dalam alam pikirannya dan menyadari ucapan tulusnya. Sesaat aku mulai terbuai, tiba-tiba ayah masuk bersama dokter. Dokter memeriksa keadaanku. Ku lihat William keluar dari kamar inapku.

“sangat disayangkan.” Dokter itu mengawali pembicaraan dengan kata yang kurang mengenakkan. “mungkin kamu tidak bisa lagi menari balet.” Pernyataan itu langsung menusuk jantungku, sesaat sepertinya jantungku mulai berhenti berdetak. Cobaan apalagi yang Tuhan berikan untukku, aku tidak ssanggup. Mataku mulai berlinang, aku seakan tidak percaya. Padahal baru beberapa saat lalu aku memenangkan kontes balet, sekarang aku tidak bisa lagi menari balet. “cederamu sangat parah, aku takut kalau kamu meneruskan menari baletmu, kamu tidak bisa berjalan normal lagi.” Katanya padaku, sepertinya ayah sudah mengetahuinya.

Dokter itu meninggalkan kami berdua, William kembali memasuki kamarku. Ayah meninggalkan kami berdua untuk membayar uang operasiku. “kalau kamu merasa sedih kamu seharusnya menangis.”

Aku menoleh pada William, mataku tetap berlinang tapi seakan aku sudah tidak sanggup lagi untuk menangisinya. William menatapku kemudian menyentuh pundaku. Pundakku mulai bergetar. “tolong bangunkan aku, ini mimpi yang sangat buruk.” Pintaku, William mendekapku kedalam pelukannya. “aku mohon.” Air mataku seketika itu juga tumpah, aku menangis di bahunya.

“menangislah, hanya itu yang bisa kau lakukan sekarang.”

 

******

 

“aku terkejut saat mendengarmu jatuh, kamu gak apa-apakan?.” Aku tersenyum saat Nay bertanya di telepon tentang keadaanku.

“ya.” Jawabku singkat.

“aku dan Eli nanti akan menjengukmu.” Katanya bersemangat.

“jangan deh, aku masih mau sendiri.” Usulku.

“kenapa? Kamu takut kami mengganggu ya?.” Tanya Nay lagi.

“enggak, hanya saja aku masih ingin sendiri, nanti kalo aku udah agak mendingan aku akan segera memintamu dan Eli kemari.” Aku beralasan.

“iya deh.”

“udah dulu ya Nay, aku mau istirahat.” Kataku sambil menutup telepon.

Ayah masuk kedalam kamar inapku. “bagaimana keadaanmu?.”

“sudah jauh lebih baik.” Jawabku sambil tersenyum mencoba menutupi rasa sedihku. “ayah pulang saja dulu, ayah terlihat sangat lelah.”

“benar kamu bisa tinggal sendiri?.” Tanya ayah padaku dengan raut wajah khawatir.

Aku mengangguk. “akukan anak ayah yang paling kuat.”

“ya sudah ayah tinggal dulu.”

 

******

 

 

Aku berusaha sekuat tenaga untuk berjalan, tapi tidak ada yang aku dapat, kakiku terasa sangat sakit. Aku menangis melihat keadaanku sendiri. “ibu.” Hanya ibu yang aku butuhkan sekarang. Aku berusaha menaiki tangga menuju ke lantai paling atas rumah sakit. Entahlah apa yang sedang aku pikirkan saat ini.

******

William berjalan seorang diri menuju rumah sakit. Menuju ke kamar Erika. William perlahan-lahan membuka pintu kamar tempat Erika dirawat, tapi ia tidak mendapati Erika di kamarnya, ia panik, berpikiran yang tidak-tidak. Ia mencari kesegala arah. Berlari menyusuri lorong-lorong di rumah sakit.

William sampai di lantai atas. Ia melihat Erika yang sedang duduk di atas sana. “i find you.” Kata William lega, Erika menoleh kemudian menatap langit sore lagi. “what are you doing in here?.

 

******

 

Aku menjawab pertanyaan William tanpa menoleh padanya. “aku berfikir aku akan berani meloncat, tapi sayang aku terlalu pengecut.” Aku tersenyum getir, seolah ingin menertawai diriku sendiri.

