cerpen

[Cerpen] One Hundred % I Love You Part 7, 8, 9, dan 10

Day 7

 

“apa?????.” Teriak Nay dan Eli berbarengan. “aku shock, kamu hebat banget.” Kata Nay berdecak kagum, mengomentari kejadian kemarin malam yang aku ceritakan pada mereka berdua.

“jangan keras-keras dong, aku malu nih.” Kataku sambil menutupi wajahku sendiri menggunakan kedua tanganku.

“kenapa harus malu, seharusnya kamu senang.” Kata Nay lagi, Eli hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

Kami menuju ke kelas balet, karena akan ada kompetisi jadi aku harus besusah payah latihan balet. Tidak sengaj a kami bertemu dengan William dipersimpangan jalan aku tersenyum dan melampaikan tanganku menyapanya, tapi William malah terus jalan tanpa ekspresi sama sekali.

“ada apa dengannya?.” Aku menggelengkan kepalaku menjawab pertanyaan dari Eli. “keliatannya dia sedang ada masalah.” Lanjutnya.

“huh, sudahlah. Dia memang tidak bisa ditebak.” Aku hanya bisa menggelengkan kepala. “aku masuk kelas dulu ya.” Pamitku pada mereka berdua yang langsung meninggalkanku menuju ke kelas mereka masing-masing.

Aku masuk ke kelasku. Aku tidak bisa menemukan Minji, sepertinya dia tidak masuk lagi hanya ada 3 sekawan itu saja yang bisa aku temukan. Aku mengganti pakaianku dengan baju balet. Minji tidak masuk, William juga bersikap aneh. Sepertinya terjadi sesuatu diantara mereka. Aku latihan sampai sore, karena hari ini aku tidak ada pertemuan dengan William.

“kamu bekerja sangat keras ya, apa kamu benar-benar ingin menang?.” Kata kak Riko terhadapku.

“sejak kapan kakak ada disitu?.” Tanyaku sambil memberikan senyuman kepadanya.

“sudah tadi lagi, gimana latihannya?.”

“eh, aku gak yakin deh kak.” Kataku malu-malu.

“kamu cukup bagus kok.” Katanya tersenyum ramah padaku.

thanks, kakak gak pulang?.” Tanyaku keheranan.

Dia menggeleng. “aku nunggu kamu pulang.” Jawabnya.

“maksutnya?.” Tanyaku tidak mengerti.

“ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu, jadi aku mau pulang sama kamu.” Jawabnya panjang lebar, semakin membuatku bingung.

“eh, gitu ya. Penting banget ya kak?. Apa aku ada salah?.” Tanyaku.

Kak Riko tersenyum. “banyak banget salahmu sama aku.” Aku kaget dengan wajah yang masih sangat heran.

“salah?.”

Kak Riko mendekat, ia mengangguk. “ia, kamu salah sama aku. Kamu buat aku jadi linglung. Aku mikirin kamu setiap hari. Kamu udah ngebuat aku sakit. Jantungku berdegup kencang tiap disebelahmu. Aku suka sama kamu.”

*****

“kamu maukan jadi pacarku?.” Kata-kata dari kak Riko masih terngiang jelas didalam otakku. Aku menggeleng, apa ini mimpi? Ada orang yang suka padaku?. Entah mengapa wajah William malah yang mucul didalam benakku. Aku jadi ingat lagi wajahnya yang aku temui 5 tahun yang lalu. Aku merindukan rasa hangat debaran jantungku itu, meski aku waktu itu masih berumur 12 tahun. Aku menggelengkan kepalaku sekali lagi. Kenapa yang aku pikirkan orang yang tidak pernah menganggapku ada? Apa aku ini sangat menyedihkan? Besok saat aku bertemu dengan kak Riko aku mau jawab apa?.

******

“ibu?.” Aku menangis ditengah malam yang dingin. “ibu.” Panggilku sekali lagi sambil terisak. “apa ibu tidak sayang padaku lagi?.”

Ibu tersenyum dan menggeleng. “tidak ada yang bisa ibu lakukan.” Jawabnya, tiba-tiba sosoknya menghilang dari pandanganku. Tangisku makin menjadi-jadi. Aku menjerit sekuat tenaga memanggil namanya, tapi ia tidak akan muncul lagi. Aku berlari menyusuri hutan gelap. Seberapapun banyak aku terjatuh, sebanyak itu pula aku berdiri. Aku berlari sekuat tenaga. Aku menemukannya, laki-laki 5 tahun yang lalu itu. Iya mengangkat wajahnya dan tersenyum padaku sambil berkata “berhentilah, kamu terlihat capek.”

