cerpen

[Cerpen] One Hundred I Love You part 16-End

Day 16

 

Aku mendatangi William disebuah minimarket, ia menyapaku dengan gembira. “apa yang ingin kamu katakan?.” Tanyanya.

“kita pergi ketempat yang sepi yuk!.” Ajakku, ia mengangguk mengerti. Aku membawanya kesebuah taman dekat rumahku, kami duduk di salah satu bangku di tempat itu. “bagimu musik itu seperti apa?.” Tanyaku sambil menatapnya. Aku tahu William sedikit bingung dengan pertanyaanku tapi dia tetap menjawabnya.

William tersenyum, kemudian menutup matanya. “seperti debaran jantungku yang berdetak berirama.” Ia memegang dadanya, aku menatapnya dengan sedih. “musik itu adalah sebagian dari hidupku, ia teman pengisi hari-hariku.” William membuka matanya lagi, ia menatapku, merasa aneh karena aku berlinang air mata. “ada apa?.” Tanyanya terlihat khawatir.

Aku tersenyum kemudian mengangguk. “ia aku mengerti, sebelumnya seperti itulah balet bagiku.” Kataku.

“bukan maksud…”

Aku menggeleng memotong kata-katanya. “tidak, aku terlalu mengerti, maka dari itu aku mohon aku tahu bagaimana kehilangan sebagian dari hidupmu. Aku tidak ingin kamu kehilangannya juga.”

“maksudmu apa sih?.” Tanya William masih ragu.

“kita berhenti disini saja.” Kataku sambil tersenyum pada William. William masih tidak mengerti arah pebicaraanku. “aku dengar kamu dapat beasiswa kenapa ditolak?.” Aku melihat wajah kaget William, aku yakin ia sudah mengerti kemana arah pembicaraanku sekarang.

“jadi?.” Tanyanya.

Aku mengangguk. “kita berhenti saja dulu.”

“tidak, bukan begitu.” Katanya.

“William mimpimu harus kamu capai, itulah artinya hidup.”

“aku makin tidak mengerti, aku..”

“aku tidak apa-apa kok, aku bukanlah wanita cengeng. Kumohon kamu harus mempertahankan sebagian dari hidupmu itu. Berjanjilah padaku.” William masih terhenyak, ia tidak menjawab pertanyaanku. “mulai sekarang kita akan menjadi teman.” Aku berdiri hendak meninggalkan William dengan perasaan campur aduk.

William menghentikanku, ia memegang tanganku. “musik itu memang sebagian dari hidupku, aku tidak bisa hidup tanpanya, tapi kamu juga bagian dari hidupku aku juga tidak dapat hidup tanpamu.”

“kumohon kamu pasti bisa perasaan seseorang mudah sekalil berubah.” Aku berbicara tanpa menoleh padanya. “aku mohon lepaskan aku, dengan begitu kamu bisa mempertahnkan salah satu bagian dari hidupmu. Kamu tidak boleh serakah menginginkan keduanya.” William melepaskan genggamanya dari tanganku, aku berjalan menjauhinya. Entah kenapa perasaanku saat ini terasa sangat sedih, seharusnya aku bergembira.

 

******

 

“hari ini William berangkat pergi ke Amerika, kenapa kamu malah lebih memilih menonton drama sekolah sih?.” Tanya Nay padaku. “kamu benar-benar tidak ingin mengantarkannya?.” Tanya Nay yang semakin terlihat kesal karena aku sama sekali tidak merespon pertanyaannya. “Rik, kamu dengar gak sih.”

“aku takut saat dia melihatku dia tidak sanggup pergi.” Nay terdiam mendengar pernyataanku.

“sebenarnya kamulah yang bodoh, kamu yang banyak menderita.” Kata Eli padaku. “kamu terus bersikap seolah kamu tegar dan bisa menangg semuanya sendirian, kamu bodoh.” Aku menatap Eli dengan berlinang air mata, air mataku tumpah.