William mendekatiku. “kenapa kamu berfikir seperti itu?.”

“aku tidak memiliki apapun untuk dibanggakan, hanya ini yang aku miliki. Akan tetapi aku kehilangannya saat aku mulai menyadari aku tidak bisa hidup tanpa balet. Seperti seorang atlet yang cedera, ia bukan lagi seorang atlet.” Tangisku akhirnya meledak, aku tak kuasa menahannya. William sedari tadi terlihat sedang memikirkan kata-kataku. “aku tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan.”

“aku akan membantumu.” Aku menoleh pada William. Aku sedikit bingung dengan ucapannya. “aku akan membantumu menemukan hal yang lain yang dapat membuatmu terus hidup.”

Ia mendekatiku, membelai kepalaku dengan tangannya yang hangat kemudian tersenyum. “i promise you.” Katanya meyakinkanku. Saat itu aku hanya bisa memandangiinya, matahari terbenam dengan sangat indah.

William menggendongku turun dari tangga menuju ke kamarku. “terimakasih lagi.” Kataku. “kamu mau pergi?.”

William mengangguk. “aku akan kembalilagi nanti.” Jawabnya masihh dengan senyumannya,

“kenapa?. Kenapa kamu bersusah payah untukku.”

William menghampiriku kemudian mencium keningku. “get well soon. I will back.” Katanya seraya pergi. Aku masih kaget dengan hal yang ia lakukan saat itu.

 

******

 

 

Seorang suster datang menghampiriku. “apa kau yang bernama Erika?.” Tanyanya padaku, aku mengangguk. “kau kenal dengan orang di foto ini?.” Tanyanya seraya memperlihatkan foto yang ia pegang padaku.

Aku kaget karena orang tersebut ibuku, aku mengangguk. “ada apa memangnya?.” Tanyaku.

“kebetulan sekali, orang ini menyuruhku untuk memberikan sebuah surat padamu saat kau datang kesini, ternyata kau juga pasien disini.” Jelasnya.

“kenapa dia tidak memberikannya sendiri padaku?.” Tanyaku acuh.

“ambillah dan bacalah, kamu akan mengerti setelah kamu membacanya.” Perawat itu memberikan amplop yang tadi dipegangnya padaku.

Aku memegang amplop itu, aku membukanya meskipun enggan. Ada surat dan sebuah foto didalamnya.

Erika…

Kamu tahu tidak kenapa ibu memberikanmu nama itu?

Ibu ingin kamu seperti nenekmu, dia memiliki mata yang sangat indah seperti saat kamu baru terlahir. Oleh karenanya ibu ingin memberikan nama belakang nenekmu sebagai nama depanmu.

Melihatmu tumbuh dewasa adalah hal yang paling membahagiakan bagi ibu, tapi sayang sekali ibu tidak bisa melakukannya. Ibu minta maaf, ibu sangat menyesal.

Ibu tahu kamu membenci ibu, melihatmu hanya mondar-mandir di depan toko ibu tanpa pernah menyapa memberikan lebih banyak rasa bersalah pada ibu, ibu terlallu malu untuk bertemu denganmu. Hanya itu yang bisa ibu berikan untukmu.

Kamu tumbuh sangat canti dan juga periang, ibu tahu kamu suka balet-kan?. Ibu akan sangat senang bila bisa melihatnya.

Erika, ibu tidak mau kamu memaafkan ibu. Tolong benci ibu, ibu tidak bisa menjaga hati ibu hanya pada ayahmu saja, ibu adalah ibu yang paling kejam.

Saat menulis surat ini adalah saat paling indah bagi ibu, mungkin saat kamu membacanya ibu sudah tidak ada di dunia ini lagi. Katakan pada ayahmu ucapan maaf ibu, ibu sangat menyesal.

 

Dari orang yang selalu mencintaimu.. ibu..