Bayangannya berubah menjadi ibuku yang sedang berpelukan dengan anak-anaknya, aku menjerit “kau sudah janji padaku, tapi kau mengingkarinya, jangan pernah menampakkan wajahmu lagi dihadapanku!.”

******

Aku terisak, aku terbangun dari mimpi burukku. Ayah menghampiriku. “apa kamu baik-baik saja?.”

Aku mengangguk, kemudian tersenyum. “iya aku gak apa-apa kok.”

Ayah mengusap-usap punggungku sambil berkata “itu Cuma mimpi buruk.” Tanpa bertanya aku mimpi apa.

Ayah bangkit berdiri mau meninggalkanku. “ayah.”

Ayah menoleh padaku. “ada apa?.” Tanyanya.

“apa ayah menyesal mengenal ibu?.” Tanyaku ragu.

Ayah tersenyum. “tidak.” Ia menggeleng.

“kenapa? Bukankah ibu yang mengkhianati ayah?.” Tanyaku sekali lagi.

“karena dengan mengenal ibumu, ayah jadi memilikimu.” Ia tersenyum lembut kearahku. “apa kamu merindukannya?.”

Aku dengan ragu menggeleng. “tidak, aku tidak membutuhkannya.” Jawabku.

“tapi bagaimanapunn dia tetap ibumu.” Jawabnya sambil menutup pintu kamarku.

Aku menarik nafas dalam-dalam, aku mulai menggigil. Sakit hatiku tidak akan pernah terobati dengan apapun juga. Aku membencinya, tapi aku tahu dari lubuk hatiku yang paling dalam bahwa aku merindukannnya. Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Aku tidak bisa tidur. Banyak sekali yang aku pikirkan apalagi aku harus menjawab kak Riko.

 

 

 

Day 8

 

Aku mendongak ke langit. Langit dipenuhi awan yang cerah. Aku tersenyum, Nay dan Eli menghampiriku. “pagi.” Sambut mereka. “kenapa pagi-pagi sudah datang?.” Tanya Nay.

“aku ada pertemuan sama Will.” Jawabku sambil tersenyum.

“eh wajahmu pucat.” Kata Nay, Eli jadi khawatir juga.

“aku gak apa-apa kok, aku hanya kurang tidur semalam aku mendapatkan mimpi buruk. Jawabku sambil tersenyum mencoba untuk menutupi keadaanku agar mereka tidak khawatir.

“tapi kamu bener-bener kelihatan kurang sehat deh.”

“enggak kok, nanti sehabis makan aku juga akan baikkan.”

“kamu serius?.” Tanya Eli.

Aku mengangguk. “ya udah deh, aku masuk duluan ya.”

Aku memasuki ruang piano itu, tapi aku tidak menemuka sosok William. Dia mengagetkanku dengan berdiri dibelakangku. Aku menyapanya. “bagaimana hasilnya?. Sudah sampai mana?.” Tanyaku padanya.

“kenapa wajahmu?.” Dia tidak menjawab pertanyaanku.

Aku memegang wajahkku. “kenapa memangnya ada yang salah dengan wajahku?.” Tanyaku khawatir.

Dia tertawa mengejek. “kamu tetap jelek kayak dulu. So ugly.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya.

“menyebalkan.” Seruku.

Aku mulai dengan memperagakan balet yang penuh perasaan. Tiba-tiba saja aku terhuyung, aku hampir terjatuh. William menangkapku. “are you okay?.” Tanyanya terlihat khawatir. Hidungku mengeluarkan darah. “don’t touch!.” Katanya.

******

Aku bersandar dibahu William, kami duduk dan berdiam diri. Aku tidak sanggup bahkan hanya untuk bicara sepatah kata padanya. Aku hanya bisa memandanginya.

Aku tidak tahu seberapa lama aku tertidur dipundaknya. Aku terjaga. “kamu udah bangun?.” William menyentuh dahiku mencocokkan dengan suhu didahinya.

“aku udah baikkan kok.” Aku tesenyum.

“baguslah.” Katanya. “kamu pulang aja dulu, take a rest.”

“terimakasih.”

“buat apa? Buat ini? Gak apa-apa lagi.”