“maaf, aku mencoba sebisaku.” Kataku padanya.

 

******

 

William terlihat enggan pergi. “William.” Panggil ibunya. “kita harus segera berangkat.”

“ibu aku mohon ijinkan aku naik pesawat yang kedua setelah ini.”

“William.” Bentak ibunya.

“aku berjanji akan menyusul, aku tidak akan membohongi ibu, jadi aku mohon.” William berusaha menyakinkan ibunya. “aku hanya ingin menemui seseorang dan menyakinkan diriku bahwa semua yang aku putuskan ini adalah benar.”

Ibunya terlihat mengerti, ia mengangguk. “ibu percaya padamu.” Kemudian meninggalkan William di bandara seorang diri.

 

******

 

Aku, Nay, dan Eli menonton pertunjukkan sekolah, William adalah penulis ceritanya. Kisah seorang gadis penari balet remaja yang sedang menikmati masa remajannya yang gemilang, mendapatkan apa yang ia mau. Namun sayang, kecelakaan membuatnya berhenti mengejar mimpinya. Aku tertegun, karena kisah ini adalah kisahku. Gadis itu yang dulunya ceria menjadi pemurung dan tidak memiliki semangat hidup. Tiba-tiba seorang pria daang ke kehidupannya menjanikan sebuah kebahagian kepadanya, gadis itu menyukainya dan mengiyakan ajakan pria tersebut. “bersamaku, aku akan membuatmu bahagia, aku akan selalu ada bersamamu kapanpun kamu mau.”

Aku tertegun, aku merasa seperti William yang mengatakan itu padaku, aku mulai menyadari betapa ia sangat mencintaiku. Aku berdiri. “aku akan pergi menemui William” kataku pada Nay dan Eli yang bingung.

Eli menjawabku. “William pasti sudah berangkat Rik, lagian dramnya belum habis.” Nay  mengangguk mengiyakan.

Aku menggelang. “aku harus pergi menemuinya.”

“Rik tunggu!.” Nay dan Eli mengejarku.

 

******

Penerbangan kedua ke Amerika sudah hampir tiba saatnya, William masih duduk menunggu kedatangan Erika. “aku hanya ingin melihat wajahmu untuk terakhir kalinya, aku  mohon datanglah.” Kata William pada dirinya sendiri.

William mondar-mandir di tempat tunggu. Sampai tiba waktunya untuk naik ke pesawat.

 

******

Aku dengan cepat berlari mencari sosok William dikerumunan orang yang berlalu lalang di bandara, tapi semakin aku mencarinya sosok William tetap tidak kutemukan. Tiba-tiba aku memperlambat langkahku. Aku tersenyum sambil menangis, aku telah menemukan sesosok yang aku cari daritadi. “Will.” Panggilku. Sosok itu menoleh kearahku dengan senyuman. Aku melangkahkan kakiku mendekatinya.

“aku tahu kamu akan datang.” Katanya.

“kamu kenapa belum pergi?.” Tanyaku.

“kalau kamu tahu, kenapa kamu masih mencariku?.” Tanyanya lagi.

“aku hanya berharap bisa melihatmu.”

William mengangguk. “aku juga.” Katanya. Pengumuman bahwa para penumpang pesawat harus segera naik menyadarkanku. “aku harus pergi.” Kata William.

Aku memegang tangannya. “jangan, jangan pergi!.” William seakan kaget dan menoleh padaku. Ia tersenyum lalu membelai kepalaku.

“kamu ini, kenapa cepat sekali berubahnya. Aku harus pergi, aku sudah berjanji pada ibuku, juga padamu.” Katanya seraya melepaskan tangannya yang tadi sempat mebelaiku, ia membelakangiku yang sedang menangis.

ending-nya seperti apa? Aku belum sempat melihatnya.” Tanyaku.