 

Aku terisak. “ibu..” aku menangis sekeras-kerasnya. “ibu.” Aku sendiran merasakan semua kesedihanku ini, orang itu sangat ingin aku temui. “bukan begitu bu, aku aku sangat merindukanmu, jangan… jangan begini bu, jangan tinggalkan aku lagi bu, tidak apa-apa jika aku hanya boleh melihatmu dari jauh. Aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri seperti ini, aku sudah tidak mmmpunyai apapun.” Aku terus menangis, meratapu segala duka yang menyelimutiku. Aku melihat foto seorang wanita sedang tersenyum bahagia menggendong bayinya. Tangisku makin menjadi-jadi, aku seorang diri terisak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Day 12

 

 

Ayah membawaku ke upacara peakaman ibuku. Banyak orang berdatangan silih berganti, aku duduk dikursi roda menatap bisu foto ibuku. Mataku berlinang. Aku hanya bisa menatapnya. “aku bahkan belum sempat mengenalmu.” Kataku sendu.

Aku menatap foto ibuku dan terdiam sangat lama. Aku menyadari bahwa aku sudah memaafkannya sekarang, aku sudah melepasnnya pergi. “aku akan pergi sekarang.” Kataku seakan berbicara pada ibuku. Aku menghampiri ayahku dengan kursi rodaku. Ayah mengantarkannku kembali ke rumah sakit.

Di rumah sakit ternyata Nay dan Eli sedang menungguku, mereka terlihat tampak cemas. “kami turut berdukacita.” Kata mereka bersamaan.

Aku tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa. “terimakasih.”

 

******

 

 

“apa?. Benarkah kau akan menolaknya?.” Tanya Nay padaku. “kenapa? Ini kesempata bagus.” Eli mengangguk seakan menyetujui pendapat Nay.

“aku akan memberikannya pad Minji.” Kataku tersenyum.

“apa maksutmu?.” Tanya Nay padaku lagi.

“aku sudah tidak bisa bermain balet.” Aku menatap kakiku, mereka menghela nafas. Aku yakin mereka mengerti maksutku. “aku mohon jangan sedih seperti itu, aku sudah bisa menerimanya.” Kataku menghibur mereka yang tampak terkejut mendengarnya.

“maafkan aku.” Kata Eli menangis, kemudian berlari keluar ruangan.

Aku mengis melihat Eli seperti itu. “Nay tolong ya.” Nay mengangguk mengerti permintaanku, ia mengejar Eli.

Kak Riko tiba-tiba masuk ke kamar inapku. Ia jongkok didepanku yang sedari tadi duduk di kursi roda. “kamu pasti bisa melaluinya, hari-hari yang berat akan segera berlalu. Cepat atau lambat.” Katanya.

 

******

 

William tersenyum sendiri membawakan cappucino hangat untuk Erika. Ia membayangkan gadis yang ia temui 5 tahun yang lalu. Ia sangat berharap kali ini cappucinonya bisa menghibur gadis itu lagi.

William menghentikan langkahnya saat mendengar gadis itu berbicara dengan seorang pria, ia diam mendengarkan mereka berdua.

 

******

 

“aku di dorong.” Jawabku. “sepertinya aku tahu siapa orang itu.” Aku tersenyum sinis.

“kamu didorong?. Katakan padaku siapa orangnya.” Kata kak Riko yang tiba-tiba meninggikan suaranya.

“kak, aku mohon jangan bilang pada siapa-siapa ya aku takut mereka akan menyalahkannya.” Kataku.

“kamu masih mau melindunginya?.” Tanyanya.

“karena dia aku sampai di titik ini, jadi aku tidak bisa menyalahkannya. Aku benar-benar sangat ingin menjadi seperti dia. Aku akan dengan senang hati memaafkannya.” Jawabku.

Kak Riko terlihat bingung, aku tahu dia pasti tidak akan mengerti jalan pikiranku. “aku gak mengerti Rik.” Katanya lalu meninggalkanku. Aku tersentak, mereka semua meninggalkanku sendiri.

 

******

 

Eli terus berlari, ia menangis tersedu-sedu. “Eli aku mohon jangan begini.” Nay menasehati Eli yang sedari tadi berlari mengejarnya. Tiba-tiba Eli berhenti, ia menoleh pad Nay yang juga ikutan menangis.