“5 tahun yang lalu. Seorang anak kecil membawakan cappucino hangat untukku. Aku belum sempat mengucapkkan terimakasih kepadanya.” Aku tertawa. “sekarang aku mau mengatakannya dan bilang padanya terimakasih sudah membuat jantungku berdebar.” Aku menoleh pada William yang tampak bingung. Apa dia sudah lupa?. “kamu sudah lupa ya?.” Aku mengambil kesimpulan setelah memperhatikan wajahnya. “gak apa-apa kok, aku Cuma mau bilang kalau dari kejadian itu sampai sekarang aku menyukaimu.” Akuku.

William menoleh kepadaku. “i’m not that child again.” Kalimatnya menusuk jantungku.

“oh begitu ya.” Jawabku.

so don’t like me.” Katanya.

“aku…” pita suaraku terasa tersendat, mataku berlinang. Aku berdiri ditengah memaksa, William hanya bisa menatapku. “aku hanya mau mengucapkan itu saja kok, aku lega akhirnya bisa mengucapkannya. Meski akhirnya begini, tapi begini saja sudah cukup daripada aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan.” Aku mulai melangkah mundur. “thank you.” Aku berlari keluar ruangan itu. Aku sempat melihat William berdiri, mungkin karena khawatir aku pinsan. Aku menangis sambil berlari dengan mengumpulkan seluruh tenagaku. Pada akhirnya seperti inikah kisah cintaku?.

******

“itu terlalu kejam untuk cinderella.” Kata Minji yang tiba-tiba muncul mendekati William.

“sejak kapan kamu menguping?.” Tanya William yang masih berdiri tidak bergerak.

“bukankah kamu terlalu kejam untuk menolak seseorang yang udah 5 tahun menyukaimu secara diam-diam?.” Minji bertanya dengan sinis.

it’s not your problem.” Kata William.

Minji mencegah William pergi, ia memegang tangannya. “kamu menyesal?.”

William menatap Minji dengan sinis. “lepas!. Menyesal atau tidak menyesal toh itu juga bukan urusanmu.” William meninggalkan Minji yang masih diliputi dengan amarah. “ingatlah kamu yang memintaku putus waktu itu.”

******

Air mataku terus mengalir tiada henti. “berakhir sudah.” Akhirnya aku mengatakannya dan dia seperti tidak merasakan apapun. Aku menangis sejadi-jadinya.

“Minji, kamu kenapa?. Kamu baik-baik saja?.” Kak Riko menghampiriku.

Aku menggeleng. “aku sangat tidak baik kak.” Jawabku sambil terus menangis.

Kak Riko mendekapku sambil mengusap-usap punggungku. “kamu akan baik-baik saja, masalahmu akan segera berlalu.”

******

William berjalan tanpa arah tujuan. “aku juga ingin mengatakan kalau aku sudah menemukanmu. Aku berharap bisa mengenalmu lebih lagi, tapi hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu. Aku menyakitimu. Asal kamu tahu, I never forget it, when i saw you.” William terhenti, ia melihat Riko memeluk Erika dan mood-nya berubah menjadi sangat buruk seketika. “kamu barusan aja nyatain cinta sama aku, lalu sedetik kemudian berpelukan dengan pria lain.”

******

Aku melangkahkan kakiku keluar dari ruang balet. “aku ingin bicara.” Ajak Minji.

Aku mengikutinya. “mau bicara apa?. Langsung aja.”

“aku gak suka kamu ngedeketin Willi.” Minji dengan seenaknya mengatakan hal yang tidak sopan bagiku.

“maksutmu apa sih.” Aku mulai meninggikan suaraku.

“jangan berlagak bodoh deh. Bukannya kamu suka sama dia, aku ingin kamu gak mengganggunya. Dia itu sebenernya risih dekat kamu.”

“oh jadi gitu maksutmu, lucu ya.” Aku tersenyum.

“apanya yang lucu?.” Sentaknya dengan pennuh emosi.

“kamu, dia aja gak bilang gitu. Jadi sekarng kamu bisa baca pikiran orang?.”

Minji mulai marah dan mengangkat tangannya, aku tahu dia mau menamparku, tapi aku terlalu lelah untuk menangkisnya. Tiba-tiba seseorng memegang tangannya. “what are you doing?.” Tanya William sambil melepaskan pegangannya pada tangan Minji.

“Will?.” Kata Minji.

“kita sudah berakhirkan.” William menatap Minji dengan penuh arti.