Sesaat William menghentikan langkahnya lalu menjawab tanpa menoleh. “mereka hidup bahagia dengan mimpi baru mereka.” William meninggalkanku, aku memandang punggungnya sampai sosoknya tidak dapat lagi terlihat olehku, aku terduduk lemas dikerumanan banyak orang. Aku tersenyum setidaknya akhirnya bagus kataku pada diriku sendiri. Nay dan Eli menghampiriku, mereka menyusulku dan terlihat khawatir dengan keadaanku. Aku tersenyum. “aku baik-baik saja, setidaknya aku melihatnya untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya ia pergi.” Kataku seraya tersenyum.

 

******

Seorang gadis muda sedang mengikuti seorang laki-laki yang tengah dikenalnya, ia ternyata satu sekolah dengan laki-laki yang memberikan cappucino hangat untuknya. Ia tersenyum senang memperhatikanya. Laki-laki itu menoleh dan melihat sekitar ternya tidak ada apa-apa, ia merasa diikuti dan sesekali menoleh kearah belakang. Gadis itu mencoba bersembunyi, saat ia mengintip lagi ternyata laki-laki yang sedari tadi diikutinya sudah menghilang, ia berada tepat dibelakangnya. Gadis itu kaget bukan main. “kenapa kamu mengikutiku terus daritadi?.” Tanyanya. Gadis itu hanya bisa minta maaf. Didalam hatinya ia menjawab tidak apa-apa kalau kamu lupa, aku akan menyukaimu terus. Tidak apa-apa kalau kita tidak bisa bersama, aku akan menyukaimu terus. Tidak apa-apa jika kamu menyukai gadis lain, karena aku akan menyukaimu terus tidak peduli apapun yang terjadi di dunia ini. Aku akan terus menyukaimu. Gadis itu tersenyum.

 

 

FINAL

 

Januari 5 tahun kemudian…

“benarkah aku diterima?.” Aku senang bukan main, orang itu mengangguk mengiyakan pertanyaanku. “terimakasih ya, aku sangat senang.” Aku pergi dari tempat itu dengan kegirangan, aku melamar pekerjaan sebagai guru menari balet. Aku memang tidak bisa menari lagi, tapi dengan sertifikat yang aku miliki aku bisa mendapatkan pekerjaan tersebut. Aku mengayun sepedaku dengan senang hati, aku ingin menraktie Nay dan Eli makan. Aku berhenti disuah jalan, melihat poster besar yang banya dipajang di jalan-jalan. Sosok diposter itu sepertinya aku kenali. Aku mendekat untuk melihat lebih jelas, benar saja itu poster pertunjukan besar. Pertunjukkan piano. Aku terhenyak sambil tersenyum, kau sudah meraih mimpimu sekarang, menjadi pianis yang keren. Aku mengayuhkan sepedaku lagi.

Aku menraktir Eli dan Nay makan, kami makan bertiga. “selamat ya, akhirnya kamu diterima juga.” Aku mengangguk senang. Nay melanjutkan perkataanya. “aku dengar William sudah kembali dari Amerika, apa dia sudah menghubungimu?.” Aku menggeleng. Mereka tampak kecewa.

“aku yakin dia sudah melupakanmu.” Kata Eli, Nay menyikutnya. “aww..” rintihnya. “sakit tahu.”

“habisnya kamu bicara sembarangan, mana mungkin William melupakan Erika.” Kata Nay.

“buktinya dia mengadakan konser besar, yang bahkan kita aja gak akan mau datang kesana. Kamu tahu berapa harga tiketnya?.”

“El.” Bentak Nay menghentikan perkataan Eli, Eli langsung bungkam seakan baru menyadari apa yang tadi diucapkannya.

“gak apa-apa Nay, perkataan Eli ada benarnya juga kok.” Jawabku sambil terseyum.

“ya udah deh kita ganti topik aja, kamu denger kabar tentang kak Riko?.” Tanya Nay padaku.