“maafkan aku.” Katanya sambil terus terisak.

Nay mendekatinya, lalu mereka berdua berpelukan. “satu sahabat kita kehilangan mimpinya. Bagaimana kita bisa bahagia menjalani kehidupan ini.”

Nay dan Eli terus menangis. “percayalah, dia lebih kuat daripada kita berdua. Sebaiknya kita kembali ke rumah sakit saja.” Kata nay membujuk Eli.

Eli menggeleng. “biarkan aku pulang, aku akan menemuinya nanti.” Nay mengangguk, menyetujuinya.

 

******

 

 

William melajukan mobilnya dengan kencang menuju ke rumah Minji. William dipenuhi emosi.

“William.” Minji sangat senang melihat kehadiran William. “masuklah!.” Minji menarik tangan William, William menangkisnya.

“aku hanya ingin memperingatkanmu untuk tidak melakukannya lagi.”

“apa maksutmu?.” Minji masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan William padanya.

“kenapa kau mendorongnya.” Bentak William.

“mendorong siapa?. Tanya Minji terkejut dengan ucapan William.

“kau karena menginginkan posisi itu kemudian kau menghancurkan hidupnya, apa kau sudah tidak waras?.”

“jadi kau menuduhku?.”

“apa kau masih ingin menyangkalnya?.”

“William aku…” Minji kembali memegang tangan William, William menepisnya.

“asal kau tahu aku sudah muak dengan semua perbuatanmu, aku sudah tidak mnyukaimu lagi.”

“tapi bukan aku..”

“kau iri kan?. Tega sekali kau berbuat seperti itu padanya hanya ingin ke Itali.” Bentak William, mata Minji mulai berkaca-kaca.

“jadi kau kesini hanya ingin mengatkan hal itu padaku? Kau sangat kejam. Memangnya kenapa kalau aku yang melakukannya?. Apa yang akan kau lakukan terhadapku?.”

“kau benar-benar menjijiknya, you are like rubbish.” William akhirnya meninggalkan Minji seorang diri yang terisak.

 

******

 

William kembali kerumah sakit. Ia membawa sebuah gitar. Ia tersenyum menghampiriku. “apa kamu baikkan?.” Tanyanya padaku.

Aku tersenyum mengangguk. “tadi banyak yang menjengukku.”

“kamu tidak merindukanku?.” Aku kaget dan jadi salah tingkah. “just kidding.” William tertawa melihat wajah kagetku. “do you want to hear my instrument?.” Katanya padaku, aku mengangguk senang.

Dia memanikan gitarnya, sesaat aku seperti terbawa masuk oleh musiknya, sungguh menarik. Ia tersenyum kearahku, tanpa kusadari dia mengecup bibirku. Aku kaget bukan main. Aku menatapnya. “kau mau tahu apa yang ingin aku katakan padamu saat itu?.” Tanyanya padaku saat aku masih kaget dengan hal yang ia lakukan terhadapku. Aku sedikit mengangguk. Ia berbisik ke telingaku. “hal yang sangat berharga sudah kutemukan, sesatu yang hilang 5 tahun yang lalu, yaitu kamu.”

 

 

Day 13

 

Minji datang menemuiku. “bagaimana keadaanmu?.” Tanyanya padaku.

Aku tersenyum. “aku sangat baik, mulai besok aku sudah diperbolehkan pulang.”

“kenapa kau terlihat bahagia disaat hal yang paling berharga dalam hidupmu tidak dapat kau peroleh kembali.

Aku tersenyum dan menatapnya. “awalnya aku merasa ingin mati, akan tetapi aku menyadari bahwa aku masih memiliki mereka.” Jawabku.

Minji menatapku seolah tidak percaya. “kau bilang aku yang mendorongmu, aku menyebabkan hidupmu kacau, tapi mengapa kau memberikan hadiah itu untukku bukankah seharusnya kau marah padaku?.”

“marah?. Aku berfikir juga seharusnya aku marah, tapi aku sudah memaafkanmu.” Aku melihat Minji berlinang aie mata.