Aku kaget dengan ucapan dari William. “pergilah!.” Suruhnya padaku. Aku sejenak menatapnya. Kemudian aku memutuskan untuk pergi, meninggalkan mereka berdua. Sayup-sayup dari kejauhan aku mendengarkan bentakan Minji yang dia tujukan pada William. Aku jadi bertanya-tanya kenapa aku tidak diperbolehkan menyukainya, padahal mereka berdua sudah putus hubungan.

******

 

“kamu sudah puas?.” Tanya William pada Minji.

“ayo kita bertaruh.”

“bertaruh?.” Tanya William menegaskan.

Minji mengangguk. “kalo aku menang kompetisi balet minggu depan maka kita akan kembali.”

“kamu pikir ini sebuah lelucon?. Kamu bisa seenaknya memutuskan hubungan ini dan meminta kembali?.” Tanya William dengan meninggikan suaranya.

“karena aku tahu kamu pasti mau, aku akan pergi.”

William menahan tangan Minji, dia memeluknya. Kemudian melepaskannya. “don’t do this again. It’s makes me confused.” Minji membelai pipi William.

i can do that, trust me.” Minji pergi meninggalkan William.

i also love another girl.” Kata dari William menahan langkah Minji, dia menoleh kearah William. William tersenyum. “that girl, i saw her 5 years ago, and i cannot forget her smile.”

Minji shock dan menoleh pada William. “kamu suka padanya? Sejak kapan?.”

“entahlah mungkin sejak aku menemukannya.” Katanya tersenyum.

Minji mendekati William lagi. “itu bukan cinta, trust me, i can to be a winner.”

yes i know, you are the winner.”

 

 

Day 9

 

“satu, dua, tiga, satu, dua, tiga.” Guru gila berkacamata ini mengajari kami lagi dengan sangat teliti. “Erika, hentakanmu kurang kuat.” Aku hanya bisa mengangguk dan mengulangi gerakanku sekali lagi.

Kelas-pun akhirnya bubar, aku tinggal sedikit lebih lama daripada mereka. Aku ingin menang. “Rika.” Panggil kak Riko. Aku jadi ingat aku sudah berjanji padanya. “bisakan kita bicara?.” Aku mengangguk.

Kami berbicara berdua di taman sekolah. “kamu gak lupa kan?.” Kak Riko memulai pembicaraan.

Aku menggeleng. “maaf.” Kataku lirih.

“maksutnya?.” Kak Riko sepertinya sudah bisa menebak kemana arah pembicaraanku.

“aku gak terlalu egois mau menerima kakak tapi hatiku ada di tempat lain.” Sambungku.

“di tempat lain?.” Tanyanya.

“maaf kak, aku sudah menunggu orang lain selama 5 tahun.” Aku berdiri sedikit membungkuk. “aku harus kembalilatihan.

Kak Riko hanya bisa menatap kepergianku. Maafkan aku, aku tahu bagaimana rasanya tidak diterima. Tapi, aku gak ingin jadi orang egois.

Angin behembus kencang seakan menusuk hatiku. Rumput-rumput sekarang sedang tertawa mengejekku. Sekarang sudah ada 2 orang lagi yang menderita karena cinta. Betapa tidak adilnya dunia ini. Muungkin dunia sedang bersandiwara sekarang.

******

Aku meneruskan latihanku yang sempat tertunda. Aku masih membayangkan William. Sosoknya tidak akan pernah terlupakan untukku, tapi tiba-tiba aku harus melupakannya demi kebaikanku. Hal yang paling membuatku sakit.

you work so hard.” Komentar William yang tiba-tiba menghampiriku seraya memberikan sebagian naskah yang sudah jadi padaku untuk membacanya. “just need one week to do it.” Katanya sambil tersenyum sombong, bersikap seperti biasa seolah kemarin tidak terjadi apa-apa diantara kita.

Aku membukanya dan juga berpura-pura bahwa tidak terjadi apapun diantara kami. “good.” Komentarku singkat, aku merasakan kecanggungan diantara kami. “aku sudah selesai latihan dan aku mau pergi.” Pamitku.

i hope you win.”

Aku menoleh. “why?.” Aku sedikit tersenyum. “seharusnya kamu mendukung Minji.” Kataku lirih.

okay, i must go. Goodbye.” Katanya tidak menjawab pertanyaanku.