Aku menggeleng. “dia masuk rumah sakit jiwa, aku dengar dia mengalami depresi yang sangat berat. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri.” Kata Nay bercerita padaku panjang lebar. Aku sedikit kaget mendengar berita ini.

“aku akan mengunjungi makam Minji nanti kalau sempat.” Kataku pada mereka.

 

******

“Erika ada paket untukmu.” Ayah menyerahkan sebuah amplop untukku, aku menerimanya.

“terimaksaih ya yah.” Kataku pada ayah.

Aku mebuka paket itu, aku melihat sebuah undangan VIP untuk konser piano tunggal, aku terkejut karena pengirimnya William sendiri. Ada sebuah surat yang diselipkan.

Aku harap kamu datang, aku tidak memaksamu.

William.

 

Aku sedikit merasa lega karena setidaknya ia masih mengingatku. “aku pikir kamu sudah melupakanku dengan semua yang telah lama berlalu.”

******

Aku datang untuk menonton konser solo William. Aku duduk sesuai dengan nomor di tiket yang diberikannya. Ternyata kursi itu adalah kursi yang paling depan, aku sedikit enggan dan merasa sedikit tidak nyaman mendapatkan kursi VIP.

Setelah beberapa saat, acarapun dimulai. William keluar disambut oleh tepuk tangan dari penonton. Ia mengenakan tuxedo berwarna hitam. Ia tampak dewasa, sesaat aku seperti tidak mengenalinya. Ia membungkuk lalu memperkenalkan diri. Aku memperhatikannya. “hi, im William and i will give you a song, this song is story of my life. I also want to say thanks to peson who make me can reach my dream. Thank you.” William seolah menatapku, kemudian ia memainkan pianonya dengan  penuuh perasaan. Aku terhanyut, perasaan sedih datang dalam hatiku.

Aku tidak tahan lagi ingin menangis, aku pergi sebelum konser itu selesai, masih aku dengan nada-nada indah yang keluar dari piano William, aku terduduk di tangga tempat koser itu, air mataku jatuh. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selamanya menyukaimu, dan aku menepatinya.

 

******

 

Hari ini aku akan pergi ke pemakaman, tempat Minji di makamkan. Aku ingin pergi kesana karena sudah lama sekali aku tidak pergi, terakhir kali adalah waktu aku pulang dari bandara lima tahun yang lalu untuk melepaskan William. Aku mampir ketoko bunga unutk membeli sebuah rangkaian bunga mawar putih.

Aku jalan perlahan. “Minji aku datang, apa kau rindu padaku?. Aku sangat rindu padamu.” Kataku seraya tersenyum. “maafkan aku, di usiamu yang masih begitu muda kamu harus pergi. Aku berharap kamu senang disana. Apa kamu tahu William telah berhasil mengapai mimpinya. Ia jadi pianis yang hebat sekarang, kemarin aku datang ke konsernya, tapi sayang sekali aku tidak bisa menemuinya karena aku…”

“karena kamu tiba-tiba menghilang sebelum konser itu selesai.” Suara di belakangku seperti tidak asing lagi buatku, aku menoleh sesaat terkaget dengan sosok yang begitu amat akku rindukan. “kenapa kamu lari?.” Tanyanya sambil tersenyum.

Aku menggeleng. “aku tidak lari.”

“kalau begitu apa namanya?.” Katanya lagi.

Aku bingung harus bagaimana menjelaskannya, aku tahu Willian benar aku lari darinya. “maaf.”

“kenapa harus meminta maaf?.” William memandangiku. Ia mendekat, lalu memelukku. “aku tahu kamu disini. Aku merindukanmu.”

“aku membalas pelukannya. “terimakasih.”

 

******

 

Laki-laki kecil yang sedaritadi diikuti gadis itu tersenyum. “aku tahu kamu masih mengingatku.” Ia meminum cappucinonya.

 

 

end

3 thoughts on “[Cerpen] One Hundred I Love You part 16-End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s