“apa kalau aku mengatakan bukan aku yang mendorongmu kau mau percaya padaku?.” Aku kaget mendengar pertanyaan darinnya.

“apa kau masih mau menyangkalnya?.” Bentak William yang tiba-tiba datang. “kau sungguh masih mau menyangkalnya?.”

Aku tertunduk, masih bingung dengan semua yang terjadi. Minji meninggalkan kami berdua, William ingin mengejarnya tapi aku tidak memperbolehkannya. “mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.”

“kau mempercayainya?. Kenapa kau sebaik ini pada orang yang telah menghancurkan mimpimu?.”

“Will…”

******

 

Minji berjalan terhuyung, ucapan Erika terngiang dalam benaknya. Awalnya aku merasa ingin mati, akan tetapi aku menyadari bahwa aku masih memiliki mereka. “katamu kamu punya mereka, lalu apa artinya hidupku?. Aku tidak memiliki siapapun yang membelaku?.” Minji bertanya pada dirinnya sendiri. Ia menangis. “maafkan aku, maaf.”

******

 

Aku memecah keheningan diantara kita. “apakah kamu marah?.”

“untuk apa aku marah?.” William balik bertanya padaku.

“maafkan aku, aku terlalu sulit untuk membencinya.”

“kamu terlalu baik.”

“jangan marah lagi.” Aku mendekati William, lalu aku menciumnya. William terlihat kaget dengan apa yang baru saja aku lakukan. “kamu tahu mungkin satu hal yang berharga dalam hidupku hilang, tapi aku menyadari bahwa masih banyak hal lain yang lebih berharga yang baru aku temkan. Aku punya ibu, ayah, Nay, Eli, dan aku juga telah menemukan kamu.” Jelasku sambil tersenyum padanya. “rasa senangku tenyata melebihi rasa sedihku.”

“apa aku berharga untukmu.” Aku mengangguk, William memelukku. “gadis itu, aku tidak pernah melupakan wajahnya.” Katanya padaku.

“terimakasih karena tidak pernah melupakan wajah gadis yang kamu temui 5 tahun yang lalu di bawah derasnnya hujan. Karena gadis itu selalu menyukaimu setelah kejadian itu”

William memandang wajahku. “kamu terlihat lelah, sebaiknya kamu istirahat.” Katanya sambil membelai wajahku.

Aku mengangguk. “yah, sebaiknya kamu istirahat dulu.”

 

******

“maafkan aku waktu itu aku berlari.” Eli meminta maaf dihadapanku ditemani dengan Nay.

“kenapa harus minta maaf sih, seharusnya aku yang berterimakasih padamu.” Jawabku.

“tapi kamu..” matanya mulai berlinang, Nay menenangkannya. “maaf.”

Aku tersenyum melihat mereka berdua. “aku jauh lebih bahagia sekarang daripada larut dalam kesedihan.” Kataku menghibur mereka.

“kenapa?. Apa terjadi sesuatu.” Tanya Nay.

Aku mengangguk mengiyakan. “aku sudah resmi berpacaran dengan William.” Hiburku.

“benarkah?.” Tanya mereka hampir berbarengan, mereaka berdua tersenyum. Kami bertiga berpelukan. Aku merasa hari yang lelah ini akan segera terobati dengan adanya mereka disampingku.

 

 

Day 14

 

Aku berjalan masih menggunakan tongkat keruang balet. Mereka semua memandangiku. Satu persatu menghampiriku menanyakan bagaiamana keadaanku. Aku hanya bisa tersenyum dan menjawab aku baik-baik saja.

Hari ini aku mengemasi semua barang-barangku yang ada diruang balet. “benarkah kau akan segera berhenti?.” Salah satu dari mereka bertanya padaku.

Aku mengangguk. “ya, aku akan berhenti dari klub balet, aku akan pindah sekolah.” Jawabku.

“bukankah kau baru saja menang?.” Tanyanya lagi.

Aku terdiam sejenak, aku merasa sedikit sesdih mendengarnya tapi aku berusaha untuk tersenyum. “aku tidak bisa melakukannya lagi, meskipun berada diantara kalian terasa sangat menyenangkan untukku.” Aku menoleh mencari Minji tapi aku tidak menemukannya. “apakah Minji sudah berangkat menuju Italia?.” Tanyaku pada mereka.