******

“sepertinya kamu bekerja cukup keras, apakah kamu memang benar-benar ingin menang?.” Tanya Nay.

Aku mengangguk mantap. “gengsimu itukah yang membuatmu ingin sekali menang?.” Giliran Eli yang bertanya padaku.

Aku menoleh. “aku berjanji pada diriku sendiri jika aku menang aku akan melupakannya dan aku akan fokus pada latihanku.”

“jika kamu kalah?.” Tanya Nay.

“entahlah aku bingung, sangat susah melupakan seseorang yang telah mengisi hari-harimu selama 5 tahun.” Akuku.

“mulai sekarang berusahalah untuk melupakannya.” Eli mulai menghiburku dengan sarannya.

“tentu, aku tidak membutuhkan dia lagi.” Aku tersenyum memaksakan diri.

******

Aku pegi ke toko buku tempat ibuku bekerja, tapi aku tidak menemukannya. “apakah wanita yang biasanya bekerja disini sedang tidak masuk?.” Aku bertanya pada penjaga yang sepertinya sedang menggantikan ibuku.

“oh maksudmu Bu Fele?. Dia masuk rumah sakit kemarin malam.” Jawabnya singkat.

Aku panik, seketika aku merasa sekujur tubuhku hilang entah kemana. “masuk rumah sakit?. Memangnya dia sakit apa?.”

“mana aku tahu.” Jawabnya acuh. “aku hanya menggantikan dia sementara disini.

“oh begitu ya, ya baiklah. Terimakasih. “ pamitku pergi. Aku berjalan dengan pandangan kosong. Ibu aku Cuma mau bilang bahwa aku akan lomba balet. Aku harap aku bisa menang. Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan meninggalkanku sebelum kita saling bertemu. Kau masih berhutang banyak padaku.

******

 

Hari demi hari berlalu, aku berusaha keras untuk memenagkan kompetisi itu. Aku mulai jarang bertemu dengan William, meskipun sesekali aku masih bertemu dengannya. Tapi aku sangat fokus pada latihanku. Aku benar-benar ingin menang.

 

 

Day 10

 

Hari ini adalah hari kompetisi balet. Aku mempersiapkan kostum dan tema yang akan aku tampilkan nanti. Aku mendongak keatas langit. Langit cerah berwarna biru, aku mohon semoga hari ini hari keberuntunganku.

Satu persatu kontestan menunjukkan bakat mereka. Aku tahu usahaku sudah maksimal, jika boleh memilih aku mau jadi juara pertama. Tapi, masuk 3 besar sudah sangat menyenangkan untukku. Eli dan Nay datang menyemangatiku, mereka duduk dibangku paling depan. Aku yakin aku akan menang kemudian belajar ke Italia. Berat rasanya, aku sangat berat meninggalkan ayah seorang diri.

Aku memasuki ruang tunggu sebentar lagi setelah penampilan Minji yang memukau aku akan tampil. “Rik.” William tiba-tiba saja memanggilku.

“ada apa?.” Aku bingung, kenapa disaat aku mau tampil dia mau berbicara padaku. Dia membisikkan sesuatu ditelingaku. Berbarengan dengan tepuk tangan ppenonton tanda selesainya penampilan Minji.

“silakan sambut peserta nomor 10 kita, Erika .” aku menoleh pada William, ia tersenyum meninggalkanku.

Aku mengatur nafasku yang sedikit tersengal. Aku maju dan mengucapkan beberapa kata. “hari ini adalah hari spesial dalam hidupku, ayah aku bangga memilikimu, ibu terimakasih sudah melahirkanku di dunia ini.” Lagupun dimulai, aku menari mengikuti alunannya. Aku terbawa suasana. Entahlah aku telah menangis tanpa sengaja. Aku berputar mengikuti alulan musiknya yang lembut. Terimakasih ibu.

******

Di sebuah rumah sakit, sesosok wanita paruh baya sedang mengamati dirinya dari kaca, entah apa yang membuatnya menitikkan air mata. Ia bergumam pada dirinya sendiri. “maaf telah mengecewakanmu.” Seorang perawat datang menghampirinya, menanyakan keadaannya. Ia memberikan sebuah kertas beramplop biru muda padaperawat itu. Perawat itu tampak sedih seakan-akan mengetahui maksud tersembunyi dari wanita paruh baya tersebut. “terimakasih.” Katanya sambil sesekali batuk.