Mereka diam, aku tahu mereka tidak mendengar kabar tentang Minji. Aku melangkahkan kakiku keluar dari ruangan itu dengan sangat berat, aku menoleh kearah mereka. Aku tersenyum sambil menangis. Aku membungkukkan badanku kearah mereka. “terimakasih banyak.” Aku berjalan keluar, William sudah menungguku. Ia membantuku membawakan barangku.

“kamu serius ingin pindah sekolah?. Kenapa tidak pindah jurusan saja?.” Tanyanya padaku.

Aku menggeleng. “kalau aku terus disini, aku akan terus mengingatnya.” Jawabku. William memegang tanganku. Aku tersenyum kepadanya.

“suatu saat kau akan menemukan mimpimu yang lain.” William menoleh kearahku. “aku memastikannya.”

Aku mengangguk. “iya, aku akan menemukannya.”

******

“ini do, re, mi, fa ,sol, la, si, do.” William mengajariku memainkan piano di ruang piano kelas musik. Aku memperhatikannya dengan sesama, sesekali kami bercanda karena aku menekan nada yang salah. William menertawakanku. “mau aku mainkan sebuah lagu?.” Aku  mengangguk senang. “perhatikan ya.”

William memainkan sebuah lagu indah untukku, sesaat aku terbuai olehnya. “bagus.”

“terakhir kali kamu bilang lumayan.”katanya menyindir. Aku hanya bisa tersenyum tersipu. “ini karanganku, judulnya Erika.”

“kenapa?.”

“karena mulai saat ini lagu ini adalah milikmu.”

“lagu ini milikku?.” Kataku bertanya lagi padanya.

William mengangguk. “aku membuatkannya unutkmu saat kamu ada di rumah sakit.” William mengelus rambutku dengan tangannya. “aku harap kamu bisa berjuang keluar dari kesedihanmu.” Katanya lagi.

“terimakasih.” Aku mencium pipi William, William mengangguk senang.

 

******

 

Dari kejauhan seorang pria sedang cemburu melihat kemesraan mereka berdua, ia mengepalkan tangannya.

 

******

“aku mohon datanglah kerumah sakit.” Seorang ibu paruh baya membungkuk kearahku, ia mengaku ibunya Minji. William menatap kami dari kejauhan.

“apa keadaannya parah?.” Tanyaku khawatir.

Ibu itu mengangguk. “Minji mencoba melukai dirinya sendiri.” Aku shock mendengar cerita dari ibu Minji.

“maksud Anda ia mencoba untuk bunuh diri?” tanyaku. “kenapa?.”

“aku tidak tahu, tapi dia memintaku unutk membawamu menemuinya. Aku mohon dengan sangat, waktunya sudah tidak banyak lagi.”

“kenapa harus aku?.” Tanyaku masih bingung.

“mungkin dia ingin mengatakan sesuatu padamu.”

 

******

William memperhatikan Erika yang sedang berbicara dengan seseorang dari kejauhan, meskipun ia tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan akan tetapi William bisa melihat raut wajah sedih Erika. Ia terus memandangnya, sampai wanita yang berbicara dengan Erika itu pergi, ia menghampiri Erika.

 

******

“ada apa?.” Tanya William kepadaku.

“ibu itu, dia ibunya Minji.” Jawabku.

“iya aku tahu, memangnya ada apa?.” Tanya William lagi, terlihat khawatir dengan keadaanku yang masih kaget.

“Minji ingin bertemu denganku.”

“untuk apa ibunya yang datang?. Kenapa tidak dia sendiri.”

“Minji ada di rumah sakit, ibunya berkata ia mencoba melukai dirinya sendiri.”

“apa?.” William juga terlihat sangat kaget dengan pernyataan yang baru saja ia dengar dari mulutku.

“antar aku ke rumah sakit, aku harus menemuinya sebelum terlambat.”