******

Guratan-guratan masa lalu itu terulang kembali, kenangan demi kenangan berputar jelas diotakku.  “after this i wanna tell you something important.” Aku mengingat kembali bisikan William yang ia katakan padaku sebelum aku naik panggung. Aku berhenti tepat saat musik yang diputar selesai. Tepuk tangan meriah dari penonton membuatku sedikit lega. Aku sudah menyelesaikannya dengan baik. Aku membungkuk berterimakasih kepada penonton.

Aku kembali turun dari panggung. “tidak begitu buruk.” Minji mengomentari penampilanku.

“terimakasih.”

“kau suka itu?. Jelas sekali kau ingin jadi sepertiku dari dulu. Sekarang kau malah ingin melebihiku.” Minji tersenyum meledekku. “apa kau ingat waktu pertama kali kita saling mengenal, apa kau sudah lupa?.” Aku menoleh pada Minji.

“mana mungkin aku melupakannya.” Jawabku tersenyum getir. “karenamu aku bisa menjadi seperti ini.”

“baguslah, artinya kau sadar.” Ia meninggalkanku yang diam mematung.

******

Ingatan itu mulang terulang kembali, aku masih ingat jelas kejadian itu. Aku mengikuti Minji kemanapun ia pergi. Minji berkeluh kesah karena terus mengikutinya. Ia menoleh padaku. “siapa kau?. Kenapa kau terus mengikutiku?.”

Sambil tersenyum aku menjawabnya. “aku anak kelas seni, aku ingin menjadi balerina, kamu main sangat baik.” Aku tersenyum padanya.

            “kamu ingin menjadi sepertiku?. Begitu?.” Tanyanya heran.

            Aku mengangguk. “aku akan pindah ke kelas balet.” Aku berlari pulang, membujuk ayahku untuk memindahkan aku ke kelas balet. Akhirnya ayah menyetujui dan memindahkan aku ke kelas balet.

            Aku berlatih bersama Minji, tetapi dia terus-menerus memarahiku. Akhirnya dia menyuruhku membelikannya minuman. Aku menuruti segala yang ia perintahkan padaku.

            Aku sampai di ruang latihan, aku mendengar beberapa orang sedang berbicara dengan Minji. “mana mungkin gadis seperti dia meniruku. Dia tidak level denganku. Gayanya saja sangat jelek.” Aku mendengar tanpa sengaja Minji menghinaku.

            “benar sebaiknya kau marahi dia, dia terus menempel padamu seperti perangko. Menjijikkan.”

            “dia memang menyebalkan, tapi sangat bermanfaat.” Kata Minji lagi.

            Aku naik pitam, aku langsung menyiram wajahnya dengan minuman yang sedang aku pegang, semuanya terkejut. “apa-apaan kau!.” Minji berteriak membentakku.

            “impaskan. Aku tidak akan lagi ingin menjadi sepertimu. Aku akan melebihimu.” Aku pergi meninggalkan mereka. Aku mendengar jerit histeris dari Minji. Aku tahu mulai saat itu aku bekerja cukup keras, aku harap saat ini adalah saat yang tepat untuk menetapi janjiku.

******

Pengumuman pemenang akan segera dibacakan. Aku benar-benar tidak sabar menunggu. Jantungku berdebar. Aku duduk menunggu hasilnya bersama dengan Nay dan Eli, aku tidak melihat William dan kak Riko. Aku kaget dengan hasil pengumuman, aku dinyatakan sebagai pemenang dan berhak menerima beasiswa di Italia. Suatu saat nanti kamu pasti akan berhasil. Kata-kata ayah terngiang dalam pikiranku. Nay dan Eli menyelamatiku, aku maju ke panggung dan mengucapkan terimakasih banyak kepada semua orang yang telah mendukungku, sejenak aku menoleh ke arah Minji berada, wajahnya tampak sangat marah. Ia langsung pergi meninggalkan ruangan.

Aku sangat bahagia tiada kata-kata yang sanggup untuk mengutarakannya, anak-anak semua satu persatu mengucapkan selamat padaku. Aku mencari William, meninggalkan keraminan. Aku penasaran apa yang ingin dia katakan padaku, tapi tiba-tiba saat aku berhenti didekat sebuah tangga ada sesuatu yang mendorongku, aku terpontang-panting sebelum akhirnya tidak dapat merasakan sesuatu. Pandanganku mulai kabur dan aku kehilangan kesadaran saat itu juga.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s