 

******

William dan aku pergi ke rumah sakit tempat Minji dirawat. Kami melangkahkan kaki ke ruang inap nomor 124, tempat Minji dirawat. Aku membuka pintu ruangan itu, dan terlihat shock dengan kadaan Minji. Aku mendekatinya, dan melihat wajahnya. “Minji.” Panggilku pelan. Ia tersadar, dan perlahan-lahan membuka matanya.

“kau datang.” Katanya lemah.

Aku mengangguk. “ada apa?.” Tanyaku.

“hidupku sudah tidak ada artinya.” Ia menangis memandangku, aku menurunkan tubuhku untuk lebih dekat dengannya.

“kenapa?.”

“maaf, aku merusak hidupmu.”

“aku kan sudah bilang kalau aku memaafkanmu.” Seruku. “kenapa kamu menyia-nyiakan hidupmu?.”

“karena aku selalu iri denganmu.” Aku tahu suaranya makin melemah.

“sudah jangan bicara lagi, sebaiknya kamu istirahat.” Ia memegang tanganku.

“aku diliputi perasaan bersalah, aku membiarkannya mendorongmu. Aku yang menyuruhnya melakukannya.” Minji semakin terisak.

Aku kaget. “jadi itu bukan kamu yang melakukannya?.”

“aku menyuruh kak Riko untuk menghancurkanmu.” Aku kaget.

“untuk apa?.”

Minji tersengal, ia seperti sulit bernafas. Ibunya dan dokter masuk untuk memeriksanya, William menarikku keluar ruangan.

Dengan dipenuhi berbagai pertanyaan yang aku sendiri tidak bisa menjawabnya. Dokter keluar menyatakan kalau Minji sudah tiada. Tangisku menjadi, aku bingung bercampur sedih, William menenangkanku walau aku tahu dia juga sangat sedih mendengarnya.

 

 

Day 15

 

Hari ini Minji dimakamkan, aku, William, Eli, Nay berangkat bersama menuju tempat pemakamannya dengan masih diliputi rasa sedih. Aku mendongak kelangit, aku sudah memaafkannya. Dia setidaknya telah mengajarkan kepadaku tentang impian. Setidaknya dialah orang yang pertama mengajariku tentang kejamnya dunia yang dipenuhi persaingan. Aku berterimakasih kepada teman pertamaku, terimakasih telah memberikanku begitu banyak  pelajaran.

“aku bertanya sekali lagi kak, kamu harus jawab dengan jujur.” Pintaku.

“selama ini aku menyukainya.”

Aku tidak menyangka kak Riko yang kutahu menyukaiku ternyata menyukai Minji. “lantas kenapa kamu..”

“aku ingin membuatmu menjauhi William, agar Minji bisa dekat dengannya.” Aku kaget, aku menampar wajah Kak Riko.

“teganya kamu.”

“itu semua salahku, Minji bunuh diri karena aku.” Kak Riko mulai menangis. “malam itu ia mendatangiku. Ia menyuruhku untuk mendorongmu, aku tahu dia mabuk. Tapi aku mau melakukannya demi dirinya. Dia menjanjikan sesuatu padaku, dengan senang hati aku melakukannya untuknya.”

“lalu kenapa?. Kenapa dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya?.”

“malam itu kami menghabiskan malam bersama.”

“apa dia sedang mengandung.” Tanyaku curiga, kak Riko mengangguk, aku tersenyum pada diriku sendiri, meratapi semua hal bodoh yang telah terjadi. Aku berjalan meninggalkan kak Riko. Entah apa yang akan aku perbuat selanjutnya.

“kalau kamu mau menghukumku, aku pantas mendapatkannya.”

Aku menatapnya dengan penuh amarah. “apa?. Hukuman yang pantas untuk kakak?. Lucu, tidak ada hukuman yang setimpal daripada kakak sendiri yang menghukum dirimu. Hiduplah dengan tetap penuh penyesalan.” Emosiku tidak terkendali, aku pergi meninggalkan kak Riko seorang diri. Dadaku sesak, seakan menyadari betapa kejamnya dunia ini pada diriku. Semua kisah sedih ini terjadi dalam waktu bersamaan, oh Tuhan biarkan ini menjadi yang terakhir.

 

******

 

“kamu gak perlu menyalahkan dirimu sendiri seperti ini.” William menatapku, aku menceritakan kepada William tentang pembicaraanku dengan kak Riko.

“semua ini gara-gara aku Will. Coba kamu pikir, kalau dia tidak cemburu padaku dia pasti tidak akan melakukan ini.”

“kamu sadar kalau kamu menyalahkan dirimu berarti aku juga salah.” Aku menatap wajah William dengan pandangan bertanya. “aku salah karena aku begitu menyukaimu.” Aku terdiam, sesaat seperti ada udara sejuk yang menyejukkan hatiku. “jadi aku mohon jangan salahkan dirimu sendiri, semua ini terjadi karena takdir manusia hanya pelaksananya.”

“terimakasih.”

you are welcome.” William mengusap rambutku sambil tersenyum memandangku. Sesaat tatapan kami beradu, aku menyadari bahwa hari-hariku yang kelam akan segera berlalu dan akan berubah menjadi kebahagiaan.

 

******

 

 

“jadi kira-kira sudah 3 bulan kita bersama dari awal bertemu sampai sekarang?.” Tanyaku pada William. Kami sedang duduk-duduk di sebuah bar kecil jauh dari keramaian kota.

William mengangguk. “benar.”

“aku jadi tidak sabar ingin tahu akan jadi kisah seperti apa.” Kataku sambil tersenyum.

“aku belum menyelesaikan endingnya.” Jawab William santai.

not yet?. Are you kidding?.” Tanyaku kaget.

William mengangguk. “yes, im serious.” Ia menatapku. “im over confused to make a sad ending or happy ending.”

“kamu bercanda, kisah seperti itu harusnya happy ending.”

really?. I have an idea.”

“aku harap kisahnya menarik.”

of course.” Jawabnya yakin.

Kami melanjutkan diskusi kami yang sempat tertunda beberapa waktu karena berbagai masalah yang menimpa kehidupan kami. Aku harap kisah hidupku dapat terangkai indah seperti sebuah karangan puisi.

 

******

 

 

Hari ini aku masih dirumah tidak bersekolah, aku memutuskan unutk menunggu kakiku sampai dapat berjalan normal lagi. Aku sedikit sedih tidak bisa menari balet lagi, tapi aku menikmati hidupku ini. Sampai suatu ketika seorang wanita datang kerumahku mengajakku bicara.

“bolehkah aku memperkenalkan diri?.” Tanyanya. Wajahnya tidak asing bagiku seperti seorang yang aku kenal, aku terus menerka-nerka siapa orang ini.

Aku mengangguk. “tentu, silakan tante.”

“aku ibunya William, kamu Erika kan?.”

Aku kaget mendengarnnya. benar, pikirku ia mirip sekali dengan William. Kenapa aku daritadi tidak menyadarinya. “eh, ia ada apa ya tante?.” Tanyaku pada wanita yang terlihat masih sangat cantik ini.

“tante Cuma ingin ketemu kamu, tante sangat ingin tahu kamu seperti apa sampai-sampai William..” kata-katanya terhenti.

“sampai-sampai William kenapa yah tante?.” Tanyaku penasaran.

“William tidak mau mengambil beasiswanya keluar negeri karena dia tidak mau meninggalkan kamu sendirian. Tapi tante lihat kamu sehat kok.” Kata-katanya membuat hatiku terkoyak.

“William mendapatkan beasiswa?.” Tante itu mengngguk mengiyakan pertanyaanku. “dan… dia tidak mau mengambilnya hanya demi diriku?.” Ia mengangguk lagi.

“tante tidak bermaksud apa-apa hanya…”

Kata-katanya terhenti olehku. “aku mengerti kok tante, baginya musik adalah segalanya.” Kataku mengangguk sedih.

“baiklah kalau kamu mengerti, tante akan segera pergi.” Katanya pamit, aku mengantarkannya sampai kedepan. Kenapa hidupku cepat sekali berubah menjadi kisah yang menyedihkan, apakah tidak ada kebahagiaan untukku?.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s